Masjid Al-Khoir

Januari 18, 2008

Hakekat Mencintai Allah

Filed under: Al-Ilmu — masjidalkhoir @ 2:50 am

Mahabbah ( kencintaan ) kepada Allah adalah tujuan akhir dan derajat yang tertinggi. Setelah menggapai mahabbah, sungguh tidak ada lagi tingkatan selain buah dari mahabbah itu sendiri, seperti syauqh ( kerinduan ), uns ( kenyamanan ), dan ridho.tidak ada lagi tingkatan sebelum mahabbah selain pendahuluan menuju kepadanya. Seperti taubat, sabar, zuhud dan syukur serta ibadah – ibadah hati yang lainnya.

Cinta yang paling bermanfaat, yang paling mulia dan yang paling tinggi adalah cinta kepada Dzat yang telah menjadikan hati cinta kepadaNya dan menjadikan seluruh makhluk memiliki fitroh untuk mengEsakanNya. Illah adalah Dzat yang dicenderungi oleh hati dengan kecintaan, pengagungan, pemuliaan, penghinaan diri sendiri dihadapanNya, ketundukan dan peribadatan. Ibadah tidak benar kecuali hanya kepadaNya saja. Ibadah adalah kesempurnaan cinta, ketundukan, dan penghianaan diri.

Allah dicintai bukan karena sesuatu yang lain. Allah dicintai dari berbagai sisi. Segala sesuatu selainNya dicintai dalam rangka cinta kepadaNya. Keharusan mencintaiNya telah ditunjukkan oleh seluruh kitab yang diturunkan dan Rasul yang diutus. Juga oleh fitrah, akal manusia, dan nikmat yang Ia anugerahkan.

Seluruh hati diciptakan dengan tabiat cinta kepada siapa saja yang memberinya nikmat dan bersikap baik kepadanya. Maka bagaimana dengan Dzat, yang seluruh kebaikan berasal dariNya ? tidak ada satu nikmatpun yang dirasakan oleh makhluk kecuali berasal dariNya. Dia Maha Tunggal. Tidak ada sekutu bagiNya.

“Segala nikmat yang ada pada kalian berasal dari Allah. Kemudidan jika kalian ditimpa kemudharatan kepadaNya lahkalian memohon pertolongan.”(QS. An-Nahl : 53)

Nama – namaNya yang indah, sifat – sifatNya yang tinggi mulia, dan segala ciptaanNya, semua menunjukkan kesempurnaan, kemuliaan, dan keagunganNya.

“Dan diantara manusia ada yang menjadikan makhluk tandingan disamping Allah, yang mereka cintai seperti cintanya kepada Allah. Sedangkan orang – orang yang beriman lebih cinta kepada Allah” (QS. Al-Baqarah : 165)

“Hai orang – orang yang beriman, barang siapa diantara kalian murtad dari agamanya, niscaya Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Dia cintai dan mereka mencintaiNya. Mereka lemah lembut kepada orang – orang yang beriman, keras tegas kepada orang – orang kafir, berjihad di jalan Allh, dan tidak taku celaan orang yang mencela….” (QS. Al-Maidah : 54)

Nabi SAW bersabda telah bersumpah bahwa seorang hamba tidak akan sempurna (dalam kesempurnaan yang wajib) keimanannya sampai mencintai beliau melebihi cintanya kepada anak, orang tua, dan manusia seluruhnya.

Beliau berkata kepada Umar bin Khatab : “tidak sampai aku lebih kamu cintai daripada dirimu sendiri.” Maksudnya kamu todak beriman sampai kecintaanmu mencapai tingkat ini. Apabila nabi lebih utama untuk kita cintai dan kita penuh konsekuensi cinta itu dripada diri kita sendiri, tentunya Allah lebih utama lagi untuk kita cintai dan kita ibadahi.

 

KITA WAJIB MENCINTAI ALLAH !

Semua yang Allah berikan kepada hambaNya menyeru sang hamba kepada kecintaan kepadaNya. Anugerah, pencegahan, kesejahteraan, cobaan, keadilan, keutamaan, hal mematikan dan mematikan, kebaikan, kasih sayang, maaf, kesabaran, pengakbulan doa, penyingkapan kesulitan, pertolongan serta jalan keluar dari berbagai kesulitan yang Allah berikan, semua menyeru hati untuk hanya mencintai dan beribadah kepadaNya. Jika ada seseorang yang melakukan sedikit saja hal – hal diatas kepada orang lain, maka ia tidak akan mampu mencegah hatinya untuk mencintaiNya. Lalu bagaimana seseorang tidak mencintai Allah, yang senantiasa berbuat baik kepadanya, meski ia bermaksiat kepada-Nya? Kecintaan dengan segenap hati dan anggota badannya ?

Kebaikan Allah terus menerus turun kepada hambaNya. Sementara sang hamba terus – menerus melakukan kemaksiatan. Allah senantiasa mengusahakan kecintaan hamba kepadaNya, padahal dia tidak membutuhkan sedikit pun. Sementara sang hamba terus – menerus mengusahakan kemurkaan Allah kepadanya padahal ia sangat membutuhkannya. Kebaikan Allah dan limpah kenikmatanNya tidak menghentikan dari perbuatan maksiat. Pun demikian dengan Allah, kemaksiatan hambaNya tidaklah menghentikan kebaikanNya. Padahal tidak ada makhluk yang saling mencintai kecuali karena salah satunya membutuhkan kepada yang lain, atau dua-duanya sama sedangkan Allah, dia menuntut kecintaanmu kepadanya semata-mata untuk kebaikan dirimu sendiri. Juga, tidak ada seorang pun yang kamu ajak bergaul mau menerima ajakanmu, jikla ia tidak merasa tidak mendapat keuntungan darimu sedikitpun. Tapi Allah, dia mengajakmu bergaul dengannya hanya agar kamu beruntung, bahkan untung besar. Satu dirham diganti dengan sepuluh sampai tujuh ratus dirham, atau bahkan lebih. Satu keburukan dibalas dengan satu keburukan juga, itu pun merupakan sesuatu yang paling mudah untuk dihapus. Juga, Allah menciptakanmu untuk beribadah kepadaNya dan menciptakan segala sesuatu untukmu di dunia dan di akhirat. Lalu, siapa yang lebih pantas darinya untuk diusahakan kecintaan kepadaNya dengan segala daya, untuk digapai keridhoanNya dengan segala upaya. Juga, seluruh bahkan kebutuhan semua makhluk ada padanya. Dan Dialah yang paling pemurah. Dia memberi sebelum diminta melebihi apa yang terbayangkan. Dia mensyukuri amal yang sedikit dan menumbuhkannya. Dia mengampuni dan meghapuskan banyak dosa. Semua yang ada di langit dan di bumi memohon kepadaNya. Setiap hari Dia dalam urusan. Meski begitu, mendengarkan permohonan hambaNya tidak menyibukkanNya, juga tidak membuatnya keliru. Dia tidak risih dengan rintihan, bahkan dia mencintai orang yang merintih dalam berdo’a. Dia cinta jika diminta dan murka jika tidak diminta. Dia malu kepada hambaNya yang tidak malu kepadaNya. Dia menutupi dosa hambaNya ketika sang hamba tidak menutupiya dihadapanNya.

Dia mengasihi hambaNya yang tidak mengasihani dirinya sendiri. Dia menyeru hambaNya dengan nikmat, kebaikan, dan dukungannya, kepada kemuliaan dan keridhaanNya. Ketika mereka enggan, dia utus para rasul untuk mengingatkan mereka, kemudian Dia turun ke langit dunia seraya berfirman,”Siapa yang meminta kepadaKu Aku kabulkan. Siapa yang memohon ampunan kepadaKu Aku ampuni.”

 

TAK RAGU UNTUK CINTA KEPADA ALLAH

Bagaimana mungkin hati tidak cinta kepada yang hanya Dia membawa kebaikan, mengabulkan do’a, memindahkan kesulitan, mengampuni kesalahan, menutupi aib, menghapuskan kesedihan, menyelamatkan yang teraniaya, dan menerima segala permintaan.

Dialah yang paling berhak untuk diingat, disyukuri, diibadahi, dan dipuji. Dialah yang paling cepat dating pertolongannya, Raja yang paling Kasih, yang paling luas pemberianNya, yang paling pemurah, yang paling mulia untuk dimintai perlindungan, dan yang paling mencukupi untuk ditawakali. Kasih sayang-Nya, melebihi kasih sayang ibu kepada anaknya. Ia lebih gembira kepada taubat seseorang, daripada kegembiraan seorang musafir di padang gersang yang kehilangan unta tunggangannya, padahal semua perbekalannya semua ada pada unta itu sehingga ia merasa akan segera binasa, namun tiba – tiba unta itu ia temukan kembali.

Dialah Raja tanpa sekutu dan Yang Esa tanpa saingan. Segala sesuatu fana selain wajah-Nya. Tidak ada yang taat kepada-Nya tanpa izin-Nya. Tidak ada yang bermaksiat kepada-Nya tanpa sepengetahuan-Nya. Jika ditaati Dia bersyukur. Dia ditaati dengan taufiq dan nikmat dari-Nya. Dia dimaksiati tetapi Dia memaafkan dan mengampuni. Mana lagi hak-Nya ?

Dialah saksi yang paling dekat dan penjaga yang paling agung. Dia selalu memenuhi janji. Dia yang paling adil. Dia yang membatasi antara jiwa. Dia mencatat amal dan menentukan ajal. Segala rahasia bagi-Nya nampak jelas. Semua yang ghoib disisi-Nya tersingkap. Semua makhluk membutuhkan-Nya. Seluruh wajah tertunduk dihadapan cahaya wajah-Nya. Tidak ada akal yang mengerti hakikat-Nya. Fitrah dan dalil – dalil yang ada menunjukkan tidak ada sesuatupun yang semisal atau serupa dengan-Nya. Segala kegelapan bercahaya karena cahaya wajah-Nya. Bumi dan langit pun terang – benerang. Dan seluruh makhluk pun merasa tentram. Dia tidak tidur dan memang tidak layak bagi-Nya untuk tidur. Dia merendahkan timbangan dan mengangkatnya. Amalan dimalam hari terangkat menuju kepada-Nya sebelum siang. Begitu pula amalan di siang hari terangkat menuju kepada-Nya sebelum malam. Hijab-Nya adalah cahaya. Andaikan Dia menyingkapnya niscaya kesucian wajah-Nya akan membakar segala sesuatu yang dipandang-Nya.

 

BUAH CINTA SEJATI

Mencintai Allah SWT adalah kehidupan bagi hati dan nutrisi bagi ruh tanpanya, hati tidak akan merasa kelezatan,kenikmatan, kemenangan, dan bahkan kehidupan. Bila hati kehilangan cinta ini, deritanya melebihi derita mata dikala kehilangan daya pandangannya. Melebihi derita telinga dikala kehilangan daya pendengarannya. Bahkan rusaknya hati melebihi rusaknya badan dikala ditinggal oleh nyawanya. Namun, semua ini hanya dipercayai oleh mereka yang ada kehidupan di dalam hatinya. Sebab, luka itu tak akan terasa bagi jasad yang sudah mati.

Fath al-maushaliy berkata : ”pecinta itu tidak lagi merasakan lezatnya dunia. Tidak juga lalai dari dzikir Allah walau sedetik.” Banyak orang shalih berkata :”pecinta itu telah terbang hatinya. Ia banyak berdzikir. Ia akan berusaha dengan segala upaya untuk menggapai ridho-Nya. Dengan sepenuh hati, dengan sepenuh rindu.”

Seorang penyair berkata :”Jadilah kamu pecinta Rabbmu dan berkhidmatlah kepada-Nya, sesungguhnya, orang yang mencintai adalah pelayan bagi yang dicintainya.”

Seorang ibu menasehati anak – anaknya, “biasakanlah untuk mencintai Allah dan mentaati-Nya. Sesungguhnya orang – orang yang bertaqwa itu dijinakkan dengan ketaatan, sehingga tanpa kataatan menjadu liarlah anggota badannya. Bila setan dating menawarkan kemaksiatan, kemaksiatan itupun akan berlalu dengan menanggung rasa malu, sebab mereka menolaknya mentah – mentah.”

Abdullah bin Mubarak mendengarkan syairnya : “Kamu bermaksiat kepada Allah tetapi katamu kamu mencintai-Nya sungguh ini adalah qiyas yang keliru.

Kalaulah benar cintamu kepada-Nya kamu pasti mentaati-Nya sebab pecinta itu pasti taat kepada yang dicintainya.”

1 Komentar

  1. Semoga Allah Azza Wajalla menjadikan kita termasuk dalam golongan hamba yang beruntung yang bisa mencurahkan hati dan pikiran kita hanya kepada-Nya.Amiin

    Komentar oleh bharata — Maret 19, 2008 @ 2:02 pm


RSS feed for comments on this post.

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: