Masjid Al-Khoir

April 12, 2010

Abu Darda’

Filed under: Sahabat Nabi — masjidalkhoir @ 2:45 am

“Abu Darda’ menolak dunia dengan dua telapak tangan dan dadanya.”

(Abdurrahman bin Auf)

Uwaimir bin Malik al-Khazraji atau yang sering dipanggil Abu Darda’ bangun tidur lebih awal. Dia pergi menuju patungnya yang dia letakkan di tempat yang paling mulia di rumahnya.

Uwaimir mengucapkan selamat dan mengolesinya dengan minyak wangi yang paling mahal yang dia miliki di toko minyak wanginya. Dia juga memakaikan pada patungnya baju baru dari sutra yang paling mewah. Baju sutra yang baru itu hasil hadiah dari salah seorang pedagang dari Yaman yang datang padanya.

Ketika matahari sudah agak tinggi, Abu Darda’ meninggalkan rumahnya pergi menuju tokonya.

Dalam perjalanan menuju Makkah, ternyata jalan-jalan sudah dipenuhi dengan para pengikut Muhammad yang kembali dari medan Badr. Di depan mereka terdapat tawanan dari bangsa Quraisy. Abu Darda’ ingin menghindari rombongan kaum muslimin, namun langkahnya terhenti oleh seorang pemuda dari suku Khazraj. Abu Darda’ bertanya pada orang tersebut tentang Abdullah bin Rawahah.

Pemuda Khazraj berkata kepada Abu Darda’, “Dalam peperangan tadi, Abdullah bin Rawahah, mendapatkan perlawanan yang sangat sengit, namun dia kembali dalam keadaan menang, dan mendapatkan rampasan perang.”Abu Darda’ senang dengan jawaban tersebut.

Pemuda Khazraj itu tidak heran dengan pertanyaan Abu Darda’ tentang Abdullah bin Rawahah, karena semua orang sudah mengetahui tali persaudaraan antara keduanya. Abu Darda’ dan Abdullah bin Rawahah adalah dua saudara di masa jahiliyyah. Namun ketika datang agama Islam, Abdullah bin Rawahah menyambutnya dengan baik dan masuk Islam, sedangkan Abu Darda’ enggan masuk Islam.

Namun ternyata perbedaan itu tidak memutuskan tali persaudaraan mereka yang kuat. Abdullah bin Rawahah sering berkunjung ke rumah Abu Darda’ dan menawarkan islam padanya dan juga membujuknya untuk masuk Islam dan menyayangkan umur yang dia lewati jika dia dalam keadaan musyrik.

****

Abu Darda’ sampai di tokonya. Dia duduk di kursinya yang tinggi. Mulailah dia melakukan jual beli, dan memerintah serta melarang budaknya.

Abu Darda’ tidak sedikitpun mengetahui sesuatu yang terjadi di rumahnya. Pada waktu itu Abdullah bin Rawahah pergi ke rumah Abu Darda’ dan berniat melaksakan sebuah rencana.

Ketika Abdullah bin Rawahah sampai di rumahnya, dia melihat rumahnya terbuka dan Ummu Darda’ berada di halaman rumah.

Abdullah bin Rawahah berkata, “Assalamu’alaikum, wahai hamba Allah.”

Ummu Darda’ menjawab, “Wa’alaikumsalam, wahai saudara Abu Darda’.”

Abdullah bin Rawahah bertanya, “Di mana Abu Darda’?”

Ummu Darda’berkata, “Dia pergi ke tokonya, nanti dia akan kembali.”

Abdullah bin Rawahah bertanya, “Apakah engkau mengizinkanku masuk?”

Ummu Darda’ menjawab, “Silahkan, selamat datang di rumahku.” Lalu Ummu Darda’ mempersilahkannya masuk. Ummu Darda’ pergi ke kamarnya. Dia sibuk menyelesaikan urusan rumahnya dan mengurusi anaknya.

Abdullah bin Rawahah masuk ke dalam kamar tempat diletakkannya patung di dalam rumahnya. Ia mengeluarkan kapak yang dia bawa. Lalu dia mendekat ke patung tersebut seraya memotong-motongnya. Abdullah berkata, “Ketahuilah bahwa sesuatu yang disembah selain Allah adalah batil (keliru)….sesuatu yang disembah selain Allah adalaah batil.” Setelah selesai memotong-motongnya Abdullah bin Rawahah meninggalkan rumah Abu Darda’.

****

Ummu Darda’ masuk ke dalam kamar yang terdapat patungnya. Dia sangat kaget ketika melihat patungnya terpotong-potong, anggota tubunya terpotong secara terpisah di atas tanah. Ummu Darda’ menampari pipinya seraya berkata, “Sungguh engkau telah mencelakakanku wahai Abdullah bin Rawahah…. Sungguh engkau telah mencelakakanku wahai Abdullah bin Rawahah”

Tidak berselang lama pulanglah Abu Darda’ dari tokonya. Dia  melihat istrinya menangis dengan suara keras dalam keadaan duduk di pintu kamar yang terdapat patungnya.  Tanda-tanda kekhawatiran terpancar dari wajahnya.

Abu Darda’ bertanya, “Ada apa dengamu?”

Ummu Darda’ menjawab, “Ketika engkau tidak ada, saudaramu Abdullah bin Rawahah datang dan menghancurkan patung itu sebagaimana yang engkau lihat.” Abu Darda’ memandangi patungnya yang sudah hancur berkeping-keping. Api kemarahan menyala dalam dirinya. Dia bertekad untuk membalas dendam pada Abdullah bin Rawahah. Namun ia berfikir sejenak dan berkata, “Jika patung ini benar-benar tuhan, niscaya dia mampu menolak musibah yang menimpanya.”

Seketika itu juga dia pergi ke rumah Abdullah bin Rawahah. Lalu keduanya pergi bersama-sama ke rumah Rasulullah `, dia mengikrarkan keislamannya pada beliau. Abu Darda’ adalah orang yang paling akhir dalam memeluk Islam.

Abu Darda’ beriman sejak pertama kepada Allah dan RasulNya dengan keimanan yang dapat merubah kebiasaannya. Dia sangat menyesal sekali dengan kebaikan yang telah lama terlewatkan.

Dia berhasil mencapai apa yang lebih dulu dicapai oleh sahabatnya yang lebih dahulu masuk Islam dalam hal memahami agama islam, menghafal Qur’an, beribadah dan bertakwa yang mereka simpan di sisi Allah.

Abu Darda’ bertekad untuk menyusul hal-hal yang telah terlewatkan dengan penuh kesungguhan. Dia bertekad untuk menyambung keletihan malam dengan keletihan siang agar dapat menyusul ‘para pengendara’ lain dan sejajar dengan mereka.

Dia berusaha terus gigih beribadah laksana para orang yang sudah tidak memikirkan dunia. Terus mencari ilmu seperti orang yang sangat kehausan. Abu Darda’ selalu menekuni al-Qur’an, menghafal ayatnya dan menyelami kandungan ayat-ayatnya.

Ketika Abu Darda merasa perdagangannya selama ini mengganggu kenikmatannya dalam beribadah dan menyebabkannya tertinggal dari majlis ilmu, dia meninggalkan perdagangannya tanpa rasa ragu.

Ada salah seorang yang bertanya tentang sikapnya itu. Namun Abu Darda’ menjawab, “Dulu aku berdagang sebelum aku bertemu dengan Rasulullah. Ketika aku memeluk islam, aku ingin menyatukan antara dagang dan ibadah. Namun hal itu tidak bisa aku lakukan. Akhirnya aku meninggalkan perdagangan dan mementingkan ibadah. Demi Dzat Yang menggenggam nyawaku, alangkah bahagianya aku jika aku mempunyai toko di sebelah pintu masjid  hingga aku tidak tertinggal shalat Jama’ah di masjid. Setelah itu aku berjual beli hingga aku mendapatkan laba hingga 300 dinar.”

Abu Darda’ menoleh kepada orang yang bertanya tersebut, “Demi Allah, aku tidak mengatakan bahwa Allah mengharamkan jual beli. Namun aku tidak ingin masuk dalam golongan orang-orang tertipu dari perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah.”

Abu Darda’ tidak hanya meninggalkan perdagangan saja namun dia juga meninggalkan kemewahan dan kemilau dunia. Dia hanya bertumpu pada beberapa suap makanan yang kasar dan memakai baju yang murahan untuk menutupi tubuhnya.

Pada suatu malam yang sangat dingin ada sekumpulan orang yang berkunjung ke rumahnya. Abu Darda’ hanya menghidangkan makanan yang kasar untuk mereka dan tidak menyediakan selimut. Ketika para tamu itu hendak tidur, mereka berunding tentang masalah selimut. Salah seorang dari mereka berkata, “Aku akan menemui Abu Darda’ dan mengatakan masalah ini.” Sedangkan yang  lainnya berkata, “Kita terima saja seperti ini.” Namun orang tersebut enggan. Dia pergi ke kamar Abu Darda’. Ketika dia sampai di pintu kamarnya ternyata Abu Darda’ sudah berbaring. Sedangkan istrinya duduk di dekatnya. Keduanya hanya memakai baju yang tipis, tidak bisa melindungi dari panas dan tidak bisa menahan udara dingin.

Orang tersebut berkata kepada Abu Darda’, “Aku melihatmu tidur sebagaimana kondisi kami. Di manakah perlengkapan rumah kalian?”

Abu Darda’ menjawab, “Kami mempunyai rumah yang terletak disana. Setiap kali kami memperoleh rizki, kami selalu mengirimkan perlengkapan rumah ke sana setiap kali kami mendapatkan keuntungan.  Seandainya kami masih mempunyai sisa perlengkapan rumah, niscaya akan kami berikan kepada kalian. Jalan menuju rumahku yang ‘di sana sangatlah terjal dan susah. Orang yang meringankan bebannya di sana lebih baik daripada orang yang memberatkannya. Kami ingin meringankan beban kami agar kami sampai di rumah kami ‘di sana.”

Abu Darda’ meyakinkan orang tersebut. “Apakah kamu faham dengan maksudku?”

Orang itu menjawab, “Iya, aku faham. Semoga Allah membalas kebaikan padamu.”

****

Pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, Abu Darda’ diminta untuk menjadi gubernur Syam, namun dia enggan. Khalifah Umar terus mendesaknya. Abu Darda’ berkata, “Jika engkau merelakanku untuk pergi kepada mereka sebagai pengajar al-Qur’an dan sunnah nabiNya serta menjadi imam mereka, maka aku akan pergi.” Umar mengabulkan permintaan Abu Darda’. Akhirnya Abu Darda’ pergi ke Damaskus. Sesampainya di Damaskus dia mendapati semua orang terbuai dalam kemewahan dunia, mereka terjerumus ke dalam kenikmatan. Abu Darda’ khawatir dengan keadaan itu. Akhirnya dia menyeru manusia untuk pergi ke masjid dan berkumpul dengannya. Abu Darda’ berdiri di tengah-tengah mereka seraya berkata,

“Wahai penduduk Damaskus, kalian adalah saudaraku seagama. Kalian adalah tetanggaku, kalian adalah penolongku dalam menghadapi musuh. Wahai penduduk Damaskus, apa yang menghalangi kalian untuk mengasihiku serta menerima nasehatku, padahal sedikitpun aku tidak mengharapkan balasan dari kalian. Nasehatku untuk kalian, sedangkan kebutuhanku telah dicukupi oleh orang selain kalian. Mengapa orang-orang bodoh di antara kalian tidak belajar sedangkan para ulama’ telah wafat?”

“Mengapa kalian meninggalkan apa yang diperintah Allah, padahal Allah telah mencukupi semua kebutuhan kalian?! Mengapa kalian mengumpulkan harta yang tidak kalian butuhkan untuk makan? Mengapa kalian membangun rumah yang tidak kalian butuhkan untuk ditinggali? Mengapa kalian mengkhayalkan sesuatu yang tidak mungkin kalian capai? Sebelum kalian ada banyak sekali kaum yang mengumpulkan harta dan mempunyai khayalan-khayalan namun tidak lama setelah itu akhirnya mereka binasa bersama dengan yang mereka kumpulkan. Khayalan mereka tidak tercapai dan rumah-rumah mereka menjadi kuburan.“

“Wahai penduduk Damaskus, lihatlah kaum ‘Ad yang memenuhi dunia dengan harta dan anak mereka. Siapa di antara kalian yang membeli peninggalan ‘Ad dariku dengan dua dirham?”

Akhirnya semua penduduk Damaskus menangis hingga suara tangisan mereka terdengar hingga keluar masjid.”

****

Sejak saat itulah Abu Darda’ selalu mengisi majlis-majlis di Damaskus serta berkeliling ke pasar-pasar mereka. Dia menjawab pertanyaan tiap orang yang bertanya, mengajari orang-orang yang bodoh dan memberi peringatan kepada orang-orang yang lalai.  Abu Darda’ selalu menggunakan kesempatan yang ada. Dan memberi manfaat di setiap acara.

Pada suatu hari Abu Darda’ melewati sekumpulan orang yang menghajar seorang laki-laki. Mereka memukulinya dan mengumpatnya. Abu Darda’ menghadap mereka dan bertanya, “Ada apa ini?” Mereka menjawab, “Ada seorang laki-laki yang melakukan dosa besar.”

Abu Darda’ bertanya, “Bagimana pendapat kalian jika kalian melihat ada orang yang masuk ke dalam sumur. Bukankah kalian akan mengeluarkannya dari sumur itu?”

Mereka menjawab, “Iya, kami akan mengeluarkannya.”

Abu Darda’ berkata, “Kalau begitu, jangan kalian hajar dia, namun berilah peringatan padanya dan tunjukilah jalan yang benar. Ucapkanlah syukur kepada Allah yang membuat kalian tidak terjerumus dalam dosa yang dia lakukan.”

Mereka bertanya pada Abu Darda’, “Apakah engkau tidak membencinya?”

Abu Darda’ menjawab, “Aku hanya membenci perbuatan dosanya. Jika dia meninggalkannya maka dia adalah saudaraku.”

Pemuda yang melakukan dosa itu akhirnya menangis dan mengikrarkan taubatnya.

****

Pada suatu hari ada seorang laki-laki yang menghadap Abu Darda’. Dia berkata, “Wahai sahabat Rasulullah, berilah wasiat kepadaku.”

Abu Darda’ berkata kepadanya, “Wahai anakku, ingatlah Allah ketika engkau dalam keadaan bahagia, niscaya Allah akan mengingatmu di kala engkau sengsara. Wahai anakku, jadilah engkau orang yang belajar, atau mengajar, atau mendengarkan. Janganlah engkau menjadi orang yang keempat (orang yang bodoh), karena engkau akan binasa. Wahai anakku, jadikanlah masjid sebagai rumahmu. Karena aku mendengar Rasulullah bersabda, “Masjid-masjid adalah rumah orang yang bertakwa.” Allah kmenjanjikan kelonggaran dan rahmat kepada orang-orang yang menajdikan masjid sebagai rumah, dan juga akan memudahkan mereka untuk melewati shirotol mustaqim menuju ridl  Allah k.

****

Pada suatu hari ada sekelompok pemuda yang duduk-duduk di jalan. Mereka berbincang-bincang sembari menyaksikan orang-orang yang berjalan. Abu Darda’ menemui mereka dan berkata, “Wahai anak-anakku, sesungguhnya tempat ibadah bagi seorang muslim adalah rumahnya. Karena di dalam rumah dapat menahan dirinya dan menahan pandangannya. Janganlah kalian duduk-duduk di pasar, karena hal itu akan melalaikan kalian dan membuat kalian melakukan hal yang sia-sia.

****

Ketika Abu Darda’ masih tinggal di Damaskus, gubernurnya yang bernama Muawiyah bin Abu Sufyan. mengutus utusan untuk melamar putri Abi Darda’ untuk anaknya yang bernama Yazid. Namun Abu Darda’ tidak mau menikahkan putrinya dengan Yazid. Abu Darda’ justru menikahkannya dengan orang biasa yang beragama dan berakhlak baik.

Hal itu ternyata menjadi pembicaraan manusia. Mereka mengatakan, “Yazid bin Muawiyah bin Abu Sufyan meminang putri Abu Darda’ namun Abu Darda’ menolak pinangannya malah menikahkan putrinya dengan laki-laki biasa dari kalangan kaum muslimin. “

Ada salah seorang yang bertanya kepada Abu Darda’ tentang alasannya. Abu Darda’ menjawab, “Aku melakukan perbuatanku itu karena aku lebih mementingkan kemaslahatan Darda’.”

Penanya itu bertanya, “Bagaimana bisa begitu?”

Abu Darda’ menjawab, “Bagaimana pendapatmu jika Darda’ kelak mempunyai budak-budak yang melayaninya. Darda’ akan terlenakan dengan megahnya istana yang dia tinggali. Pada waktu itu dimanakah dia meletakkan agamanya?”

****

Ketika Abu Darda’ masih tinggal di Damaskus, datanglah khalifah Umar untuk mencari tahu keadaannya. Umar mengunjungi rumah sahabatnya, Abu Darda’ di malam hari. Umar mendorong pintunya, ternyata pintu rumahnya tidak ada gemboknya. Akhirnya Umar masuk ke dalam rumahnya yang sangat gelap dan tidak ada cahayanya sedikitpun. Ketika Abu Darda’ mendengar suara orang yang datang kepadanya, dia langsung bangun. Dia menyambutnya dan mempersilahkannya duduk.

Keduanya saling berbincang dan bertukar pengalaman. Sedangkan gelapnya malam kala itu menghalangi pandangan kedua mata mereka. Umar meraba bantal Abu Darda’ ternyata bantalnya hanyalah kain tipis yang biasa dipakai di atas kendaraan. Ketika Umar meraba kasurnya, ternyata hanya tumpukan kerikil. Ketika Umar meraba selimutnya, ternyata selimutnya hanyalah kain tipis yang  tidak sedikitpun dapat menahan cuaca dingin di Damaskus.

Umar bertanya kepada Abu Darda’, “Semoga Allah menyayangimu, bukankah aku telah mengirimkan harta untukmu?”

Abu Darda’ menjawab, “Wahai Umar, tidakkah engkau ingat hadis Rasulullah kepada kita?”

Umar bertanya, “Apa itu?”

Abu Darda’ menjawab, “Hendaklah harta seseorang di dunia hanyalah seperti perbekalan seorang musafir.”

Umar menjawab, “Iya, aku ingat.”

Abu Darda’ menjawab, “Lalu apa yang harus kita lakukan setelah kita mendengar hadis itu?”

Akhirnya Umar dan Abu Darda’ menangis bersam-sama. Keduanya menangis hingga tiba waktu subuh.

****

Selama tinggal di Damaskus Abu Darda’ selalu memberikan nasehat  pada penduduk Damaskus. Mengajari mereka al-Qur’an dan hikmah hingga ajal datang menjemputnya. Ketika Abu Darda’  menderita sakit yang menghantarkannya pada kematian para sahabatnya menemuinya.

Mereka bertanya, “Apa yang engkau keluhkan?”

Abu Darda’ menjawab, “Aku mengeluhkan dosa-dosaku.”

Mereka bertanya, “Apa yang engkau inginkan?”

Abu Darda’ menjawab, “Yang aku inginkan adalah ampunan Tuhanku.”

Lalu Abu Darda’ berkata kepada orang yang disampingnya, “Talkinlah aku kalimat Lâ ilâha illallah Muhammadur Rasulullah.” Abu Darda’ terus mengulang-ulang kalimat itu hingga ajal datang menjemputnya.

Ketika Abu Darda’ meninggal Auf bin Abdul Malik al-Asyja’i melihat tanah lapang yang hijau, sangat luas dan bertumbuh-tumbuhan hijau. Di dalam tanah tersebut terdapat tenda besar dari kulit, di sekelilingnya terdapat kambing-kambing yang sedang menderum. Pemandangannya sama sekali belum pernah terlihat mata.”

Auf bin Abdul Malik bertanya, “Milik siapakah ini?” lalu ada orang yang berkata, “Itu milik Abdurrahman bin Auf.”

Lalu Abdurrahman bin Auf keluar dari tendan dan berkata, “Wahai Ibnu Malik, ini adalah pemberian Allah kepada kami karena al-Qur’an. Jika engkau menghadapkan ini ke jalan pasti engkau akan melihat sesuatu yang belum terlihat oleh mata, engkau akan mendengar apa yang belum pernah engkau dengar, engkau akan menemukan sesuatu  yang belum pernah terlintas dalam hatimu.”

Ibnu Malik bertanya, “Untuk siapakah itu semua wahai Abdurrahman bin Auf?” Abdurrahman bin Auf menjawab, “Allah menyiapkannya untuk Abu Darda’ karena dia menolak dunia dengan dua telapak tangan dan dadanya.”[1]


[1] Untuk lebih jelas mengetahui sejarah Abu Darda’ silahkan baca kitab,

 

–          al-Ishabah at-Tarjamah

–          al-Istî’ab juz 3 halaman 15 dan juz 4 halaman 159

–          Usdul Ghabah juz 4 halaman 159

–          Hilyatul Auliya’ juz 1 halaman 308

–          Husnus Shahabah halaman 218

–          Sifatus Shafwah juz 1 halaman 257

–          Târikhul Islam karya adz-Dzahabi juz 2 halaman 107

–          Hayâtus Shahabah lihat daftar isi

–          Al-Kawâkib ad-Duriyyah juz 1 halaman 45

–          Al-A’lam karya az-Zarakli juz 5 halaman 281



Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: