Masjid Al-Khoir

Februari 18, 2011

AT-THUFAIL BIN AMR AD-DAUSI

Filed under: Sahabat Nabi — masjidalkhoir @ 10:33 pm

“Ya Allah turunkanlah satu ayat untuknya agar dapat membantunya untuk setiap kebaikan yang dia niatkan.”(salah satu doa Rasulullah ` kepada Thufail)

 

Thufail bin Amr ad-Dausi adalah salah seorang pemuka suku ad-Daus pada masa jahiliyyah. Dia juga termasuk salah seorang tokoh di kalangan penduduk arab yang mempunyai derajat yang tinggi. Thufail merupakan salah seorang di antara orang sekian banyak orang yang mempunyai keindahan akhlak.

Bejana miliknya tidak pernah diangkat dari api, pintunya tidak pernah tertutup bagi siapapun yang mengetuk pintu rumahnya. Sa’id selalu  memberi makan orang-orang yang lapar, memberikan keamanan bagi orang yang sedang dilanda ketakukan dan memberikan tempat tinggal bagi orang yang membutuhkannya.

Thufail bin Amir adalah ahli sastra yang sangat cerdas dan pandai; salah seorang ahli syair yang dapat menajamkan perasaan. Perasaannya sangat lembut, sangat mengetahui kata-kata yang manis dan kata-kata yang pedas. Thufail sangat mengetahui kata-kata yang bisa menarik perhatian.

Thufail meninggalkan perkampungannya di Tihamah[1] menuju Makkah. Pada waktu itu terjadi pertikaian antara nabi Muhammad ` dengan orang-orang Kafir Quraisy. Masing-masing dari mereka mencari orang yang dapat menolongnya. Mereka juga saling mencari orang-orang yang dapat membantu kelompok mereka. Adapun Rasulullah ` selalu meminta pertolongan kepada Allah l,, , sedangkan senjatanya adalah kebenaran dan keimanan. Sedangkan orang-orang kafir Quraisy  memerangi dakwah Rasulullah ` dengan berbagai senjata yang ada dan menghalang-halangi manusia dari dakwahnya dengan segala cara.

Thufail menyadari bahwa dirinya masuk ke dalam peperangan tersebut dengan tanpa persiapan. Dia masuk ke dalam peperangan tersebut dengan tanpa tujuan yang jelas.

Thufail  pergi ke Makkah tidak bermaksud untuk mengikuti peperangan tersebut. Tidak pernah sedikitpun terlintas dalam pikirannya masalah orang-orang Quraisy dengan nabi Muhammad.

Dari peperangan inilah terdapat sejarah tentang Thufail bin Amr yang tidak pernah terlupakan. Marilah kita simak kisah-kisahnya,  karena ini merupakan sebuah kisah yang sangat menarik. Thufail bercerita,

Aku pergi menuju Makkah, sesampainya di Makkah para pembesar Quraisy segera mendekatiku dan menyambutku dengan sambutan yang sangat hangat. Mereka mengajakku untuk singgah di rumah orang yang paling mulia di antara mereka.

Para pembesar dan pemuka Quraisy berkumpul padaku dan berkata, “Wahai Thufail, sungguh engkau sudah mendatangi negeri kami. Perlu kamu ketahui bahwa orang yang mengaku nabi tersebut sudah merusak urusan dan memecah belah hubungan kami serta menceraiberaikan persatuan kami. Sesungguhnya kami sangat khawatir jika Muhammad masuk ke dalam negerimu dan memecah belah para pemuka negerimu sebagaimana yang terjadi pada kami. Janganlah engkau mendengarkan perkataan orang tersebut (Muhammad), karena perkataanya sangat memikat laksana sihir. Muhammad akan memisahkan antara seorang anak dan ayahnya, antara satu saudara dengan saudara lainnya, dan antara suami dengan istrinya.”

Thufail berkata, “Demi Allah orang-orang Quraisy selalu menceritakan kepadaku kisah-kisah yang aneh tentang nabi Muhammad. Mereka menakut-nakutiku dan kaumku dengan perilaku Muhammad yang aneh, hingga aku bertekad untuk tidak mendekati Muhammad, mengajak berbicara maupun mendengar perkataannya. Dan ketika aku pergi ke masjid untuk thawaf di Ka’bah dan  meminta berkah kepada semua berhala yang ada di sana, aku menutupi kedua telingaku dengan kapas agar aku tidak mendengar sedikitpun perkataan Muhammad.

Akan tetapi ketika aku masuk ke dalam masjid, aku mendapati Rasulullah `,, sedang melakukan shalat yang berbeda dengan shalat kami dan melakukan peribadatan di Ka’bah yang berbeda dengan peribadatan kami. Lalu tanpa sadar aku mendekatinya sedikit demi sedikit.

Dan ternyata Allah berkehendak lain. Sebagian perkataan Muhammad sampai di telingaku. Aku mendengarkannya dan ternyata perkataan itu sangat indah sekali. Aku berkata dalam diriku, “Wahai Thufail celaka kamu, sungguh engkau adalah ahli sastra yang sangat pandai sekali. Engkau mampu  membedakan kebaikan dan kejelekan. Lalu apa yang menghalangimu untuk mendengarkan apa yang dikatakan laki-laki (Muhammad) itu? Jika yang dia katakan adalah baik, maka aku akan menerimanya. Dan apabila yang dia katakan adalah jelek, maka aku akan  meninggalkannya.

Thufail melanjutkan ceritanya,

Lalu aku tetap tinggal di tempat tersebut hingga Rasulullah pulang ke rumahnya. Dari belakang aku mengikuti Rasulullah. Dan ketika beliau masuk ke dalam rumahnya, aku juga turut masuk. Aku berkata, “Wahai Muhammad, sesungguhnya semua kaummu berkata kepadaku bahwa kamu adalah begini dan begitu. Demi Allah, mereka selalu menakut-nakutiku hingga aku menyumpalkan kapas ke dalam kedua telingaku agar aku tidak mendengar perkataanmu. Namun Allah menghendaki aku mendengar sedikit perkataanmu. Aku dapati perkataanmu sangat indah. Sampaikan kepadaku tentang urusanmu.”

Lalu Muhammad menjelaskan masalahnya kepadaku dan membacakan surat al-Ihlas dan al-Falaq kepadaku. Demi Allah aku tidak pernah mendengar perkataan yang lebih baik dari perkataan tersebut. Aku belum masalah yang lebih  adil dari urusan Muhammad.

Seketika itu juga aku membentangkan kedua tanganku dan aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah  melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Lalu aku masuk Islam.

****

Aku tinggal di Makkah beberapa saat. Aku belajar agama Islam dan menghafal beberapa ayat yang mudah aku hafal. Dan ketika aku berniat kembali menemui kaumku aku berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh aku adalah orang yang sangat ditaati oleh kaumku. Aku akan pulang menemui mereka dan menyeru mereka agar masuk ke dalam Islam. Berdoalah kepada Allah agar memberikan tanda kepadaku yang membantuku untuk menyeru mereka ke dalam Islam.” Lalu Rasulullah `, berdoa, “Ya Allah berikanlah tanda padanya.”

Lalu aku pergi menemui kaumku. Dan ketika aku berada di sebuah tempat yang mulia di rumah mereka, terdapat cahaya yang berada di antara kedua mataku. Cahaya itu seperti cahaya lampu. Aku berdoa, “Ya Allah janganlah engkau meletakkan cahaya itu di antara kedua mataku. Aku takut jika mereka mengira bahwa tanda itu adalah siksa karena aku meninggalkan agama mereka.

Akhirnya cahaya itu berpindah ke ujung cemetiku. Semua manusia menyaksikan cahaya itu. Seakan-akan cahaya tersebut adalah sapu tangan yang tergantung di ujung cemetikul. Lalu aku turun menemui mereka dari bukit. Ketika aku turun dari bukit ayahku menemuiku. Ayahkan adalah orang yang sudah sangat tua renta. Aku berkata, “Menyingkirlah engkau dariku wahai ayahku, karena saat ini aku bukanlah pemeluk agamamu dan bukanlah engkau  pemeluk agamaku.” Ayahku bertanya, “Mengapa bisa begitu wahai anakku?” Aku menjawab, “Aku sudah masuk ke dalam agama Muhammad `.

Ayahku menjawab, “Wahai anakku, agamaku adalah agamamu.” Aku bertanya, “Mandilah engkau wahai ayahku kemudian dan sucikanlah pakaianmu. Setelah itu datanglah kepadaku. Aku akan mengajarimu apa yang sudah diajarkan kepadaku.”

Kemudian ayahku pergi dan mandi. Setelah itu ayahku datang padaku. Lalu aku menawarkan Islam padanya. Akhirnya ayahku masuk ke dalam agama Islam.

Setelah itu datanglah istriku. Aku berkata, “Menyingkirlah engkau dariku wahai istriku, karena saat ini aku bukanlah pemeluk agamamu dan bukanlah engkau pemeluk agamaku.” Istriku bertanya, “Demi ayah dan ibuku, ada apa denganmu?” Aku menjawab, “Agama Islam telah memisahkan antara diriku dan dirimu. Aku telah menganut agama nabi Muhammad.” Istriku menjawab, “Agamaku adalah agamamu juga.” Lalu aku berkata, “Pergilah dan bersucilah dengan menggunakan air Dzis Syara. Dzi Syara adalah nama sebuah patung milik kabilah Daus. Di sekelilingnya terdapat air yang mengalir dari gunung. Lalu istriku berkata, “Demi ayah dan ibuku, tidakkah engkau sedikitpun takut pada  Dzi Syara jika berbuat sesuatu kepada perempuan?” Aku berkata, “Demi Dzat Yang memiliki Dzi Syaro, celakalah kamu,,, aku perintahkan kepadamu, pergilah dan mandilah di tempat yang jauh dari manusia. Aku yang akan menjaminmu bahwa batu yang tidak berdaya itu tidak akan berbuat sedikitpun kepadamu.”

Akhirnya istriku pergi dan bersuci lalu datang lagi kepadamu. Aku menawarkan agama Islam kepadanya dan diapun masuk ke dalam agama Islam.

Kemudian aku berdakwa kepada kabilah Daus. Dan aku dapati mereka lambat sekali menerima seruanku kecuali Abu Hurairah. Dia adalah orang yang paling cepat sekali menerima dakwahku.

Thufail melanjutkan ceritanya,

Lalu aku pergi menghadap Rasulullah di Makkah. Aku pergi bersama Abu Hurairah. Lalu nabi` bertanya kepadaku, “Apa yang kau hadapi wahai Thufail?” Aku menjawab, “Hati yang tertutup oleh tirai penghalang kebenaran, dii atasnya terdapat kekufuran yang sangat besar. Sungguh penduduk Daus sudah terkalahkan oleh kefasikan dan kemaksiatan.”

Lalu Rasulullah berdiri kemudian mengambil air wudlu dan menunaikan shalat. Setelah selesai menunaikan shalat, beliau mengangkat tangannya ke atas langit. Abu Hurairah berkata, “Ketika aku melihat Rasulullah melakukan hal tersebut aku sangat takut jika beliau mendoakan kejelekan kepada kaumku kemudian mereka binasa.” Lalu aku berkata, “Alangkah celakanya kaumku.”

Namun ternyata Rasulullah berdoa, “Ya Allah berilah petunjuk kepada kabilah Daus, Ya Allah berilah petunjuk kepada kabilah Daus, ya Allah berilah petunjuk kepada kabilah Daus.”

Lalu Rasulullah memalingkan wajahnya kepada Thufail dan berkata, “Pergilah menemui kaummu dan bimbinglah mereka kemudian ajaklah mereka masuk ke dalam Islam.”

Thufail berkata, “Dan ketika aku kembali pada kaumku, ternyata waktu itu juga Rasulullah ` hijrah ke Madinah. Sesudah itu terjadilah perang Badar, Uhud dan Khandaq. Lalu aku menghadap Rasulullah ` dan aku membawa delapan puluh rumah kabilah Daus dalam keadaan Islam dan Islam mereka sudah sangat bagus. Melihat hal tersebut Rasulullah merasa senang dengan kami. Lalu Rasulullah memberikan kepada kami dan juga umat Islam ghanimah dari perang Khaibar. Kami berkata, “Wahai Rasulullah jadikanlah kami pasukan sayap kananmu di setiap peperangan. Berilah kami gelar “Al-Mabrur”.

Thufail berkata, “Aku tetap tinggal bersama Rasulullah hingga terjadilah peristiwa penaklukan kota Makkah. Aku berkata, “Wahai Rasulullah, utuslah aku pada Dzil Kafain, (berhala milik Amr bin Hamamah). Aku akan membakarnya. Rasulullah mengizinkannya. Lalu Thufail pergi bersama satu rombongan ekspedisi (sariyyah) dari kalangan kaumnya menuju patung-patung kabilahnya.

Ketika Thufail telah sampai di patung tersebut dan hendak membakarnya, para wanita, laki-laki dan anak-anak berkumpul di sekelilingnya.  Mereka menunggu petaka yang akan menimpa Thufail. Mereka menunggu datangnya petir yang akan menyambarnya jika dia mencelakakan patung mereka yang bernama Dzil Kaffain.

Akan tetapi Thufail menghadap patung tersebut dalam keadaan disaksikan oleh para pemujanya. Lalu Thufail menyalakan api tepat di hatinya seraya berkata dengan kasar, “Wahai Dzil Kaffain, aku bukanlah pemujamu. kelahiran kami lebih dulu daripada kelahiranmu. Sungguh aku telah mengisi hatimu dengan kobaran api.”

Seketika itu juga api melahap patung tersebut bersamaan dengan itu terlahap pula kesyirikan kabilah Daus. Akhirnya seluruh penduduk kabilah Daus memeluk Islam dan kualitas Islam mereka sangat bagus.

****

Setelah itu Thufail selalu berada di dekat Rasulullah ` hingga beliau menghadap Allah k.

Dan ketika tampuk kepemimpinan beralih pada sahabat beliau yang bernama Abu Bakar, Thufail menyerahkan sepenuh dirinya, pedangnya dan anak-anaknya untuk taat kepada khalifah Rasulullah.

Ketika perang Riddah berkecamuk untuk memerangi orang-orang yang murtad, Thufail ikut serta dalam pasukan kaum Muslimin untuk memerangi pasukan Musailamah al-Kadzâb beserta anaknya yang bernama Amr.

Dalam perjalanannya ke Yamamah Thufail bermimpi. Lalu dia bertanya kepada para sahabatnya, “Sungguh aku bermimpi. Tolong tafsirkanlah mimpi tersebut.” Para sahabatnya bertanya, “Engkau bermimpi melihat apa?” Thufail menjawab, “Aku bermimpi bahwa kepalaku dicukur gundul dan ada burung yang keluar dari mulutku, lalu ada perempuan yang memasukkanku ke dalam perutnya. Pada waktu itu datanglah putraku, Amr. Dia memintaku untuk bersegera namun dia dihalang-halangi dariku.”

Lalu mereka berkata, “Itu adalah tanda yang baik.” Lalu Thufail berkata, “Demi Allah aku sudah menafsirkan mimpi tersebut. Adapun mengenai kepala yang dicukur, maka itu menunjukkan kepala yang akan dipotong. Sedangkan burung yang keluar dari mulutku, maka itu adalah nyawa yang keluar dari jasadku. Sedangkan perempuan yang memakanku tafsirnya adalah bumi yang akan memakan jasadku setelah dikuburkan. Sungguh aku sangat berharap untuk mati syahid. Sedangkan permintaan anakku kepadaku maka tafsirnya adalah, anakku meminta mati syahid sebagaimana aku, dan ternyata Allah mengizinkannya namun terjadi sesudahku.”

****

Dalam peperangan Yamamah sahabat yang mulia, Thufail bin Amr mendapatkan ujian yang sangat besar sekali. Hingga dia tersungkur mati syahid di tanah peperangan.

Sedangkan putranya yang bernama Amr masih terus berperang hingga merasa lemah karena banyaknya luka yang ada di tubuhnya. Telapak tangan kanannya putus. Dia pulang dari Yamamah dalam keadaan kehilangan ayahnya dan telapak tangannya yang kanan.

****

Suatu hari  pada masa kekholifahan Umar bin Khattab Amr bin Thufail masuk ke rumah Umar Al-Faruq. Lalu dihidangkan makanan di depannya. Semua orang duduk di sekeliling Umar. Umar mengajak mereka untuk menyantap makanan tersebut. Lalu Amr menyingkir dari makanan tersebut. Akhirnya Umar al-Faruq bertanya padanya, “Apakah kamu menyingkir karena malu dengan tanganmu yang putus tersebut?” Amr menjawab, “Betul wahai Amirul Mukminin.” Umar berkata, “Demi Allah, aku tidak akan menyantap makanan ini hingga engkau mencampurnya dengan tanganmu yang terputus terputus. Demi Allah tidak ada seorangpun yang anggota badannya sudah berada di surga kecuali engkau. (yang dimaksud Umar adalah tangannya yang sudah mendahuluinya masuk ke dalam surga).

Bayang-bayang kesyahidan selalu terlihat oleh Amr semenjak kesyahidan ayahnya. Dan ketika terjadi peperangan Yarmuk[2], seketika itu juga dia bersegera bersama kaum Muslimin untuk berperang hingga meraih kesyahidan yang telah lama dia dan ayahnya idam-idamkan.

Semoga Allah melimpahkan belas kasihnya kepada Thufail bin Amr ad-Dausi. Sungguh dia telah mati syahid, dia adalah ayah yang memiliki putra yang juga mati syahid.[3]


[1] Sebuah dataran di daerah tepian pantai yang dekat dengan Laut Merah

[2] Perang Yarmuk adalah salah satu peperangan yang sering diceritakan dalam sejarah. Terjadi pada tahun 15 H, pada peperangan tersebut Umat Islam mengalami kemenangan yang gemilang mengalahkan bangsa Romawi.

[3] Untuk lebih lengkap mengetahui kisah Thufail bin Amr ad-Dausi, silahkan baca kitab,

–          al-Ishabah (thab’atus Sa’adah), juz 3 halaman 286-288

–          Usdul Ghabah juz 3 halaman 54-55

–          Sifatus Shafwah, juz 1 halaman 245-246

–          Siyar A’lamin Nubalâ juz 1 halaman 248-250

–          Mukhtasor Târikh Dimasyqa juz 3 halaman 59-64

–          Al –Bidayah wan Nihayah juz 6 halaman 336

–          Syuhada’ul Islam halaman 138-143

–          Sirah Al-Bathal, karya Muhammad Zaidan yang diterbitkan oleh Dar as-Su’udiyyah pada tahun 1386 H

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: