<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Masjid Al-Khoir</title>
	<atom:link href="http://masjidalkhoir.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://masjidalkhoir.wordpress.com</link>
	<description>Tuntutlah Ilmu sampai engkau meningal dunia</description>
	<lastBuildDate>Wed, 04 May 2011 11:39:55 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='masjidalkhoir.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Masjid Al-Khoir</title>
		<link>http://masjidalkhoir.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://masjidalkhoir.wordpress.com/osd.xml" title="Masjid Al-Khoir" />
	<atom:link rel='hub' href='http://masjidalkhoir.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Sa&#8217;id bin Zaid</title>
		<link>http://masjidalkhoir.wordpress.com/2011/04/29/said-bin-zaid/</link>
		<comments>http://masjidalkhoir.wordpress.com/2011/04/29/said-bin-zaid/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Apr 2011 09:34:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>masjidalkhoir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sahabat Nabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masjidalkhoir.wordpress.com/?p=101</guid>
		<description><![CDATA[“Ya Allah, jika Engkau mencegahku dari kebaikan ini, janganlah Engkau mencegah anakku, Said dari kebaikan ini.” Zaid bin Amir bin Nufail berdiri jauh dari keramaian manusia. Dia menyaksikan hari raya Orang Quraisy yang berbeda dengan hari rayanya. Dia melihat ada orang yang memakai surban yang sangat mahal di kepala mereka.  Mereka saling membangga-banggakan pakaian-pakaian mereka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masjidalkhoir.wordpress.com&amp;blog=2497400&amp;post=101&amp;subd=masjidalkhoir&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#0000ff;"><em>“Ya Allah, jika Engkau mencegahku dari kebaikan ini, janganlah Engkau mencegah anakku, Said dari kebaikan ini.”</em></span></p>
<p>Zaid bin Amir bin Nufail berdiri jauh dari keramaian manusia. Dia menyaksikan hari raya Orang Quraisy yang berbeda dengan hari rayanya. Dia melihat ada orang yang memakai surban yang sangat mahal di kepala mereka.  Mereka saling membangga-banggakan pakaian-pakaian mereka dari Yaman yang sangat mahal. Dia juga menyaksikan para wanita dan anak-anak mengenakan baju dan sutra yang sangat indah dan berharga.</p>
<p>Zaid juga menyaksikan hewan-hewan ternak yang dihias dengan berbagai hiasan digiring oleh para tawanan, hewan-hewan ternak itu akan disembelih dan dijadikan persembahan untuk tuhan mereka.</p>
<p>Zaid berdiri menyandarkan punggungnya ke dinding Ka’bah. Dia berkata,</p>
<p>“Wahai orang-orang Quraisy, kambing itu diciptakan oleh Allah. Dialah Yang menciptakan hujan kemudian kambing kalian menjadi kenyang dengan turunnya hujan. Dari air hujan tumbuhlah rerumputan yang dimakan oleh hewan kalian hingga kenyang. Namun setelah itu kalian menyembelihnya untuk selain Allah. Sungguh aku melihat bahwa kalian adalah kaum yang bodoh.”</p>
<p>Hal itu memancing kemarahan Khattab, ayah Umar bin Khattab. Dia berdiri dan memukulnya kemudian berkata, “Celakalah kamu! Kami tahan kesabaran kami mengucapkan perkataan bodoh itu, dan ketika kau mengatakan hal ini kesabaran kami hilang.” Khattab memprovokasi orang-orang bodoh di antara kaumnya. Akhirnya mereka menyiksa Zaid dan terus menyiksanya hingga membawanya ke gunung hira’. Khattab menyerahkan Zaid kepada pemuda dari Quraisy. Khattab memerintahkan mereka agar menghalang-halangi Zaid untuk masuk ke Makkah. Namun Zaid berhasil masuk ke Makkah secara sembunyi-sembunyi.<span id="more-101"></span></p>
<p>Ketika orang Quraisy lengah Zaid pergi berkumpul dengan sahabatnya, di antara mereka adalah  Waraqah bin Naufal, Abdullah bin Jahsy, Utsman bin Haris,   Umaimah binti Abdul Muthalib,  bibi Muhammad bin Abdillah. Mereka membahas kesesatan yang terjadi di kalangan penduduk Arab. Zaid berkata kepada para sahabatnya, “Demi Allah, sungguh kalian tahu bahwa kaum kalian berada dalam kesia-siaan. Mereka menyimpang dan menyelisihi agama nabi Ibrahim. Oleh karena itu carilah agama yang benar untuk kalian jika kalian menginginkan keberuntungan.</p>
<p>Akhirnya empat orang tersebut berpencar pergi ke rumah para rahib dari kalangan Yahudi maupun Nasrani yang masih berpegang teguh dengan agama nabi Ibrahim maupun agama lain. Mereka mencari agama yang hanif (lurus), yaitu agama nabi Ibrahim.</p>
<p>Sedangkan Waraqah bin Naufal akhirnya masuk ke dalam agama Nasrani. Sedangkan Abdullah bin Jahsy dan Said bin Zaid tidak memeluk satu agamapun.</p>
<p>Said bin Zaid bin Naufal memiliki kisah tersendiri. Kita simak bersama penuturan langsung darinya. Said bercerita,</p>
<p>Aku pergi menghadap orang Yahudi dan Nasrarni, namun aku berpaling dari mereka karena aku tidak mendapatkan ketenangan di sana. Aku pergi ke penjuru manapun untuk mencari agama Ibrahim, hingga aku pergi ke negeri Syam. Aku teringat dengan salah seorang rahib yang mempunyai ilmu tentang kitab. Aku mendatanginya dan menceritakan masalahku kepadanya. Rahib itu berkata, “Wahai orang Makkah, aku melihat engkau sedang mencari agama Ibrahim?” Aku menjawab, “Betul, itu yang aku inginkan.” Rahib berkata, “Sungguh engkau sedang mencari agama yang saat ini sudah tidak ada. Namun kembalilah engkau ke negerimu, karena Allah mengutus seorang nabi dari negerimu yang akan memperbarui agama Ibrahim. Jika engkau bertemu dengannya maka bergurulah engkau darinya!”</p>
<p>Akhirnya Zaid kembali ke Makkah melangkahkan kakinya untuk mencari nabi yang ditunggu-tunggu.</p>
<p>Di tengah perjalanannya Allah mengutus nabi Muhammad sebagai RasulNya dengan membawa petunjuk dan kebenaran. Namun Zaid tidak menjumpainya, karena ketika dalam tengah perjalanan tiba-tiba ada sekumpulan orang arab yang membunuhnya sebelum dia sampai ke Makkah. Tampak kesedihan di dua matanya karena ingin melihat Rasulullah Saw.</p>
<p>Ketika Zaid menghembuskan nafasnya yang terakhir, dia mengangkat wajahnya menghadap langit seraya berdoa, “Ya Allah, meskipun Engkau menghalangiku dari kebaikan ini, namun janganlah engkau menghalangi putraku darinya.”</p>
<p align="center">****</p>
<p>Rupanya Allah berkehendak untuk mengabulkan doa Zaid. Ketika Rasulullah menyeru manusia untuk masuk ke dalam agama Islam, putranya Said bin Zaid termasuk di kalangan orang-orang yang beriman kepada Allah dan beriman dengan risalah yang dibawa oleh nabi Muhammad.</p>
<p>Hal itu tidak mengherankan, karena Said hidup di tengah keluarga yang tidak setuju dengan kesesatan kafir Quraisy. Said dididik di pangkuan seorang ayah yang hidup dalam keadaan mencari kebenaran. Ayahnya meninggal dalam keadaan berlari terengah-engah  mencari kebenaran.</p>
<p>Said tidak sendirian ketika beriman. Namun dia bersama istrinya, Fatimah binti Khattab,  saudari kandung Umar bin Khattab.</p>
<p>Pemuda Quraisy yang bernama Sa’id menghadapi siksaan kaumnya yang membuatnya pantas untuk meninggalkan islam, karena dahsyatnya siksaan tersebut. Namun dibalik pedihnya siksaan kaum Quraisy kepadanya untuk meninggalkan agama islam, ternyata dia dan istrinya berhasil menarik laki-laki dari Quraisy yang paling kuat, paling diperhitungkan, dan paling berbahaya. Ya, ternyata keduanya berhasil menjadi sebab masuk islamnya Umar bin Khattab.</p>
<p>Said bin Zaid bin Nufail menggunakan segenap tenaga mudanya untuk berkhidmat kepada Islam. Karena dia masuk islam dalam usia belum mencapai 20 tahun. Dia ikut serta dalam semua peperangan kecuali perang Badar. Said tidak ikut perang Badar karena suatu tugas yang dibebankan Rasulullah Saw. kepadanya.</p>
<p>Said juga turut serta dengan kaum musilmin dalam menggetarkan singgasana Kisra, dan menghancurkan kerajaan Kaisar Romawi. Di setiap pertempuran bersama dengan kaum muslimin Said mempunyai sikap yang mulia dan kokoh.</p>
<p>Barangkali kepahlawanannya yang paling menakjubkan adalah ketika berada dalam perang Yarmuk. Kita simak langsung setiap kisahnya langsung dari Said bin Zaid. Dia berkata,</p>
<p>Ketika dalam perang Yarmuk, jumlah kaum muslimin kurang lebih 24.000 pasukan. Sedangkan pasukan Romawi mengerahkan 120.000 pasukan. Mereka menghadang kami dengan langkah yang sangat berat. Seakan-akan mereka adalah gunung yang digerakkan oleh tangan yang tidak nampak. Para Uskup, kepala uskup dan para pendeta berada di depan mereka dengan membawa salib dan mereka membaca nyanyian-nyanyian. Di belakangnya para pasukan Romawi menirukan mereka dengan keras laksana suara gemuruh.</p>
<p>Ketika kaum muslimin melihat kondisi mereka, kaum muslimin kaget dan bingung dengan jumlah mereka yang banyak. Dalam hati mereka sedikit tercampur rasa takut.</p>
<p>Pada waktu itulah Abu Ubaidah bin al-Jarrah menghasung kaum muslimin untuk maju berperang. Dia berkata, “Wahai hamba-hamba Allah, tolonglah agama Allah, niscaya Allah akan menolong kalian dan meneguhkan langkah kalian. Wahai hamba-hamba Allah, bersabarlah, karena kesabaran itu lebih baik daripada kekufuran dan merupakan perbuatan yang diridloi Allah. Sabar adalah penghilang aib. Lemparkanlah tombak-tombak kalian dan berlindunglah dengan perisai kalian. Diamlah kalian kecuali hanya untuk menyebut nama Allah Azza wa Jalla di dalam diri kalian. Dan aku akan menjadi pemimpin kalian, jika Allah menghendaki!”</p>
<p>Said berkata, “Pada waktu itu keluarlah seseorang dari barisan dan berkata kepada Abu Ubaidah, “Aku bertekad untuk meninggal saat ini. Apakah engkau mempunyai surat untuk kau kirimkan kepada Rasulullah?”</p>
<p>Abu Ubaidah menjawab, “Ya, aku mempunyai surat, engkau membacakannya dariku dan dari kaum muslimin, engkau berkata dalam surat itu, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami mendapati bahwa yang dijanjikan oleh Rabb kami adalah benar.”</p>
<p>Said berkata, “Setelah aku mendengar perkataannya aku melihat dia menghunus pedangnya yang tajam, kemudian berlari menghadap musuh-musuh Allah. Hingga aku langsung tiarap ke atas tanah, kemudian aku berdiri di atas lututku. Aku mengeluarkan tombakku dan melemparkannya hingga mengenai pasukan berkuda yang pertama kali menghadapku. Setelah itu aku melompat ke barisan musuh. Dan ternyata Allah telah mencabut rasa takut yang hinggap dalam hatiku. Semua manusia bertebaran di depan pasukan Romawi. Kaum muslimin terus menyerang mereka hingga Allah mengaruniakan kemenangan untuk kaum muslimin.</p>
<p align="center">****</p>
<p>Setelah itu Said bin Zaid menyaksikan penaklukan kota Damaskus. Ketika Damaskus berhasil ditaklukkan, Abu Ubaidah bin al-Jarrah menjadikannya sebagai gubernur Damaskus. Said bin Zaid adalah orang yang pertama kali menjadi memegang tampuk kekuasaan di Damaskus dari kalangan kaum muslimin.</p>
<p align="center">****</p>
<p>Sedangkan pada masa pemerintahan Bani Umayyah, terjadi sebuah peristiwa yang menimpa Zaid. Peristiwa itu selalu dibicarakan oleh penduduk Madinah dalam kurun waktu yang lama.</p>
<p>Peristiwa tersebut bermula ketika Arwa binti Uwais mengaku bahwa Said bin Zaid telah merampas tanahnya dan menjadikan tanah tersebut sebagai milknya. Berita simpang siur itu menjadi perbincangan di kalangan kaum muslimin.</p>
<p>Akhirnya mereka mengadukan perkara itu kepada Marwan bin Hakam, Gubernur Madinah. Marwan mengirimkan beberapa orang untuk menasehati Said bin Zaid dalam masalah tersebut. Akhirnya masalah yang sangat runyam itu semakin membuat sahabat Rasulullah ini tersudutkan.</p>
<p>Said bin Zaid berkata, “Kalian menganggap bahwa aku telah berbuat zalim padanya?! Bagaimana mungkin aku berbuat zalim padanya, padahal aku mendengar Rasulullah Saw. bersabda, “Barangsiapa yang mencuri sejengkal tanah, maka kelak Allah akan menggantukan tujuh tanah di bumi di lehernya.”</p>
<p>Said kembali berkata, “Ya Allah, perempuan itu mengaku bahwa aku berbuat zalim padanya. Jika perempuan itu berdusta, maka butakanlah matanya dan masukkanlah dia ke dalam sumurnya yang menjadi perselisihan di antara kami. Nampakkanlah cahaya kebenaran pada tubuhku untuk menerangkan kaum muslimin bahwa aku tidak menzaliminya.”</p>
<p>Tidak berselang lama setelah Said mengucapkan doa tersebut, mengalirlah banjir bah dari gunung <em>‘Aqiq. </em>Banjir seperti itu belum pernah terjadi sebelumnya.<em> </em> Akhirnya tersingkaplah kebenaran dalam masalah tersebut. Kaum muslimin mengetahui bahwa Sa’id adalah benar.</p>
<p>Sebulan setelah peristiwa itu, perempuan tersebut mengalami kebutaan pada  matanya. Ketika dia berputar di tanahnya tersebut, dia terpeleset hingga masuk ke dalam sumurnya.</p>
<p>Abdullah bin Umar berkata, “Aku dan beberapa pemuda lain sering mendengar kata-kata, “Semoga Allah membutakanmu sebagaimana Allah membutakan Arwa.”</p>
<p>Peristiwa seperti itu tidak mengherankan, karena Rasulullah Saw. bersabda, “Berhati-hatilah kalian dengan doa orang yang terzalimi, karena antara dirinya dengan Allah tidak ada penghalang sama sekali.”</p>
<p>Apalagi yang dizalimi adalah Said bin Zaid, salah seorang di antara sepuluh orang yang mendapat kabar gembira masuk ke dalam surga?!<a title="" href="#_ftn1">[1]</a></p>
<div>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Untuk lebih jelas mengetahui sejarah Said bin Zaid silahkan baca kitab,</p>
<p>-          Thabaqât Ibnu Sa’ad juz 3 halaman 275</p>
<p>-          Tahdzîb Ibnu ‘Asakir juz 6 halaman 127</p>
<p>-          Sifatus Shafwah juz 1 halaman 141</p>
<p>-          Hilyatul Auliyâ’ juz 1 halaman 95</p>
<p>-          Ar-Riyadl An-Nadlroh juz 2 halaman 302</p>
<p>-          Hayâtus Shahabah, (lihat daftar isi juz 4)</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/masjidalkhoir.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/masjidalkhoir.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/masjidalkhoir.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/masjidalkhoir.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/masjidalkhoir.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/masjidalkhoir.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/masjidalkhoir.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/masjidalkhoir.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/masjidalkhoir.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/masjidalkhoir.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/masjidalkhoir.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/masjidalkhoir.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/masjidalkhoir.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/masjidalkhoir.wordpress.com/101/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masjidalkhoir.wordpress.com&amp;blog=2497400&amp;post=101&amp;subd=masjidalkhoir&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://masjidalkhoir.wordpress.com/2011/04/29/said-bin-zaid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ee8cc406cd6f4a6330c45ca64d20ace7?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">masjidalkhoir</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>WAHSYI BIN HARB</title>
		<link>http://masjidalkhoir.wordpress.com/2011/04/26/wahsyi-bin-harb/</link>
		<comments>http://masjidalkhoir.wordpress.com/2011/04/26/wahsyi-bin-harb/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Apr 2011 07:57:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>masjidalkhoir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sahabat Nabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masjidalkhoir.wordpress.com/?p=97</guid>
		<description><![CDATA[“Wahsyi bin Harb membunuh orang yang terbaik sesudah nabi Muhammad namun juga membunuh orang yang terjelek. (Ahli sejarah) Siapakah orang yang melukai hati Rasulullah Saw. ketika membunuh paman beliau, Hamzah bin Abdul Muthalib pada perang Uhud? Siapakah yang menyenangkan hati beliau dengan membunuh Musailamah al-Kadzdzab pada perang Yamamah. Dia adalah Wahsyi bin Harb, atau yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masjidalkhoir.wordpress.com&amp;blog=2497400&amp;post=97&amp;subd=masjidalkhoir&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#0000ff;"><em>“Wahsyi bin Harb membunuh orang yang terbaik sesudah nabi Muhammad namun juga membunuh orang yang terjelek.</em> <strong>(Ahli sejarah)</strong></span></p>
<p>Siapakah orang yang melukai hati Rasulullah Saw. ketika membunuh paman beliau, Hamzah bin Abdul Muthalib pada perang Uhud? Siapakah yang menyenangkan hati beliau dengan membunuh Musailamah al-Kadzdzab pada perang Yamamah.</p>
<p>Dia adalah Wahsyi bin Harb, atau yang mempunyai julukan Abi Dasamah. Wahsyi mempunyai kisah yang sangat menarik, menyedihkan dan menegangkan. Siapkanlah pendengaran anda untuk mendengarkan kisah yang akan diceritakan sendiri oleh Wahsyi bin Harb. Wahsyi bercerita,</p>
<p>Dulu aku adalah seorang budak muda milik Muth’im bin ‘Adi, salah seorang pemimpin suku Quraisy. Pamannya bernama Thu’aimah. Thuaimah terbunuh di tangan Hamzah bin Abdul Muthalib pada perang badar. Muth’im bin Adi sangat sedih sekali dengan kematiannya. Dia bersumpah demi Latta dan ‘Uzza untuk membalas dendam kematian pamannya, dia juga berjanji akan membunuh pembunuh pamannya.<span id="more-97"></span></p>
<p>Muth’im bin Adi menunggu-nunggu waktu yang tepat untuk membunuh Hamzah.</p>
<p>Tidak berselang lama setelah perang Badar kaum Qurasiy mengadakan kesepakatan untuk keluar ke Uhud, melampiaskan pembalasan  mereka kepada Muhammad bin Abdillah, dan membalas kematian saudara-saudara mereka yang terbunuh di perang Badar. Kaum Quraisy menyiapkan pasukan perang mereka. Mereka menyatukan persekutuan mereka, lalu menyerahkan kepemimpinan mereka kepada Abu Sufyan bin Harb.</p>
<p>Abu Sufyan mempunyai gagasan untuk mengikutsertakan para pemimpin Quraisy yang mempunyai anak, ayah, saudara atau kerabat mereka yang  terbunuh di Badar. Hal itu agar menambah semangat pasukan mereka dalam berperang dan meminimalisir pasukan yang melarikan diri. Di antara perempuan yang ikut serta dalam peperangan tersebut adalah istri Abu Sufyan, Hindun binti ‘Utbah. Semua saudaranya, pamannya dan ayahnya terbunuh dalam perang Badar.</p>
<p>Ketika pasukan Quraisy hampir berangkat, Jubair bin Muth’im menoleh ke arahku dan berkata, “Wahai Abu Dasamah (Wahsyi), apakah engkau ingin membebaskan dirimu dari perbudakan?”</p>
<p>Aku bertanya, “Siapakah yang akan membebaskanku?”</p>
<p>Jubair berkata, “Aku yang akan membebaskanmu.”</p>
<p>Aku bertanya, “Apa syaratnya?”</p>
<p>Jubair menjawab, “Jika engkau berhasil membunuh Hamzah bin Abdil Muthalib, paman nabi Muhammad, demi pamanku Thu’aimah bin ‘Adi, aku akan membebaskanmu.”</p>
<p>Aku bertanya, “Siapakah yang akan memberikan jaminan padaku dengan janjimu?”</p>
<p>Jubair berkata, “Terserah kamu. Aku akan mempersaksikan janjiku ini kepada semua manusia.”</p>
<p>Aku menjawab, “Aku akan melakukannya. Dan aku akan merdeka.”</p>
<p>Wahsyi melanjutkan ceritanya,</p>
<p>Aku adalah orang Habasyi, aku adalah pelempar panah Habasyi yang tidak pernah meleset sama sekali.</p>
<p>Akhirnya aku mengambil tombakku dan aku berangkat dengan pasukan kaum musyrikin. Aku berjalan di barisan belakang di dekat perempuan. Aku tidak mempunyai tujuan yang jelas dalam peperangan tersebut.</p>
<p>Setiap kali aku melewati Hindun, istri Abu Sufyan atau ketika dia melewatiku dan melihat tombak yang berkilauan di tanganku di bawah terik matahari, dia berkata, “Wahai Abu Dasamah! Sembuhkanlah luka hati kami (dengan membunuh muslimin), niscaya engkau akan merdeka.”</p>
<p>Ketika kami sampai di Uhud dan dua pasukan bertemu, aku mencari-cari keberadaan Hamzah bin Abdul Muthalib. Sebelumnya aku sudah mengenalnya. Hamzah tidak asing bagi siapapun, karena dia memakai bulu burung onta di kepalanya untuk menunjukkan kepahlawanannya. Sebagaimana yang biasa dilakukan orang-orang perkasa dari orang-orang Arab yang pemberani.</p>
<p>Tidak berselang lama, aku melihat Hamzah bin Abdil Muthalib. Hamzah berperang dengan dahsyat di arena peperangan, laksana unta yang sangat ganas. Dia menebas leher musuh dengan sangat mengerikan. Tidak ada orang yang bertahan dengan kuat di depannya dan tidak ada orang yang bisa menghadapinya.</p>
<p>Ketika aku bersiap-siap untuk membunuhnya, aku bersembunyi di balik pohon atau di balik batu besar sambil menunggu agar dia mendekat padaku. Tiba-tiba ada salah seorang penunggang kuda yang mendahuluiku. Orang itu bernama Siba’ bin Abdul ‘Uzza. Dia berkata, “Wahai Hamzah, hadapilah aku, hadapilah aku..”</p>
<p>Lalu Hamzahpun menghadapinya seraya berkata, “Marilah berhadap-hadapan denganku wahai anak musyrik! Majulah!”</p>
<p>Seketika itu juga Hamzah bin Abdil Muthalib menyabetkan pedangnya dan mengenai Siba’. Siba’ bin Abdul ‘Uzzah tersungkur mati dengan bersimbah darah di hadapan Hamzah.</p>
<p>Pada waktu itulah aku mencari posisi untuk membunuh Hamzah. Aku mengarahkan tombakku. Dan ketika aku sudah tenang, aku melemparkan tombakku hingga mengenai bawah perutnya dan tombak itu tembus di bagian antara dua kakinya.</p>
<p>Hamzah melangkah dua langkah dengan berat ke arahku. Kemudian Hamzah terjatuh dan tombak masih tertancap di tubuhnya. Aku membiarkan tombakku dalam tubuhnya sampai aku sangat yakin bahwa dia benar-benar sudah meninggal. Kemudian aku menghampiri jasadnya dan mencabut tombakku dari tubuhnya, setelah itu aku kembali ke tenda. Setelah itu aku duduk di dalam tenda, karena aku tidak mempunyai tujuan selain membunuh Hamzah. Aku membunuhnya agar aku bisa merdeka.</p>
<p>Peperangan berlangsung sangat sengit. Banyak di antara mereka yang tetap bertahan dalam peperangan namun ada juga yang melarikan diri. Hanya saja kekalahan nampak pada pasukan Rasulullah Saw. dan para sahabatnya. Banyak sekali di antara mereka yang meninggal dunia.</p>
<p>Pada waktu itulah pergilah Hindun binti ‘Utbah menuju korba-korban tewas dari kalangan kaum muslimin. Di belakang Hindun terdapat para wanita dari kalangan musyrikin yang mengikuti Hindun. Mereka berdiri di depan mayat kaum muslimin, mereka membelah perut mayat-mayat kaum muslimin, mencukil mata mereka, memotong hidung mereka, bahkan memotong telinga mereka.</p>
<p>Mereka membuat potongan telinga dan hidung kaum muslimin menjadi kalung dan anting-anting lalu memakainya. Di antara mereka ada yang menyerahkan kalung dan anting kuping serta hidung itu kepadaku. Mereka berkata, “Kalung dan anting itu untukmu wahai Abu Dasamah! Simpanlah, karena harganya mahal!”</p>
<p>Ketika perang sudah mereda dan usai. Aku bersama dengan para pasukan kembali ke Makkah. Jubair bin Muth’im berbuat baik padaku dengan menepati janjinya, memerdekakan diriku. Akhirnya aku merdeka.</p>
<p align="center">****</p>
<p>Namun tenyata agama yang dibawa oleh Muhammad semakin hari semakin berkembang. Pengikutnya semakin hari semakin bertambah. Dan setiap kali agama Muhammad bertambah kuat, aku semakin dilanda kesusahan. Aku selalu merasakan ketakutan dan kecemasan dalam diriku.</p>
<p>Aku terus merasakan hal tersebut, hingga akhirnya Rasulullah Saw. beserta pasukannya yang sangat banyak berhasil menaklukkan kota Makkah. Pada waktu itu aku pergi melarikan diri untuk mencari aman di Thaif.</p>
<p>Namun ternyata lambat laun kebanyakan penduduk Thaif juga memeluk Islam. Mereka menyiapkan utusan mereka untuk bertemu dengan nabi Muhammad serta mengikrarkan keislaman mereka.</p>
<p>Aku semakin bertambah menyesal dan bertambah bingung. Dunia yang luas terasa sempit olehku. Semua jalan terasa buntu. Aku berkata dalam diriku, “Aku akan pergi ke Syam, ke Yaman, atau ke negeri-negeri lain. Demi Allah, ketika aku dalam kondisi yang sangat kesusahan seperti ini, tiba-tiba datang seorang yang mau berbelas kasihan dan memberikan nasehat padaku. Orang tersebut berkata, “Celakalah kamu wahai Wahsyi! Sungguh Muhammad tidak akan membunuh seorangpun yang masuk ke dalam agamanya dan mau bersyahadat dengan benar.”</p>
<p>Setelah mendengar nasihatnya, seketika aku langsung keluar dan pergi menuju Madinah untuk mencari nabi Muhammad. Ketika aku sampai di Madinah, aku mencari tahu keberadaan beliau, dan ternyata beliau berada di masjid. Akupun memberanikan diri masuk ke dalam masjid dengan sangat takut dan khawatir. Aku pergi menghadapnya hingga aku berada di atas kepalanya. Aku mengatakan, “Aku bersaksi bahwa Tidak ada Tuhan Yang berhak disembah selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan RasulNya.”</p>
<p>Ketika beliau mendengar ucapan dua kalimat syahadat, beliau mengangkat pandangannya ke arahku. Ketika beliau mengetahui bahwa yang mengucapkan dua kalimat syahadat adalah diriku, belaiau kembali menundukkan pandangan beliau. Rasulullah bertanya, “Apakah engkau Wahsyi?”</p>
<p>Aku menjawab, “Betul wahai Rasulullah.”</p>
<p>Rasulullah berkata, “Duduklah dan ceritakanlah kepadaku bagaimana engkau membunuh Hamzah?”</p>
<p>Lalu aku duduk dan menceritakan peristiwa pembunuhan Hamzah kepada beliau. Ketika aku selesai menceritakannya, Rasulullah memalingkan wajahnya dariku seraya berkata, “Celakalah kamu wahai Wahsyi! Sembunyikanlah wajahku dariku. Aku tidak akan melihat wajahmu lagi setelah hari ini.”</p>
<p>Sejak hari itulah aku selalu menghindarkan wajahku agar tidak sampai terlihat oleh Rasulullah Saw.. Apabila para sahabat duduk di depan beliau, aku justru duduk di belakang beliau. Aku terus melakukan hal tersebut hingga Rasulullah wafat.</p>
<p align="center">****</p>
<p>Wahsyi melanjutkan ceritanya, meskipun aku tahu bahwa agama Islam menghapus semua perbuatan di waktu kafir, namun aku masih selalu terbayang-bayang dengan perbuatan keji yang aku lakukan maupun musibah besar yang aku timpakan kepada Islam dan kaum muslimin. Aku selalu mencari kesempatan untuk melakukan perbuatan yang dapat menghapuskan kesalahan masa laluku.</p>
<p align="center">****</p>
<p>Ketika Rasulullah Saw. wafat dan kepemimpinan kaum muslimin berada di tangan sahabatnya, Abu Bakar, penduduk Bani Hanifah, para pengikut Musailamah al-Kadzdzab murtad dari Islam. Akhirnya khalifah Rasulullah Saw. Abu Bakar mengerahkan pasukannya untuk memerangi Musailamah dan mengembalikan Bani Hanifah kepada Islam.</p>
<p>Aku berkata dalam diriku, “Wahai Wahsyi, Demi Allah, sungguh ini merupakan kesempatan yang harus kau gunakan. Jangan sampai kesempatan ini lepas darimu.”</p>
<p>Lalu aku keluar bersama tentara kaum muslimin. Aku membawa tombak yang aku gunakan untuk membunuh pemuka para syuhada’ Hamzah bin Abdul Muthalib. Aku bertekad kuat dalam diriku untuk melemparkan tombak tersebut ke tubuh Musailamah hingga dia tewas, atau aku yang akan menemui syahid.</p>
<p>Ketika kaum muslimin bertempur dengan para pengikut Musailamah dan menyerang musuh-musuh Allah di kebun kematian,<a title="" href="#_ftn1">[1]</a> aku mengawasi gerak-gerik Musailamah. Aku melihat Musailamah berdiri dengan pedang di tangannya. Aku juga melihat ada salah seorang sahabat dari kalangan anshar yang juga mengintainya seperti diriku. Kami berdua-dua bertekad untuk membunuhnya.</p>
<p>Ketika aku sudah berada pada posisi yang sangat strategis, aku menyiapkan tombakku. Ketika sudah siap, aku langsung  melemparkannya ke arah Musailamah. Dan ternyata tombakku berhasil menembus tubuhnya.</p>
<p>Pada saat yang sama ketika aku melemparkan tombakku, orang anshar itu berada di atas tubuh Musailamah lalu menyabetkan pedangnya ke tubuhnya dengan sekali sabetan.</p>
<p>Allah lebih tahu, siapa sebenarnya yang membunuhnya. Jika ternyata aku yang berhasil membunuhnya, maka sungguh aku sudah membunuh sebaik-baik orang sesudah nabi Muhammad dan juga membunuh sejelek-jelek manusia.” <a title="" href="#_ftn2">[2]</a></p>
<div>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Kebun tersebut digunakan oleh para pengikut Musailamah untuk menyelamatkan diri. Dinamakan kebun kematian karena banyaknya korban tewas dari pasukan Musailamah di kebun tersebut.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> Untuk lebih jelas mengenai sejarah Wahsy bin Harb silahkan baca kitab,</p>
<p>-          al-Ishabah (cetakan as-Sa’adah) juz 6 halaman 315</p>
<p>-          Usdul Ghabah juz 5 halaman 83-84</p>
<p>-          Al-isti’ab (cetakan Haidar Abad) juz 2 halaman 608-609</p>
<p>-          At-Tarikh al-Kabir juz 4 halaman 180</p>
<p>-          Al-Jam’u baina Rijâlus Shahihain juz 2 halaman 546</p>
<p>-          Tajrîdu asmâ’is Shahabah juz 2 halaman 136</p>
<p>-          Tahdzîbut Tahdzîb juz 11 halaman 113</p>
<p>-          As-Sirah an-Nabawiyyah, karya Ibnu Hisyam (lihat daftar isi)</p>
<p>-          Musnad Abu Dawud, halaman 186</p>
<p>-          Al-Kâmil, karya Ibnul Atsir juz 2 halaman 108</p>
<p>-          Târikh  at-Thabari (lihat daftar isi di juz 10)</p>
<p>-          Imtâ’ul Asmâ’ juz 1 halaman 152-153</p>
<p>-          Siyar A’lamin Nubala’ juz 1 halaman 129-130</p>
<p>-          Al-Ma’arif karya Ibnu Qutaibah halaman 144</p>
<p>-          Tarikh al-Islam, karya adz-Dzahabi, juz 1 halaman 252</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/masjidalkhoir.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/masjidalkhoir.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/masjidalkhoir.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/masjidalkhoir.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/masjidalkhoir.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/masjidalkhoir.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/masjidalkhoir.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/masjidalkhoir.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/masjidalkhoir.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/masjidalkhoir.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/masjidalkhoir.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/masjidalkhoir.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/masjidalkhoir.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/masjidalkhoir.wordpress.com/97/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masjidalkhoir.wordpress.com&amp;blog=2497400&amp;post=97&amp;subd=masjidalkhoir&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://masjidalkhoir.wordpress.com/2011/04/26/wahsyi-bin-harb/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ee8cc406cd6f4a6330c45ca64d20ace7?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">masjidalkhoir</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>AT-THUFAIL BIN AMR AD-DAUSI</title>
		<link>http://masjidalkhoir.wordpress.com/2011/02/18/at-thufail-bin-amr-ad-dausi/</link>
		<comments>http://masjidalkhoir.wordpress.com/2011/02/18/at-thufail-bin-amr-ad-dausi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Feb 2011 22:33:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>masjidalkhoir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sahabat Nabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masjidalkhoir.wordpress.com/?p=93</guid>
		<description><![CDATA[“Ya Allah turunkanlah satu ayat untuknya agar dapat membantunya untuk setiap kebaikan yang dia niatkan.”(salah satu doa Rasulullah ` kepada Thufail) &#160; Thufail bin Amr ad-Dausi adalah salah seorang pemuka suku ad-Daus pada masa jahiliyyah. Dia juga termasuk salah seorang tokoh di kalangan penduduk arab yang mempunyai derajat yang tinggi. Thufail merupakan salah seorang di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masjidalkhoir.wordpress.com&amp;blog=2497400&amp;post=93&amp;subd=masjidalkhoir&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#0000ff;"><em>“Ya Allah turunkanlah satu ayat untuknya agar dapat membantunya untuk setiap kebaikan yang dia niatkan.”</em>(salah satu doa Rasulullah ` kepada Thufail)</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Thufail bin Amr ad-Dausi adalah salah seorang pemuka suku ad-Daus pada masa jahiliyyah. Dia juga termasuk salah seorang tokoh di kalangan penduduk arab yang mempunyai derajat yang tinggi. Thufail merupakan salah seorang di antara orang sekian banyak orang yang mempunyai keindahan akhlak.</p>
<p style="text-align:justify;">Bejana miliknya tidak pernah diangkat dari api, pintunya tidak pernah tertutup bagi siapapun yang mengetuk pintu rumahnya. Sa’id selalu  memberi makan orang-orang yang lapar, memberikan keamanan bagi orang yang sedang dilanda ketakukan dan memberikan tempat tinggal bagi orang yang membutuhkannya.<span id="more-93"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Thufail bin Amir adalah ahli sastra yang sangat cerdas dan pandai; salah seorang ahli syair yang dapat menajamkan perasaan. Perasaannya sangat lembut, sangat mengetahui kata-kata yang manis dan kata-kata yang pedas. Thufail sangat mengetahui kata-kata yang bisa menarik perhatian.</p>
<p style="text-align:justify;">Thufail meninggalkan perkampungannya di Tihamah<a href="#_ftn1">[1]</a> menuju Makkah. Pada waktu itu terjadi pertikaian antara nabi Muhammad ` dengan orang-orang Kafir Quraisy. Masing-masing dari mereka mencari orang yang dapat menolongnya. Mereka juga saling mencari orang-orang yang dapat membantu kelompok mereka. Adapun Rasulullah ` selalu meminta pertolongan kepada Allah l,, , sedangkan senjatanya adalah kebenaran dan keimanan. Sedangkan orang-orang kafir Quraisy  memerangi dakwah Rasulullah ` dengan berbagai senjata yang ada dan menghalang-halangi manusia dari dakwahnya dengan segala cara.</p>
<p style="text-align:justify;">Thufail menyadari bahwa dirinya masuk ke dalam peperangan tersebut dengan tanpa persiapan. Dia masuk ke dalam peperangan tersebut dengan tanpa tujuan yang jelas.</p>
<p style="text-align:justify;">Thufail  pergi ke Makkah tidak bermaksud untuk mengikuti peperangan tersebut. Tidak pernah sedikitpun terlintas dalam pikirannya masalah orang-orang Quraisy dengan nabi Muhammad.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari peperangan inilah terdapat sejarah tentang Thufail bin Amr yang tidak pernah terlupakan. Marilah kita simak kisah-kisahnya,  karena ini merupakan sebuah kisah yang sangat menarik. Thufail bercerita,</p>
<p style="text-align:justify;">Aku pergi menuju Makkah, sesampainya di Makkah para pembesar Quraisy segera mendekatiku dan menyambutku dengan sambutan yang sangat hangat. Mereka mengajakku untuk singgah di rumah orang yang paling mulia di antara mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Para pembesar dan pemuka Quraisy berkumpul padaku dan berkata, “Wahai Thufail, sungguh engkau sudah mendatangi negeri kami. Perlu kamu ketahui bahwa orang yang mengaku nabi tersebut sudah merusak urusan dan memecah belah hubungan kami serta menceraiberaikan persatuan kami. Sesungguhnya kami sangat khawatir jika Muhammad masuk ke dalam negerimu dan memecah belah para pemuka negerimu sebagaimana yang terjadi pada kami. Janganlah engkau mendengarkan perkataan orang tersebut (Muhammad), karena perkataanya sangat memikat laksana sihir. Muhammad akan memisahkan antara seorang anak dan ayahnya, antara satu saudara dengan saudara lainnya, dan antara suami dengan istrinya.”</p>
<p style="text-align:justify;">Thufail berkata, “Demi Allah orang-orang Quraisy selalu menceritakan kepadaku kisah-kisah yang aneh tentang nabi Muhammad. Mereka menakut-nakutiku dan kaumku dengan perilaku Muhammad yang aneh, hingga aku bertekad untuk tidak mendekati Muhammad, mengajak berbicara maupun mendengar perkataannya. Dan ketika aku pergi ke masjid untuk thawaf di Ka’bah dan  meminta berkah kepada semua berhala yang ada di sana, aku menutupi kedua telingaku dengan kapas agar aku tidak mendengar sedikitpun perkataan Muhammad.</p>
<p style="text-align:justify;">Akan tetapi ketika aku masuk ke dalam masjid, aku mendapati Rasulullah `,, sedang melakukan shalat yang berbeda dengan shalat kami dan melakukan peribadatan di Ka’bah yang berbeda dengan peribadatan kami. Lalu tanpa sadar aku mendekatinya sedikit demi sedikit.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan ternyata Allah berkehendak lain. Sebagian perkataan Muhammad sampai di telingaku. Aku mendengarkannya dan ternyata perkataan itu sangat indah sekali. Aku berkata dalam diriku, “Wahai Thufail celaka kamu, sungguh engkau adalah ahli sastra yang sangat pandai sekali. Engkau mampu  membedakan kebaikan dan kejelekan. Lalu apa yang menghalangimu untuk mendengarkan apa yang dikatakan laki-laki (Muhammad) itu? Jika yang dia katakan adalah baik, maka aku akan menerimanya. Dan apabila yang dia katakan adalah jelek, maka aku akan  meninggalkannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Thufail melanjutkan ceritanya,</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu aku tetap tinggal di tempat tersebut hingga Rasulullah pulang ke rumahnya. Dari belakang aku mengikuti Rasulullah. Dan ketika beliau masuk ke dalam rumahnya, aku juga turut masuk. Aku berkata, “Wahai Muhammad, sesungguhnya semua kaummu berkata kepadaku bahwa kamu adalah begini dan begitu. Demi Allah, mereka selalu menakut-nakutiku hingga aku menyumpalkan kapas ke dalam kedua telingaku agar aku tidak mendengar perkataanmu. Namun Allah menghendaki aku mendengar sedikit perkataanmu. Aku dapati perkataanmu sangat indah. Sampaikan kepadaku tentang urusanmu.”</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu Muhammad menjelaskan masalahnya kepadaku dan membacakan surat al-Ihlas dan al-Falaq kepadaku. Demi Allah aku tidak pernah mendengar perkataan yang lebih baik dari perkataan tersebut. Aku belum masalah yang lebih  adil dari urusan Muhammad.</p>
<p style="text-align:justify;">Seketika itu juga aku membentangkan kedua tanganku dan aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah  melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Lalu aku masuk Islam.</p>
<p style="text-align:justify;">****</p>
<p style="text-align:justify;">Aku tinggal di Makkah beberapa saat. Aku belajar agama Islam dan menghafal beberapa ayat yang mudah aku hafal. Dan ketika aku berniat kembali menemui kaumku aku berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh aku adalah orang yang sangat ditaati oleh kaumku. Aku akan pulang menemui mereka dan menyeru mereka agar masuk ke dalam Islam. Berdoalah kepada Allah agar memberikan tanda kepadaku yang membantuku untuk menyeru mereka ke dalam Islam.” Lalu Rasulullah `, berdoa, “Ya Allah berikanlah tanda padanya.”</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu aku pergi menemui kaumku. Dan ketika aku berada di sebuah tempat yang mulia di rumah mereka, terdapat cahaya yang berada di antara kedua mataku. Cahaya itu seperti cahaya lampu. Aku berdoa, “Ya Allah janganlah engkau meletakkan cahaya itu di antara kedua mataku. Aku takut jika mereka mengira bahwa tanda itu adalah siksa karena aku meninggalkan agama mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Akhirnya cahaya itu berpindah ke ujung cemetiku. Semua manusia menyaksikan cahaya itu. Seakan-akan cahaya tersebut adalah sapu tangan yang tergantung di ujung cemetikul. Lalu aku turun menemui mereka dari bukit. Ketika aku turun dari bukit ayahku menemuiku. Ayahkan adalah orang yang sudah sangat tua renta. Aku berkata, “Menyingkirlah engkau dariku wahai ayahku, karena saat ini aku bukanlah pemeluk agamamu dan bukanlah engkau  pemeluk agamaku.” Ayahku bertanya, “Mengapa bisa begitu wahai anakku?” Aku menjawab, “Aku sudah masuk ke dalam agama Muhammad `.</p>
<p style="text-align:justify;">Ayahku menjawab, “Wahai anakku, agamaku adalah agamamu.” Aku bertanya, “Mandilah engkau wahai ayahku kemudian dan sucikanlah pakaianmu. Setelah itu datanglah kepadaku. Aku akan mengajarimu apa yang sudah diajarkan kepadaku.”</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian ayahku pergi dan mandi. Setelah itu ayahku datang padaku. Lalu aku menawarkan Islam padanya. Akhirnya ayahku masuk ke dalam agama Islam.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah itu datanglah istriku. Aku berkata, “Menyingkirlah engkau dariku wahai istriku, karena saat ini aku bukanlah pemeluk agamamu dan bukanlah engkau pemeluk agamaku.” Istriku bertanya, “Demi ayah dan ibuku, ada apa denganmu?” Aku menjawab, “Agama Islam telah memisahkan antara diriku dan dirimu. Aku telah menganut agama nabi Muhammad.” Istriku menjawab, “Agamaku adalah agamamu juga.” Lalu aku berkata, “Pergilah dan bersucilah dengan menggunakan air <em>Dzis Syara</em>. <em>Dzi Syara </em>adalah nama sebuah patung milik kabilah Daus. Di sekelilingnya terdapat air yang mengalir dari gunung. Lalu istriku berkata, “Demi ayah dan ibuku, tidakkah engkau sedikitpun takut pada  <em>Dzi Syara </em>jika berbuat sesuatu kepada perempuan?” Aku berkata, “Demi Dzat Yang memiliki <em>Dzi Syaro,</em> celakalah kamu,,, aku perintahkan kepadamu, pergilah dan mandilah di tempat yang jauh dari manusia. Aku yang akan menjaminmu bahwa batu yang tidak berdaya itu tidak akan berbuat sedikitpun kepadamu.”</p>
<p style="text-align:justify;">Akhirnya istriku pergi dan bersuci lalu datang lagi kepadamu. Aku menawarkan agama Islam kepadanya dan diapun masuk ke dalam agama Islam.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian aku berdakwa kepada kabilah Daus. Dan aku dapati mereka lambat sekali menerima seruanku kecuali Abu Hurairah. Dia adalah orang yang paling cepat sekali menerima dakwahku.</p>
<p style="text-align:justify;">Thufail melanjutkan ceritanya,</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu aku pergi menghadap Rasulullah di Makkah. Aku pergi bersama Abu Hurairah. Lalu nabi` bertanya kepadaku, “Apa yang kau hadapi wahai Thufail?” Aku menjawab, “Hati yang tertutup oleh tirai penghalang kebenaran, dii atasnya terdapat kekufuran yang sangat besar. Sungguh penduduk Daus sudah terkalahkan oleh kefasikan dan kemaksiatan.”</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu Rasulullah berdiri kemudian mengambil air wudlu dan menunaikan shalat. Setelah selesai menunaikan shalat, beliau mengangkat tangannya ke atas langit. Abu Hurairah berkata, “Ketika aku melihat Rasulullah melakukan hal tersebut aku sangat takut jika beliau mendoakan kejelekan kepada kaumku kemudian mereka binasa.” Lalu aku berkata, “Alangkah celakanya kaumku.”</p>
<p style="text-align:justify;">Namun ternyata Rasulullah berdoa, “Ya Allah berilah petunjuk kepada kabilah Daus, Ya Allah berilah petunjuk kepada kabilah Daus, ya Allah berilah petunjuk kepada kabilah Daus.”</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu Rasulullah memalingkan wajahnya kepada Thufail dan berkata, “Pergilah menemui kaummu dan bimbinglah mereka kemudian ajaklah mereka masuk ke dalam Islam.”</p>
<p style="text-align:justify;">Thufail berkata, “Dan ketika aku kembali pada kaumku, ternyata waktu itu juga Rasulullah ` hijrah ke Madinah. Sesudah itu terjadilah perang Badar, Uhud dan Khandaq. Lalu aku menghadap Rasulullah ` dan aku membawa delapan puluh rumah kabilah Daus dalam keadaan Islam dan Islam mereka sudah sangat bagus. Melihat hal tersebut Rasulullah merasa senang dengan kami. Lalu Rasulullah memberikan kepada kami dan juga umat Islam ghanimah dari perang Khaibar. Kami berkata, “Wahai Rasulullah jadikanlah kami pasukan sayap kananmu di setiap peperangan. Berilah kami gelar “<em>Al-Mabrur”.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Thufail berkata, “Aku tetap tinggal bersama Rasulullah hingga terjadilah peristiwa penaklukan kota Makkah. Aku berkata, “Wahai Rasulullah, utuslah aku pada <em>Dzil Kafain, </em>(berhala milik Amr bin Hamamah). Aku akan membakarnya. Rasulullah mengizinkannya. Lalu Thufail pergi bersama satu rombongan ekspedisi (sariyyah) dari kalangan kaumnya menuju patung-patung kabilahnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika Thufail telah sampai di patung tersebut dan hendak membakarnya, para wanita, laki-laki dan anak-anak berkumpul di sekelilingnya.  Mereka menunggu petaka yang akan menimpa Thufail. Mereka menunggu datangnya petir yang akan menyambarnya jika dia mencelakakan patung mereka yang bernama <em>Dzil Kaffain.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Akan tetapi Thufail menghadap patung tersebut dalam keadaan disaksikan oleh para pemujanya. Lalu Thufail menyalakan api tepat di hatinya seraya berkata dengan kasar, “Wahai <em>Dzil Kaffain,</em> aku bukanlah pemujamu. kelahiran kami lebih dulu daripada kelahiranmu. Sungguh aku telah mengisi hatimu dengan kobaran api.”</p>
<p style="text-align:justify;">Seketika itu juga api melahap patung tersebut bersamaan dengan itu terlahap pula kesyirikan kabilah Daus. Akhirnya seluruh penduduk kabilah Daus memeluk Islam dan kualitas Islam mereka sangat bagus.</p>
<p style="text-align:justify;">****</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah itu Thufail selalu berada di dekat Rasulullah ` hingga beliau menghadap Allah k.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan ketika tampuk kepemimpinan beralih pada sahabat beliau yang bernama Abu Bakar, Thufail menyerahkan sepenuh dirinya, pedangnya dan anak-anaknya untuk taat kepada khalifah Rasulullah.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika perang Riddah berkecamuk untuk memerangi orang-orang yang murtad, Thufail ikut serta dalam pasukan kaum Muslimin untuk memerangi pasukan Musailamah al-Kadzâb beserta anaknya yang bernama Amr.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam perjalanannya ke Yamamah Thufail bermimpi. Lalu dia bertanya kepada para sahabatnya, “Sungguh aku bermimpi. Tolong tafsirkanlah mimpi tersebut.” Para sahabatnya bertanya, “Engkau bermimpi melihat apa?” Thufail menjawab, “Aku bermimpi bahwa kepalaku dicukur gundul dan ada burung yang keluar dari mulutku, lalu ada perempuan yang memasukkanku ke dalam perutnya. Pada waktu itu datanglah putraku, Amr. Dia memintaku untuk bersegera namun dia dihalang-halangi dariku.”</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu mereka berkata, “Itu adalah tanda yang baik.” Lalu Thufail berkata, “Demi Allah aku sudah menafsirkan mimpi tersebut. Adapun mengenai kepala yang dicukur, maka itu menunjukkan kepala yang akan dipotong. Sedangkan burung yang keluar dari mulutku, maka itu adalah nyawa yang keluar dari jasadku. Sedangkan perempuan yang memakanku tafsirnya adalah bumi yang akan memakan jasadku setelah dikuburkan. Sungguh aku sangat berharap untuk mati syahid. Sedangkan permintaan anakku kepadaku maka tafsirnya adalah, anakku meminta mati syahid sebagaimana aku, dan ternyata Allah mengizinkannya namun terjadi sesudahku.”</p>
<p style="text-align:justify;">****</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam peperangan Yamamah sahabat yang mulia, Thufail bin Amr mendapatkan ujian yang sangat besar sekali. Hingga dia tersungkur mati syahid di tanah peperangan.</p>
<p style="text-align:justify;">Sedangkan putranya yang bernama Amr masih terus berperang hingga merasa lemah karena banyaknya luka yang ada di tubuhnya. Telapak tangan kanannya putus. Dia pulang dari Yamamah dalam keadaan kehilangan ayahnya dan telapak tangannya yang kanan.</p>
<p style="text-align:justify;">****</p>
<p style="text-align:justify;">Suatu hari  pada masa kekholifahan Umar bin Khattab Amr bin Thufail masuk ke rumah Umar Al-Faruq. Lalu dihidangkan makanan di depannya. Semua orang duduk di sekeliling Umar. Umar mengajak mereka untuk menyantap makanan tersebut. Lalu Amr menyingkir dari makanan tersebut. Akhirnya Umar al-Faruq bertanya padanya, “Apakah kamu menyingkir karena malu dengan tanganmu yang putus tersebut?” Amr menjawab, “Betul wahai Amirul Mukminin.” Umar berkata, “Demi Allah, aku tidak akan menyantap makanan ini hingga engkau mencampurnya dengan tanganmu yang terputus terputus. Demi Allah tidak ada seorangpun yang anggota badannya sudah berada di surga kecuali engkau. (yang dimaksud Umar adalah tangannya yang sudah mendahuluinya masuk ke dalam surga).</p>
<p style="text-align:justify;">Bayang-bayang kesyahidan selalu terlihat oleh Amr semenjak kesyahidan ayahnya. Dan ketika terjadi peperangan Yarmuk<a href="#_ftn2">[2]</a>, seketika itu juga dia bersegera bersama kaum Muslimin untuk berperang hingga meraih kesyahidan yang telah lama dia dan ayahnya idam-idamkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Semoga Allah melimpahkan belas kasihnya kepada Thufail bin Amr ad-Dausi. Sungguh dia telah mati syahid, dia adalah ayah yang memiliki putra yang juga mati syahid.<a href="#_ftn3">[3]</a></p>
<div>
<hr size="1" />
<div style="text-align:justify;">
<p><a href="#_ftnref1">[1]</a> Sebuah dataran di daerah tepian pantai yang dekat dengan Laut Merah</p>
</div>
<div style="text-align:justify;">
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Perang Yarmuk adalah salah satu peperangan yang sering diceritakan dalam sejarah. Terjadi pada tahun 15 H, pada peperangan tersebut Umat Islam mengalami kemenangan yang gemilang mengalahkan bangsa Romawi.</p>
</div>
<div>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref3">[3]</a> Untuk lebih lengkap mengetahui kisah Thufail bin Amr ad-Dausi, silahkan baca kitab,</p>
<p style="text-align:justify;">-          al-Ishabah (thab’atus Sa’adah), juz 3 halaman 286-288</p>
<p style="text-align:justify;">-          Usdul Ghabah juz 3 halaman 54-55</p>
<p style="text-align:justify;">-          Sifatus Shafwah, juz 1 halaman 245-246</p>
<p style="text-align:justify;">-          Siyar A’lamin Nubalâ juz 1 halaman 248-250</p>
<p style="text-align:justify;">-          Mukhtasor Târikh Dimasyqa juz 3 halaman 59-64</p>
<p style="text-align:justify;">-          Al –Bidayah wan Nihayah juz 6 halaman 336</p>
<p style="text-align:justify;">-          Syuhada’ul Islam halaman 138-143</p>
<p style="text-align:justify;">-          Sirah Al-Bathal, karya Muhammad Zaidan yang diterbitkan oleh Dar as-Su’udiyyah pada tahun 1386 H</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/masjidalkhoir.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/masjidalkhoir.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/masjidalkhoir.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/masjidalkhoir.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/masjidalkhoir.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/masjidalkhoir.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/masjidalkhoir.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/masjidalkhoir.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/masjidalkhoir.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/masjidalkhoir.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/masjidalkhoir.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/masjidalkhoir.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/masjidalkhoir.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/masjidalkhoir.wordpress.com/93/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masjidalkhoir.wordpress.com&amp;blog=2497400&amp;post=93&amp;subd=masjidalkhoir&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://masjidalkhoir.wordpress.com/2011/02/18/at-thufail-bin-amr-ad-dausi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ee8cc406cd6f4a6330c45ca64d20ace7?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">masjidalkhoir</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ABDULLAH BIN UMMI MAKTUM</title>
		<link>http://masjidalkhoir.wordpress.com/2011/01/25/abdullah-bin-ummi-maktum/</link>
		<comments>http://masjidalkhoir.wordpress.com/2011/01/25/abdullah-bin-ummi-maktum/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Jan 2011 23:57:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>masjidalkhoir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sahabat Nabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masjidalkhoir.wordpress.com/?p=75</guid>
		<description><![CDATA[Seorang laki-laki buta yang Allah turunkan ayat mengenainya sebanyak enam ayat yang akan terus dibaca dan akan terus dibaca hingga hari kiamat.” (Ahli Tafsir al-Qur’an) Siapakah laki-laki yang dengan sebabnya Rasulullah mendapat teguran yang sangat keras dari atas langit ke tujuh dengan teguran yang sangat membuat beliau sakit. Siapakah laki-laki yang dengan sebabnya malaikat Jibril [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masjidalkhoir.wordpress.com&amp;blog=2497400&amp;post=75&amp;subd=masjidalkhoir&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#0000ff;"><em>Seorang laki-laki buta yang Allah turunkan ayat mengenainya sebanyak enam ayat yang akan terus dibaca dan akan terus dibaca hingga hari kiamat.”</em></span></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><strong>(Ahli Tafsir al-Qur’an)</strong></span></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Siapakah laki-laki yang dengan sebabnya Rasulullah mendapat teguran yang sangat keras dari atas langit ke tujuh dengan teguran yang sangat membuat beliau sakit.</p>
<p>Siapakah laki-laki yang dengan sebabnya malaikat Jibril datang untuk menyampaikan wahyu dari Rasulullah untuk nabi Muhammad?”</p>
<p>Dia adalah Abdullah bin Ummi Maktum, muadzin Rasulullah `.</p>
<p>Abdullah bin Ummi  Maktum berasal dari Makkah dari suku Quraisy. Dia masih mempunyai hubungan darah dengan Rasulullah`. Abdullah bin Ummi Maktum adalah putra paman Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwailid ra, istri beliau.<span id="more-75"></span></p>
<p>Ayahnya bernama Qais bin Zaid dan ibunya bernama Atikah binti Abdullah. Atikah dipanggil dengan sebutan Ummi Maktum karena dia  melahirkan Abdullah dalam keadaan buta.</p>
<p>Abdullah bin Ummi Maktum menyaksikan munculnya ‘cahaya di Makkah. Dia merupakan orang yang terdahulu masuk ke dalam Islam.</p>
<p>Abdullah bin Ummi Maktum hidup di tengah-tengah cobaan yang menimpa kaum muslimin, namun dia menghadapinya dengan penuh pengorbanan, keteguhan, dan kekokohan iman.</p>
<p>Abdullah bin Ummi Maktum menghadapi semua cobaan yang menimpa para sahabatnya dari kalangan kaum muslimin. Dia juga merasakan siksaan yang mereka rasakan, namun dia kehilangan nyali, semangatnya tidak memudar dan imannya tidak melemah.</p>
<p>Hal itu justru menambah keteguhannya dalam berpegang teguh pada agama Islam, semakin bergantung kepaa Al-Qur’an, semakin mendalami syariat Allah, dan semakin menerima ajaran Rasulullah `.</p>
<p>Di antara bentuk loyalitasnya pada Rasulullah dan bentuk kesungguhannya dalam menghafal al-Qur’an ialah Abdullah bin Ummi Maktum selalu menggunakan setiap kesempatan yang ada untuk menghafalnya. Setiap kali ada peluang dia langsung mengambilnya.  Bahkan terkadang dia mengabaikan hak-haknya dan hak Rasul karena besarnya keinginan untuk mendalami Islam.</p>
<p>Pada saat-saat itu Rasulullah sedang gencar-gencarnya berdakwah kepada para pemuka Quraisy sangat berambisi untuk mengislamkan mereka. Pada suatu hari Rasulullah mengadakan pertemuan dengan Utbah bin Rabi’ah ,saudaran kandungnya Syaibah bin Rabi’ah, Amr bin Hisyam atau yang lebih dikenal dengan sebutan Abu Jahal, dan Walid bin Mughirah ayah Khalid bin Walid sang pedang Allah. Rasulullah membujuk mereka dan menjelaskan indahnya Islam kepada mereka. Rasulullah sangat berambisi mereka semua mau mengikuti seruan Rasulullah atau mereka menghentikan siksaan mereka kepada para sahabat beliau.</p>
<p>Ketika Rasulullah masih mengadakan pertemuan dengan para pemuka Quraisy, tiba-tiba datanglah Abdullah bin Ummi Maktum yang hendak meminta Rasulullah agar mengajarinya sebagaian ayat Al-Qur’an. Abdullah bin Ummi Maktum berkata, “Wahai Rasulullah ajarkan padaku ayat yang diajarkan Allah kepadamu.”</p>
<p>Namun Rasulullah justru memalingkan wajah dari Abdullah bin Ummi Maktum dan bermuka masam padanya. Rasulullah lebih mementingkan para pemuka kaum Quraisy. Rasulullah lebih mementingkan mereka dengan harapan agar mereka masuk ke dalam Islam dan keislaman mereka akan menyebabkan Islam mulia dan dapat membantu dakwah Rasulullah.</p>
<p>Ketika Rasulullah telah selesai mendakwahi para pemuka Quraisy dan bercakap-cakap dengan mereka, akhirnya beliau pulang. Ketika Rasulullah hendak pulang tiba-tiba Allah menahan sebagian penglihatan beliau. Beliau merasakan seakan-akan ada orang yang memukul kepalanya.</p>
<p><em>1. </em><em>Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling,2.  Karena Telah datang seorang buta kepadanya3.  Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa),4.  Atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?5.  Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup,6.  Maka kamu melayaninya.7.  Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman).8.  Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran),9.  Sedang ia takut kepada (Allah), 10.  Maka kamu mengabaikannya.11.  Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan,12.  Maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya,13.  Di dalam kitab-kitab yang dimuliakan,14.  Yang ditinggikan lagi disucikan,15.  Di tangan para penulis (malaikat),16.  Yang mulia lagi berbakti.</em><strong>(Abasa: 1-16)</strong></p>
<p>Ada enam belas ayat yang Allah turunkan melalui perantara malaikat Jibril  ke dalam hati nabi Muhammad mengenai masalah Abdullah bin Ummi Maktum. Ayat itu sampai saat ini masih dibaca, dan akan terus dibaca hingga berakhirnya dunia kelak.</p>
<p>Sejak saat itulah Rasulullah mulai menghargai kedudukan Abdullah bin Ummi Maktum. Rasulullah selalu mendekat pada majlisnya apabila bertemu dengan Abdullah bin Maktum. Beliau juga selalu menanyakan kabarnya dan membantu Abdullah bin Ummi Maktum untuk menunaikan semua kebutuhannya.</p>
<p>Hal itu tidak mengherankan karena dengan sebabnya Rasulullah mendapatkan teguran yang sangat keras dari atas langit tujuh.</p>
<p>Ketika kaum Quraisy semakin membabi buta dalam menyiksa orang-orang beriman dan cobaan  mereka semakin kuat, Allah mengizinkan kaum muslimin untuk berhijrah. Abdullah bin Ummi Maktum adalah orang yang paling dahulu meninggalkan negerinya dan berlari meninggalkan agamanya.</p>
<p>Abdullah bin Ummi Maktum dan Mush’ab bin Umair adalah  orang yang paling pertama di kalangan para sahabat beliau yang hijrah ke Madinah.</p>
<p>Sesampainya di Madinah, Abdullah bin Ummi Maktum dan Mush’ab bin Umair langsung berpisah untuk membacakan al-Qur’an dan mengajarkan masalah agama kepada penduduk Madinah.</p>
<p>Sedangkan ketika Rasulullah` telah sampai di Madinah, Abdullah bin Ummi Maktum dan Bilal bin Rabah menjadi muadzin Rasulullah `. Keduanya mengumandangkan kalimat tauhid sebanyak lima kali dalam sehari. Keduanya sama-sama  mengajak manusia menuju kebaikan dan menghasung mereka menuju keberuntungan.</p>
<p style="text-align:justify;">Terkadang Bilal bin Rabah yang mengumandangkan adzan sedangkan Abdullah bin Ummi Maktum yang membaca iqamat. Atau terkadang Abdullah bin Ummi Maktum yang mengumandangkan adzan sedangkan Bilal bin Rabah yang membaca iqamat.</p>
<p>Sedangkan ketika Ramadhan Abdullah bin Ummi Maktum dan Bilal bin Rabah memiliki hal yang berbeda dibandingkan yang lainnya. Kaum muslimin mulai melaksanakan sahur ketika mendengar adzan salah satu dari keduanya dan menahan makan mereka ketika mendengar adzan salah satu dari keduanya.</p>
<p>Bilal mengumandangkan adzan malam membangunkan manusia, sedangkan Abdullah bin Ummi Maktum mengumandangkan adzan subuh setelah mencari waktu yang tepat dan ternyata tidak pernah keliru.</p>
<p>Di antara bentuk penghormatan lain Rasulullah  kepada Abdullah bin Ummi Maktum adalah beliau menjadikannya sebagai pengganti di Madinah ketika beliau tidak berada di Madinah selama beberapa puluh kali, salah satunya adalah ketika Rasulullah pergi untuk menaklukkan kota Makkah.</p>
<p>Pada akhir perang Badar Allah menurunkan ayat al-Qur’an kepada nabiNya yang meninggikan kedudukan para mujahidin (orang yang ikut berperang) dan memberikan keutamaan kepada mereka dibandingkan orang-orang yang tidak ikut berperang. Hal itu ternyata membuat para mujahidin semakin bersemangat, dan membuat orang yang tidak berperang menjadi ikut. Hal itu ternyata sangat membekas dalam diri Abdullah bin Ummi Maktum, dirinya merasa berkecil hati karena tidak bisa turut memperoleh keutamaan tersebut.</p>
<p>Abdullah bin Ummi Maktum berkata kepada Rasulullah `, Wahai Rasulullah, seandainya aku mampu untuk berjihad niscaya aku akan melakukannya. Setelah itu Abdullah bin Ummi Maktum berdoa kepada Allah dengan hati yang khusyu’ agar menurunkan ayat Qur’an yang menerangkan tentang kondisinya dan orang-orang yang senasib dengannya yang merasa sedih karena tidak bisa turut berjihad.</p>
<p>Dengan penuh rendah hati dia berdoa, “Ya Allah, turunkanlah ayat yang menerangkan tentang alasanku tidak berperang….  Ya Allah, turunkanlah ayat yang menerangkan tentang alasanku tidak berperang.”</p>
<p>Tidak lama berselang setelah itu Allah kmenurunkan ayatnya.</p>
<p>Zaid bin Tsabit, penulis wahyu yang Allah turunkan bercerita, “Aku berada di sebelah Rasulullah. Pada waktu itu Rasulullah sangat tenang, paha beliau berada di atas pahaku. Aku belum pernah mendapati paha yang lebih berat dari paha beliau. Dan ternyata pada waktu itu beliau sedang menerima wahyu.</p>
<p>Rasulullah berkata, “Wahai Zaid, tulislah! Lalu aku menuliskan</p>
<p>لاَيَسْتَوِى الْقَائِدُوْنَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُجَاهِدُوْنَ فِيِ سَبِيْلِ اللهِ&#8230;.</p>
<p><em>“Tidaklah sama orang-orang yang tidak berperang dari kalangan orang beriman dengan orang yang berperang di jalan Allah….”</em></p>
<p>Lalu Abdullah bin Ummi Maktum berdiri dan bertanya, “Wahai Rasulullah, lalu bagaimana dengan orang yang tidak mampun untuk berjihad?” Tidak berselang lama setelah beiau bertanya, tiba-tiba Rasulullah kembali tenang dan paha beliau jatuh ke atas pahaku (Zaid bin Tsabit). Aku  merasakan berat yang sama dengan sebelumnya pada paha Rasulullah. Lalu turunlah wahyu kepada beliau.</p>
<p>Rasulullah berkata, “Bacalah apa yang engkau tuliskan wahai Zaid!”</p>
<p>Lalu aku membacakan,</p>
<p>لاَيَسْتَوِى الْقَائِدُوْنَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ</p>
<p><em>“Tidaklah sama orang-orang yang tidak berperang dari kalangan orang beriman&#8230;.</em></p>
<p>Rasulullah bersabda, “Tulislah ayat ini..</p>
<p>غَيْرُ أُولِى الضَّرَرِ</p>
<p><em>“…selain dari orang yang mempunyai halangan…”</em></p>
<p>Akhirnya Allah menurunkan ayat yang diinginkan Abdullah bin Ummi Maktum.</p>
<p>Meskipun Allah sudah memberikan toleransi bagi Abdullah bin Ummi Maktum untuk tidak turut berjihad namun jiwanya yang sangat mulia itu enggan untuk tinggal bersama orang-orang yang tidak ikut berperang (tanpa alasan). Dia bertekad kuat untuk bisa turut berjihad di jalan Allah. Hal itu karena orang yang berjiwa besar hanya mau dengan segala hal yang besar.</p>
<p>Sejak saat itulah dia bertekad kuat untuk tidak absen jika ada peperangan. Dia sudah merancang apa yang akan dia perbuat di arena peperangan. Abdullah bin Ummi Maktum berkata, “Taruhla aku di antara dua barisan perang, dan letakkanlah panji perang di pundakku, aku akan menjaganya, karena aku tidak bisa melarikan diri.”</p>
<p>Pada tahun 14 H, Umar bin Khattab bertekad kuat untuk dapat bersama-sama dengan pasukan berkuda muslimin di peperangan hingga mampu mengobrak-abrik kerajaan musuh, membinasakannya dan membukakan pintu masuk bagi pasukan kaum muslimin. Umar menuliskan surat kepada pegawainya yang berbunyi,</p>
<p>“Kerahkan secepatnya kepadaku semua orang yang mempunyai senjata, mempunyai kuda perang, dan mempunyai penglihatan!”</p>
<p>Akhirnya semua kaum muslimn memenuhi seruan Umar bin Khattab. Mereka semua pergi menuju Madinah dari berbagai penjuru daerah. Di antara pasukan berperang tersebut adalah Abdullah bin Ummi Maktum, sahabat yang buta.</p>
<p>Rasulullah mengangkat kepada pasukan sahabat-sahabat senior seorang komandan, yaitu Sa’ad bin Abi Waqqash. Rasulullah menasihatinya kemudian melepaskan kepergiannya.</p>
<p>Ketika pasukan muslimin tiba di daerah Qadisiyyah, nampaklah Abdullah bin Ummi Maktum dengan mengenakan baju perangnya dan membawa perlengkapan yang sangat lengkap. Dia membawa dan menjaga panji perang kaum muslimin atau mati dibawanya.</p>
<p>Pasukan kaum muslimin bertemu dengan pasukan kafir. Peperangan berlangsung sangat sengit. Peperangan sedahsyat itu belum pernah terjadi dalam peperangan maupun penaklukkan sebelumnya. Baru pada hari ketiga dalam peperangan tampaklah kemenangan bagi kaum Muslimin.</p>
<p>Saat itu kerajaan yang paling besar tercabik-cabik oleh kaum muslimin. Tahta kerajaan binasa di tangan mereka. Panji tauhid berkibar di negeri penyembah berhala. Namun perang yang besar ini harus dibayar mahal dengan syahidnya ratusan syuhada’, di antara yang gugur menjadi syahid adalah Abdullah bin Ummi Maktum.</p>
<p>Abdullah bin Ummi Maktum mendapatkan luka yang sangat parah dan tersungkur syahid dalam keadaan memeluk panji perang.<a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<div>
<hr size="1" />
<div>
<p><a href="#_ftnref1">[1]</a> Untuk lebih jelas mengetahui sejarah Abdullah bin Ummi Maktum, silahkan baca kitab,</p>
<p>-          al-Ishabah at-Tarjamah halaman 5764</p>
<p>-          at-Tabaqât al-Kubrâ juz 4 halaman 205</p>
<p>-          Sifatus Shafwah juz 1 halaman 237</p>
<p>-          Dzailul Mudzayyal halaman 36, 47</p>
<p>-          Hayâtus Shahabah (lihat daftar isi)</p>
<p>-          Terdapat beberapa pendapat mengenai nama Abdullah bin Ummi Maktum. Penduduk Madinah memanggilnya Abdullah, sedangkan penduduk Irak memanggilnya Umar. Sedangkan nama ayahnya tidak ada perbedaan pendapat, yaitu Qais bin Zaidah.</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/masjidalkhoir.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/masjidalkhoir.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/masjidalkhoir.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/masjidalkhoir.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/masjidalkhoir.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/masjidalkhoir.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/masjidalkhoir.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/masjidalkhoir.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/masjidalkhoir.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/masjidalkhoir.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/masjidalkhoir.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/masjidalkhoir.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/masjidalkhoir.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/masjidalkhoir.wordpress.com/75/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masjidalkhoir.wordpress.com&amp;blog=2497400&amp;post=75&amp;subd=masjidalkhoir&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://masjidalkhoir.wordpress.com/2011/01/25/abdullah-bin-ummi-maktum/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ee8cc406cd6f4a6330c45ca64d20ace7?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">masjidalkhoir</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>JA’FAR BIN ABDUL MUTHALIB</title>
		<link>http://masjidalkhoir.wordpress.com/2011/01/25/ja%e2%80%99far-bin-abdul-muthalib/</link>
		<comments>http://masjidalkhoir.wordpress.com/2011/01/25/ja%e2%80%99far-bin-abdul-muthalib/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Jan 2011 05:47:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>masjidalkhoir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sahabat Nabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masjidalkhoir.wordpress.com/?p=67</guid>
		<description><![CDATA[“Aku melihat Ja’far di surga mempunyai dua sayap yang basah mengeluarkan darah (Hadis nabi) Dari keturunan bani Abdi Manaf, ada lima orang yang sangat mirip sekali dengan Rasulullah. Hingga banyak sekali mata yang tidak mengetahui apakah itu Rasulullah atau bukan. Tidak diragukan lagi pasti para pembaca yang budiman ingin mengetahui siapa saja lima orang yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masjidalkhoir.wordpress.com&amp;blog=2497400&amp;post=67&amp;subd=masjidalkhoir&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#0000ff;"><strong><em>“</em></strong><em>Aku melihat Ja’far di surga mempunyai dua sayap yang basah mengeluarkan darah </em><strong>(Hadis nabi)</strong></span></p>
<p>Dari keturunan bani Abdi Manaf, ada lima orang yang sangat mirip sekali dengan Rasulullah. Hingga banyak sekali mata yang tidak mengetahui apakah itu Rasulullah atau bukan.</p>
<p>Tidak diragukan lagi pasti para pembaca yang budiman ingin mengetahui siapa saja lima orang yang menyerupai Rasulullah Saw. tersebut.</p>
<p>Mari kita mengenal mereka. Mereka adalah, yang pertama, Abu Sufyan bin Haris bin Abdul Muthalib, sepupu Rasulullah dan saudara sepersusuan beliau. Yang kedua, Qutsam bin Abbas bin Abdul Muthalib, juga sepupu beliau. Yang ketiga, Saib bin Ubaid bin Abdi Yazid bin Hasyim, kakek Imam Syafi’i Ra. Yang keempat adalah, Hasan bin Ali, cucu Rasulullah Saw, dialah orang yang paling mirip dengan Rasulullah. Sedangkan yang terakhir adalah Ja’far bin Abdul Muthalib, saudara Amirul Mukminin, Ali bin Abi Thalib.</p>
<p>Mari kita simak bersama-sama sejarah kehidupan Ja’far.</p>
<p>Abu Thalib, adalah orang yang mempunyai anak banyak dan kehidupan yang sederhana, meskipun dikenal dengan kemuliaan dan ketinggian derajatnya di kalangan kaum Quraisy.</p>
<p>Dari hari ke hari kondisinya semakin kekurangan karena musim paceklik di Makkah saat itu. Semua binatang ternak mati, dan semua manusia hanya bisa makan tulang-tulang kering.</p>
<p>Pada waktu itu dari kalangan bani Hasyim tidak ada orang yang lebih kaya dari Muhammad bin Abdillah dan pamannya Abbas.</p>
<p>Muhammad berkata kepada Abbas, “Wahai pamanku, sesungguhnya saudaramu, Abu Thalib mempunyai keluarga yang banyak. Sedangkan saat ini semua orang tertimpa musim paceklik hingga kelaparan, sebagaimana yang engkau lihat. Pergilah bersamaku untuk lalu kita menanggung salah satu di antara keluarganya. Aku menanggung satu anaknya dan engkau menanggung satu anaknya yang lain kemudian kita cukupi nafkahnya.</p>
<p><span id="more-67"></span></p>
<p>Akhirnya keduanya pergi hingga sampai di rumah Abu Thalib. Sesampainya di rumah Abu Thalib keduanya berkata, “Kedatangan kami untuk meringankan beban keluarga yang engkau tanggung agar engkau dapat terhindar dari krisis yang menimpa penduduk kita.”</p>
<p>Abu Thalib berkata, “Jika yang kalian ambil bukan Aqil bin Abu Thalib, maka silahkan.” Lalu nabi Muhammad mengambil Ali sebagai tanggungannya, sedangkan Abbas mengambil Ja’far dan membawanya berkumpul bersama keluarganya.</p>
<p>Ketika Ali hidup bersama Rasulullah, Allah mengutusnya dengan membawa agama petunjuk dan kebenaran. Ali adalah pemuda pertama yang beriman kepada Rasulullah.</p>
<p>Sedangkan Ja’far hidup bersama Abbas hingga besar kemudian masuk islam dan mengambil manfaat dari Islam. Ja’far bin Abi Thalib masuk ke dalam Islam bersama istrinya Asma’ binti Umais sejak pertama kali Rasulullah diutus.</p>
<p>Keduanya masuk Islam lewat perantara Abu Bakar as-Shiddiq sebelum Rasulullah masuk ke Darul Arqam.</p>
<p>Ja’far beserta istrinya juga merasakan gangguan kaum Quraisy sebagaimana yang dirasakan oleh kaum muslimin generasi pertama lainnya. Keduanya menjalani semuanya dengan sabar, karena mereka yakin bahwa jalan masuk menuju surga dipenuhi dengan duri-duri yang menyakitkan. Namun yang melemahkan semangat mereka adalah melarang mereka untuk melaksanakan syariat Islam. Kaum Quraisy juga melarang mereka merasakan nikmatnya ibadah. Mereka selalu mengawasi kaum muslimin dari berbagai arah dan selalu mengintai mereka.</p>
<p>Pada waktu itulah Ja’far bin Abi Thalib beserta istrinya minta izin kepada Rasulullah untuk berhijrah ke Habasyah bersama dengan beberapa orang dari kalangan sahabat. Rasulullah mengizinkan mereka dengan penuh kesedihan yang menyelimuti beliau.</p>
<p>Rasulullah merasa berduka karena para sahabat yang sangat baik dan suci itu hendak meninggalkan rumah mereka dan meninggalkan kampung halaman tempat dimana mereka dibesarkan. Mereka meninggalkan tempat yang dulu mereka nimati sewaktu remaja bukan karena sebab dosa yang mereka lakukan. Mereka hanya mengatakan, “Sesembahan kami adalah Allah.” Namun Rasulullah juga sadar bahwa beliau tidak mempunyai daya dan kekuatan untuk menghadapi siksaan kafir Quraisy.</p>
<p>Berangkatlah rombongan pertama hijrah menuju Habasyah di bawah pimpinan Ja’far bin Abi Thalib Ra. Mereka hidup di bawah perlindungan raja Najasyi, raja mereka yang adil dan shaleh.</p>
<p>Untuk pertama kalinya setelah mereka masuk Islam mereka mendapatkan rasa aman. Mereka dapat merasakan manisnya ibadah tanpa diganggu oleh siapapun yang merusak kenikmatan beribadah atau kebahagiaan mereka.</p>
<p>Namun kafir Quraisy ketika mengetahui perginya beberapa kaum muslimin ke negeri Habasyah, mereka tidak tinggal dengan kaum muslimin yang merasakan nikmatnya ibadah dan merasakan aman yang mereka. Kafir Quraisy memberikan ancaman kepada raja Habasyah agar membunuh kaum muslimin atau memulangkan mereka menuju penjara besar (Makkah).</p>
<p>Kita simak bersama penuturan Ummu Salamah yang mendengar dan melihat peristiwa tersebut dengan mata kepala dan telinganya sendiri.</p>
<p>Ummu Salamah bercerita,</p>
<p>Ketika kami sampai di Habasyah, kami merasakan hubungan pertetanggaan yang baik. Kami merasa aman dengan agama kami. Kami menyembah Allah Swt. tanpa ada gangguan atau kami mendengar sesuatu yang kami benci. Ketika kaum Quraisy mengetahui hal tersebut mereka mengirimkan dua juru runding yang sangat kuat kepada raja Najasyi. Kedua orang kuat tersebut adalah Amr bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabi’ah. Keduanya membawa hadiah yang sangat melimpah dan terbaik dari  negeri Hijaz untuk raja Najasyi dan para pendeta mereka. Kaum Quraisy memberikan perintah kepada keduanya agar memberikan hadiah yang sangat berharga tersebut kepada semua pendeta sebelum mereka berbicara dengan raja Najasyi mengenai masalah kaum muslimin.</p>
<p>***</p>
<p>Sesampainya kedua Quraisy itu di Habasyah keduanya langsung membagi-bagikan hadiah tersebut kepada semua pendeta. Mereka semua mendapatkannya tanpa ada yang tidak mendapatkannya satu orangpun. Kedua orang tersebut berkata kepada raja Najasyi, “Ada beberapa orang kaumku yang bodoh tinggal di negeri raja. Mereka keluar dari agama nenek moyang mereka dan mereka memecah belah persatuan negeri kami. Jika nanti kami merundingkan masalah ini dengan raja, maka bantulah kami untuk mendesaknya agar menyerahkan kaum kami tanpa bertanya tentang agama mereka. Karena tokoh mereka lebih mengetahui agama mereka dan lebih mengetahui keyakinan mereka.”</p>
<p>Para pendeta menjawab, “Baiklah.”</p>
<p>Ummu Salamah berkata, “Yang paling dibenci oleh Amr bin Ash dan temannya ialah apabila raja Najasyi memanggil dan mendengarkan alasan  salah seorang dari kami.</p>
<p>Amr bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabi’ah menghadap raja Najasyi dan memberikan hadiah yang mereka bawa kepadanya. Raja Najasyi sangat senang dan kagum dengan hadiah tersebut. Akhirnya kedua orang Quraisy tersebut berkata, “Wahai Raja, ada beberapa orang-orang jahat dari kaum kami yang berlindung ke negerimu. Mereka pergi dengan membawa agama yang tidak kami tidak kenal dan kalianpun tidak mengenalnya. Mereka meninggalkan agama kami dan tidak masuk ke dalam agamamu.”</p>
<p>“Kami diutus oleh para pemuka kaum mereka, bapak maupun keluarga mereka agar engkau mengembalikan mereka pada kami. Mereka adalah manusia yang paling pandai melakukan fitnah.</p>
<p>Raja Najasyi melihat para pendetanya, para pendeta berkata, “Keduanya benar wahai Raja.  Para tokoh mereka lebih mengetahui tentang mereka. Kembalikanlah orang-orang tersebut ke negeri mereka dan biarkanlah pemuka kaum mereka yang mengambil tindakan.”</p>
<p>Sang raja sangat marah dengan perkataan pendetanya. Raja berkata, “Demi Allah, aku tidak akan menyerahkan mereka sebelum aku memanggil mereka. Aku akan menanyakan kepada mereka dengan pengakuan yang kalian lontarkan pada mereka. Jika mereka seperti yang disampaikan oleh kedua orang tersebut maka aku akan menyerahkan mereka untuk kalian berdua. Jika ternyata mereka tidak seperti yang dituduhkan, maka aku akan tetap melindungi mereka, berbuat baik dengan mereka dan bertetangga dengan mereka selagi mereka mau tinggal di negeri kami.”</p>
<p>****</p>
<p>Ummu Salamah melanjutkan ceritanya,</p>
<p>Lalu raja Najasyi memanggil kami untuk bertemu dengannya. Sebelum kami menghadapnya kami mengadakan musyawarah. Salah seorang dari kami berkata, “Nanti raja akan bertanya kepada kalian tentang agama kalian. Tunjukkanlah keimanan yang kalian pegang. Hendaklah yang berbicara adalah Ja’far bin Abi Thalib, jangan ada yang berbicara selainnya.”</p>
<p>Kemudian kami pergi menghadap raja Najasyi. Kami dapati raja sudah memanggil para pendetanya. Mereka duduk di samping kanan dan samping kiri raja. Mereka memakai jubah dan peci mereka, mereka juga membentangkan kitab di depan mereka. Di dekat mereka ada Amr bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabi’ah.</p>
<p>Ketika kami sudah duduk tenang, raja Najasyi menoleh ke arah kami dan bertanya, “Apa agama yang kalian sering bincangkan hingga sebab agama itu kalian berpisah dengan kaum kalian. Kalian juga tidak masuk ke dalam agamaku, dan juga tidak masuk dalam agama manapun.”</p>
<p>Majulah Ja’far bin Abi Thalib dan berkata, “Wahai raja, dulu kami adalah kaum jahiliyyah (bodoh). Kami menyembah berhala dan makan bangkai, kami melakukan perbuatan keji dan memutuskan tali persudaraan dan kami berbuat jahat dengan tetangga. Orang-orang yang kuat di antara kami memakan yang lemah. Kami terus menerus dalam kondisi seperti itu hingga Allah mengutus seorang Rasul dari kalangan kami. Kami mengetahui nasabnya, kejujurannya, amanatnya, dan kehati-hatiannya dalam menjaga diri.”</p>
<p>“Rasul tersebut menyeru kami untuk menyembah Allah saja dan tidak menyekutukan dengan siapapun. Dia juga memerintahkan kami untuk meninggalkan sesembahan yang dulu kami sembah dari selainNya baik itu berupa patung maupun berhala dari batu.”</p>
<p>“Rasulullah memerintahkan kami untuk berkata jujur, menunaikan amanat, menyambung tali silaturrahim dan bertetanggga dengan baik. Dia menyuruh kami untuk menghindari hal-hal haram dan pertumpahan darah. Rasulullah juga melarang kami dari perbuatan keji, dusta, memakan harta anak yatim, dan menuduh wanita baik-baik berzina.”</p>
<p>“Rasulullah memerintahkan kami untuk mengesakan Allah, menegakkan shalat, membayar zakat, dan berpuasa di bulan Ramadlan.”</p>
<p>“Kami membenarkannya dan beriman dengannya. Kami mengikuti semua yang turun dari Allah. Kami menghalalkan yang Allah halalkan dan mengharamkan yang Allah haramkan untuk kami.”</p>
<p>“Wahai Raja, sedangkan kaum kami memusuhi kami menyiksa kami dan siksaan yang sangat pedih agar kami keluar dari agama kami dan mengembalikan kami pada peribadatan kepada patung.”</p>
<p>“Ketika mereka terus menzalimi kami, memaksa kami, menyudutkan kami, dan menghalang-halangi kami dari agama kami, akhirnya kami pergi ke negerimu. Kami lebih memilihmu dari selainmu. Kami lebih senang hidup berdampingan denganmu dengan harapan engkau tidak berbuat zalim pada kami.”</p>
<p>Lalu Raja Najasyi menoleh ke arah Ja’far bin Abi Thalib dan bertanya, “Apakah engkau membawa sesuatu yang dibawa oleh nabiMu dari Allah?” Ja’far menjawab, “Iya, kami membawanya.” Raja Najasyi berkata, “Bacakanlah padaku!”</p>
<p>Lalu Ja’far bin Abi Thalib membaca,</p>
<p>Èÿèg!2 ÇÊÈ ãø.Ï ÏMuH÷qu y7În/u ¼çnyö7tã !$­Ì2y ÇËÈ øÎ) 2y$tR ¼çm­/u ¹ä!#yÏR $wÏÿyz ÇÌÈ</p>
<p><em>1.Kaaf Haa Yaa &#8216;Ain Shaad.2.(yang dibacakan Ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya, Zakaria, 3.  Yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.</em> <strong>(Maryam: 1-3)</strong></p>
<p>Ja’far bin Abi Thalib membaca hingga selesai permulaan surat.</p>
<p>Mendengar ayat tersebut raja Najasyi menangis tersedu-sedu hingga air matanya membasahi jenggotnya. Para pendetanyapun juga turut menangis hingga membasahi kitab mereka setelah mereka mendengar ayat Allah.</p>
<p>Di sinilah raja Najasyi berkata kepada kami, “Inilah yang dibawa nabi kalian dan nabi Isa dari satu cahaya.”</p>
<p>Kemudian raja Najasyi menoleh ke arah Amr bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabi’ah seraya berkata, “Pergilah, demi Allah, selamanya kami tidak akan menyerahkan mereka kepadamu.”</p>
<p>Ummu Salamah berkata, “Ketika kami keluar dari hadapan raja Najasyi, Amr bin Ash mengancam kami dan berkata kepada temannya, “Demi Allah, besok aku akan menghadap raja Najasyi. Aku akan menyebutkan masalah-masalah agama mereka yang membuat dadanya dipenuhi dengan api kemarahan dan kebencian kepada mereka. Aku juga akan membuat raja Najasyi mencabut mereka hingga ke akar-akarnya.”</p>
<p>Lalu Abdullah bin Abi Rabi’ah berkata, “Janganlah engkau melakukan hal tersebut wahai Amr bin Ash. Mereka juga saudara kita, meskipun mereka berbeda dengan kita.”</p>
<p>Amr bin Ash menjawab, “Biarkanlah aku! Biarkanlah aku! Demi Allah aku akan memberitahukannya dengan apa yang membuat kaki mereka terguncang. Demi Allah aku akan mengatakan kepada raja Najasyi bahwa mereka mengatakan bahwa Isa adalah budak.”</p>
<p>Dan benar, keesokan harinya Amr menghadap raja Najasyi. Amr berkata kepada raja Najasyi, “Wahai raja, sesungguhnya mereka yang berlindung kepadamu mengatakan masalah yang sangat fatal tentang Isa bin Maryam. Panggillah mereka dan tanyakan pada mereka masalah tersebut.”</p>
<p>Ummu Salamah bercerita, “Ketika kami mendengar hal tersebut kami merasa gundah dan panik, kami belum pernah sedikitpun merasakan kondisi tersebut.”</p>
<p>Salah seorang dari kami berkata, “Apa yang akan kalian katakan jika raja Najasyi bertanya mengenai Isa bin Maryam?”</p>
<p>Lalu kami berkata, “Demi Allah, kami tidak akan mengatakan kecuali seperti yang dikatakan Allah. Kami tidak akan keluar seujung kukupun dari yang dibawa Rasulullah. Semoga dengan itu akan terjadi apa yang akan terjadi.”</p>
<p>Akhirnya kami sepakat bahwa yang akan memberikan jawaban juga Ja’far bin Abi Thalib.</p>
<p>Ketika raja Najasyi memanggil kami, kamipun menghadapnya. Kami mendapati para pendeta di sekitar raja dengan kitab di depan mereka, persis seperti hari sebelumnya. Di hadapan raja juga terdapat Amr bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabi’ah.</p>
<p>Ketika kami sudah berada di hadapan raja, dengan segera raja bertanya kepada kami, “Apa yang kalian katakan mengenai Isa bin Maryam?”</p>
<p>Ja’far bin Abi Thalib menjawabnya, “Kami akan mengatakannya sesuai dengan yang dikatakan oleh nabi kami Saw.”</p>
<p>Raja Najasyi bertanya, “Apa yang dikatakan oleh nabi kalian?”</p>
<p>Ja’far menjawab, “Nabi kami mengatakan bahwa Isa adalah hamba Allah dan RasulNya. Isa adalah utusan Allah dan kalimatNya yang dia titipkan dalam janin Maryam, wanita yang suci dan masih gadis.”</p>
<p>Ketika raja Najasyi mendengar jawaban Ja’far, seketika dia memukulkan tangannya ke atas tanah seraya berkata, “Demi Allah, tidaklah Isa bin Maryam keluar seujung rambutpun dari yang kalian sampaikan dari nabi kalian.”</p>
<p>Terdengar suara berisik dari para pendeta sebagai bentuk ketidaksetujuan mereka terhadap perkataan raja Najasyi. Raja Najasyi berkata, “Meskipun kalian tidak setuju.”</p>
<p>Lalu raja Najasyi menoleh ke arah kami seraya berkata, “Pergilah kalian, akan kujamin keselamatan kalian. Barangsiapa yang mencela kalian, maka dia akan celaka. Siapa yang melawan kalian maka akan mendapat hukuman. Demi Allah aku tidak senang memiliki segunung emas, sedangkan salah seorang dari kalian tertimpa perbuatan yang tidak diinginkan.”</p>
<p>Lalu raja Najasyi menoleh ke arah Amr bin Ash dan sahabatnya seraya berkata, “Kembalikan hadiah-hadiah kepada kedua orang ini! Aku tidak membutuhkannya!”</p>
<p>Ummu Salamah berkata, “Keluarlah Amr bin Ash dan sahabatnya dalam keadaan malu, terhina dan perasaannya hancur bertubi-tubi. Sedangkan kami tetap tinggal di rumah yang paling mulia dan tetangga yang paling baik.</p>
<p>****</p>
<p>Ja’far bin Abi Thalib beserta istrinya tinggal di Habasyah dengan penghormatan dari raja Najasyah selama 10 tahun dalam keadaan tenang dan tenteram.</p>
<p>Dan pada tahun 7 H keduanya pergi meninggalkan Habasyah bersama dengan beberapa kaum muslimin menuju kota Madinah. Sesampainya mereka di Madinah ternyata Rasulullah juga baru saja kembali dari Khaibar<a href="#_ftn1">[1]</a>, setelah Allah menaklukkannya.</p>
<p>Rasulullah Saw. sangat bahagia sekali bertemu dengan Ja’far.  Aku tidak tahu apakah yang paling membuat beliau bahagia. Apakah karena ditaklukkannya benteng Khaibar ataukah karena bertemu dengan Ja’far?</p>
<p>Kebahagiaan semua kaum muslimin dan orang-orang miskin dengan kedatangan Ja’far bin Abi Thalib belum seberapa dibandingkan kebahagiaan beliau.</p>
<p>Ja’far adalah orang yang sangat sayang dan pengertian dengan orang-orang miskin bahkan sering berbuat baik kepada mereka, hingga mendapatkan julukan ‘Ayah orang-orang miskin’.</p>
<p>Abu Hurairah menceritakan masalah tersebut, “Sebaik-baik manusia untuk kami orang miskin adalah Ja’far bin Abi Thalib. Dia sering mengajak kami ke rumahnya dan memberikan kami semua makanan yang dia miliki. Hingga ketika semua makanannya sudah habis, dia mengeluarkan kantong yang biasa dia pakai untuk tempat keju. Keju yang ada di dalamnya sudah habis. Lalu kami membelahnya dan menjilati sisa-sisa keju yang ada di dalamnya.</p>
<p>Ja’far tidak tinggal lama di Madinah. Pada awal tahun 8 Hijrah Rasulullah Saw. menyiapkan pasukan untuk memerangi bangsa Romawi. Rasulullah mengangkat Zaid bin Haritsah sebagai panglima dalam pasukan tersebut. beliau bersabda, “Jika Zaid terbunuh atau terluka, maka panglima yang menggantikannya adalah Ja’far bin Abi Thalib. Jika Ja’far bin Abi Thalib terbunuh, maka panglima yang menggantikannya adalah Abdullah bin Rawahah. Jika Abdullah bin Rawahah juga terbunuh, maka biarlah kaum muslimin yang memilih sendiri panglima dari kalangan mereka.”</p>
<p>Dan ketika pasukan muslimin sampai di Mu’tah, yaitu sebuah desa yang terletak di depan Syam, Yordania. Mereka mendapati pasukan Romawi mengerahkan 100.000 pasukannya ditambah dengan 100.000 pasukan nasrani dari kalangan arab yang berasal dari kabilah Lakhm, Judzam dan Qudza’ah dsb.</p>
<p>Sedangkan pasukan muslimin hanya berjumlah 3000 pasukan.</p>
<p>Ketika perang mulai berkecamuk, seketika itu juga Zaid bin Haritsah tersungkur syahid dalam keadaan menghadapi peperangan bukan melarikan diri. Dengan cepat Ja’far bin Abi Thalib melompat ke atas kuda yang baru saja ditunggangi Zaid. Ja’far menusuk kuda tersebut hingga mati agar tidak dapat digunakan oleh musuh.</p>
<p>Ja’far merengsek ke dalam barisan musuh dengan membawa panji perang seraya bersyair,</p>
<p><em>Alangkah indahnya surga</em></p>
<p><em>Isinya menyenangkan dan makanannya lezat-lezat</em></p>
<p><em>Sedangkan bangsa Romawi telah dengan siksaannya</em></p>
<p><em>Mereka adalah bangsa kafir, jauh dari keluarganya</em></p>
<p><em>Apabila aku berhadapan dengan mereka aku harus membunuhnya</em></p>
<p>Ja’far berkeliling di barisan musuh dengan menghunus pedangnya, hingga tangan kanannya terkena sabetan pedang hingga tangan kanannya putus. Lalu Ja’far membawa panji perang dengan tangan kirinya. Tidak berselang lama tangan kirnya juga mendapatkan sabetan pedang hingga putus. Ja’far membawa panji perang itu dengan dada dan kedua lengannya. Tidak lama berselang Ja’far tertimpa pukulan pedang yang ketiga hingga membelah tubuhnya menjadi dua. Akhirnya Abdullah bin Rawahah mengambil panji perang tersebut dari Ja’far. Abdullah bin Rawahah terus berperang hingga mendapatkan syahid.</p>
<p>Berita terbunuhnya tiga panglima Rasulullah sampai di telinga beliau. Rasulullah sangat sedih sekali. Seketika itu juga beliau pergi ke rumah sepupunya, Ja’far bin Abi Thalib dan mendapati istrinya, Asma’ bersiap-siap menanti kehadiran suaminya yang pergi.</p>
<p>Asma’ sudah membuatkan adonan kue untuk Ja’far dan juga sudah memandikan anak-anaknya, memberikan wangi-wangian dan memakaikan mereka pakaian yang paling baik.</p>
<p>Asma’ berkata, “Ketika Rasulullah Saw. menemui kami raut muka kesedihan menggelayuti wajah beliau yang mulia. Kecemasan hinggap dalam diriku. Hanya saja aku tidak mau bertanya kepada beliau mengenai Ja’far bin Abi Thalib karena takut jika aku mendengar berita yang tidak aku inginkan dari beliau.”</p>
<p>Lalu Rasulullah mengucapkan salam pada kami dan berkata, “Panggillah anak-anak Ja’far agar menghadapku!” Akupun memanggil mereka agar bertemu Rasulullah.</p>
<p>Mereka berlarian gembira dan menggeram. Mereka mengerubuti beliau. Semuanya ingin dekat dengan beliau. Lalu Rasulullah merangkul mereka dan mencium mereka. Dan kedua matanya mengeluarkan air mata yang terus menetes dari matanya.</p>
<p>Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, demi ayah dan ibuku, apa yang membuatmu menangis? Apakah engkau mendengar berita mengenai Ja’far dan kedua sahabatnya?” Beliau menjawab…..beliau menjawab, “Iya, sungguh mereka bertiga mati syahid pada hari ini juga.”</p>
<p>Mendengar perkataan Rasulullah, sirnalah senyum yang menghiasi wajah-wajah kecil anakku, apalagi ketika ibu mereka menangis tersedu-sedu. Mereka berdiri tegak di tempat mereka. Mereka tidak bergerak sedikitpun, seakan-akan di atas mereka ada burung yang hinggap.</p>
<p>Sedangkan Rasulullah pergi dengan mengusap air mata yang menetes dari matanya. Beliau berdoa, “Ya Allah, berilah ganti dari Ja’far kepada anak-anaknya…. Ya Allah, berilah ganti dari Ja’far kepada keluarganya…” Lalu Rasulullah kembali bersabda, “Sungguh aku melihat Ja’far berada di surga, dia memiliki dua sayap yang berlumuran darah. @@@.”<a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<div>
<hr size="1" />
<div>
<p><a href="#_ftnref1">[1]</a> Khaibar adalah benteng kaum Yahudi, Rasulullah menaklukkannya pada tahun 7 H. beliau juga mendapat rampasan perang yang sangat banyak.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Untuk mengetahui sejarah Ja’far bin Abi Thalib lebih lengkap silahkan baca kitab,</p>
<p>-          Sifatus Shafwah juz 1 halaman 237</p>
<p>-          Sifatus Shofwah juz 1 halaman 114</p>
<p>-          Hilyatul Auliya’ juz 1 halaman 114</p>
<p>-          Thabaqât Ibnu Sa’ad juz 4 halaman 22</p>
<p>-          Mu’jamul Buldan di bab ‘Mu’tah’</p>
<p>-          Al-Bidayah wan Nihayah juz 4 halaman 241</p>
<p>-          As-Sirah an-Nabawiyyah karya Ibnu Hisyam juz 1 halaman 357 dan juz 4/3 halaman 20</p>
<p>-          Ad-Durar fî ikhtishoril Maghazi was Sair karya Ibnu Abdil Barr. Halaman 50 dan 222</p>
<p>-           Hayâtus Shahabah (lihat daftar isi)</p>
<p>-          Al-Kamil karya Ibnul Atsir juz 2 halaman 30 dan 96</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/masjidalkhoir.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/masjidalkhoir.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/masjidalkhoir.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/masjidalkhoir.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/masjidalkhoir.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/masjidalkhoir.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/masjidalkhoir.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/masjidalkhoir.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/masjidalkhoir.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/masjidalkhoir.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/masjidalkhoir.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/masjidalkhoir.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/masjidalkhoir.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/masjidalkhoir.wordpress.com/67/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masjidalkhoir.wordpress.com&amp;blog=2497400&amp;post=67&amp;subd=masjidalkhoir&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://masjidalkhoir.wordpress.com/2011/01/25/ja%e2%80%99far-bin-abdul-muthalib/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ee8cc406cd6f4a6330c45ca64d20ace7?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">masjidalkhoir</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Siroh Nabi (MP3)</title>
		<link>http://masjidalkhoir.wordpress.com/2011/01/24/siroh-nabi-mp3/</link>
		<comments>http://masjidalkhoir.wordpress.com/2011/01/24/siroh-nabi-mp3/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Jan 2011 02:18:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>masjidalkhoir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masjidalkhoir.wordpress.com/?p=62</guid>
		<description><![CDATA[Assalamu&#8217;alaykum wa rahmatullahi wa barakatuh Saudara-saudaraku muslim semuanya,yang semoga diberi rahmat oleh Allah&#8230;Rasullullah adalah suri tauladan kita semua,tapi banyak sekali dikalangan orang Islam yang belum mengerti akan perjalanan dan jejak Rasullullah selama beliau hidup, perjuangannya dalam menegakkan Islam yang mulia ini.. Maka kami menyediakan beberapa kajian mengenai Sirah nabi semenjak Beliau lahir sampai beliau wafat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masjidalkhoir.wordpress.com&amp;blog=2497400&amp;post=62&amp;subd=masjidalkhoir&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamu&#8217;alaykum wa rahmatullahi wa barakatuh</p>
<p>Saudara-saudaraku muslim semuanya,yang semoga diberi rahmat oleh Allah&#8230;Rasullullah adalah suri tauladan kita semua,tapi banyak sekali dikalangan orang Islam yang belum mengerti akan perjalanan dan jejak Rasullullah selama beliau hidup, perjuangannya dalam menegakkan Islam yang mulia ini..</p>
<p>Maka kami menyediakan beberapa kajian mengenai Sirah nabi semenjak Beliau lahir sampai beliau wafat</p>
<p><a title="Muqodimah" href="http://www.4shared.com/audio/CcpOM_wY/SN_01_MUQODIMAH.html" target="_blank">1. SN 01_Muqodimah</a></p>
<p><a title="Adyan" href="http://www.4shared.com/audio/PLebpoTC/SN_02_ADYAN.html" target="_blank">2. SN02_Adyan</a></p>
<p><a title="Abrahah dan Maulid" href="http://www.4shared.com/audio/xkdUqy48/SN_03_ABRAHAH__MAULID.html" target="_blank">3. SN03_Abrahah &amp; Maulid</a></p>
<p><a title="Siroh Nabi" href="//www.4shared.com/audio/Fd8hQiAd/SN_04_MASA_REMAJA_RASULULLAH.html" target="_blank">4. SN04_Masa Remaja Rasullullah</a></p>
<p><a title="Siroh Nabi" href="http://www.4shared.com/audio/M_zryA8E/SN_05_KHODIJAH__WAHYU_PERTAMA.html" target="_blank">5. SN05_Khodijah dan wahyu pertama</a></p>
<p><a title="Siroh Nabi" href="http://www.4shared.com/audio/X6MbNDOs/SN_06_TAHUN_PERTAMA_WAHYU.html" target="_blank">6. SN_06 Tahun Pertama Wahyu</a></p>
<p><a title="Siroh Nabi" href="http://www.4shared.com/audio/x_KkiT6k/SN_07_DAKWAH_PERTAMA_RASULULLA.html" target="_blank">7. SN_07 Dakwah Pertama Rasullullah</a></p>
<p><a title="Siroh Nabi" href="http://www.4shared.com/audio/ARYkJWQb/SN_08_Abi_Makie_ISRA_MIRAJ.html" target="_blank">8. SN_08 Abi Makie Isra&#8217; Mi&#8217;raj</a></p>
<p><a title="Siroh nabi" href="http://www.4shared.com/audio/u7qihiQ6/SN_09_BOIKOT.html" target="_blank">9. SN_09 Boikot</a></p>
<p><a title="Siroh nabi" href="http://www.4shared.com/audio/p7Aei4E6/SN_10_PEMBUKAAN_HIJRAH.html" target="_blank">10. SN_10 Pembukaan Hijrah</a></p>
<p><a title="Siroh Nabi" href="http://www.4shared.com/audio/4kYxrN7R/SN_11_PERINTAH_HIJRAH.html" target="_blank">11.SN_11 Perintah Hijrah</a></p>
<p><a title="Siroh Nabi" href="http://www.4shared.com/audio/0wV73vtv/sn_12_hijrah_pertama__islam_um.html" target="_blank">12.SN_12 Hijrah Pertama &amp; Islam Umar</a></p>
<p><a title="Siroh Nabi" href="http://www.4shared.com/audio/KgmbYI_J/SN_13_DI_MADINAH.html" target="_blank">13.SN_13 di Madinah</a></p>
<p><a title="Siroh Nabi" href="http://www.4shared.com/audio/yfswe0u4/SN_14_PERANG_BADAR.html" target="_blank">14.SN_14 Perang Badar</a></p>
<p><a title="Siroh Nabi" href="http://www.4shared.com/audio/kELf6RW1/SN_15_RAMPASAN_PERANG_BADAR.html" target="_blank">15.SN_15 Rampasan Perang Badar</a></p>
<p><a title="Siroh Nabi" href="http://www.4shared.com/audio/TT1s7Vd2/SN_16_AKHIR_BADAR__KELUARNYA_Q.html" target="_blank">16.SN_16 Akhir Badar dan Keluarnya Qoinuqo&#8217;</a></p>
<p><a title="Siroh Nabi" href="http://www.4shared.com/audio/6OhF6a3f/SN_17_PERANG_UHUD.html" target="_blank">17.SN_17 Perang Uhud</a></p>
<p><a title="Siroh Nabi" href="http://www.4shared.com/audio/W59IU-3I/SN_18_AWAL_PERISTIWA_KHANDAQ.html" target="_blank">18.SN_18 Awal Peristiwa Khandaq</a></p>
<p><a title="Siroh Nabi" href="http://www.4shared.com/audio/2I872m-e/SN_19_PERANG_KHANDAQ__Rasulull.html" target="_blank">19.SN_19 Perang Khandaq (Zainab dan Rasullullah)</a></p>
<p><a title="Siroh Nabi" href="http://www.4shared.com/audio/S6wgQ3WX/SN_20_PERANG_KHANDAQ.html" target="_blank">20.SN_20 Perang Khandaq</a></p>
<p><a title="Siroh Nanbi" href="http://www.4shared.com/audio/0EPyCyv-/SN_21_AKHIR_KHANDAQ.html" target="_blank">21.SN_21 Akhir Perang Khandaq</a></p>
<p><a title="Siroh Nabi" href="http://www.4shared.com/audio/1ZcQ7YjM/SN_22_SERANG_BALIK_KHANDAQ.html" target="_blank">22..SN_22 Serang Balik Khandaq</a></p>
<p><a title="Siroh Nabi" href="http://www.4shared.com/audio/1nn2OUCH/SN_23_PERISTIWA_GHOSWATUL_AJAI.html" target="_blank">23.SN_23 Peristiwa Ghoswatul Ajaib</a></p>
<p><a title="Siroh Nabi" href="http://www.4shared.com/audio/YDj_a-Ex/SN_24_FITNAH_AISYAH.html" target="_blank">24.SN_24 Fitnah Aisyah</a></p>
<p><a title="Siroh Nabi" href="http://www.4shared.com/audio/_352F6mF/SN_25_SUHUL__PERJANJIAN__HUDAI.html" target="_blank">25.SN_25 Suhul (perjanjian) Hudaibiyah 1</a></p>
<p><a title="Siroh Nabi" href="http://www.4shared.com/audio/vct5pHnl/SN_26_SUHUL_HUDAIBYAH_2.html" target="_blank">26.SN_26 Suhul Hudaibiyah 2</a></p>
<p><a title="Siroh Nabi" href="http://www.4shared.com/audio/E2TTfOQ4/SN_27_AWAL_PERANG_KHAIBAR.html" target="_blank">27.SN_27 Awal Perang Khaibar</a></p>
<p><a title="Siroh Nabi" href="http://www.4shared.com/audio/A2dATXLs/SN_28_PERANG_KHAIBAR.html" target="_blank">28.SN_28  Perang Khaibar</a></p>
<p><a title="Siroh Nabi" href="http://www.4shared.com/audio/vFpcXWVd/SN_29_AKHIR_KHAIBAR.html" target="_blank">29. SN_29 Akhir Perang Khaibar</a></p>
<p><a title="Siroh Nabi" href="http://www.4shared.com/audio/Ev1_yoFD/SN_30_PASCA_KHAIBAR.html" target="_blank">30.SN_30 Pasca Khaibar</a></p>
<p><a title="Siroh Nabi" href="http://www.4shared.com/audio/MEO6u7DS/SN_31_AWAL_PERANG_MUTAH.html" target="_blank">31.SN_31 Awal Perang Mu&#8217;tah</a></p>
<p><a title="Siroh Nabi" href="http://www.4shared.com/audio/9ahyhtfP/SN_32_PERANG_MUTAH.html" target="_blank">32.SN_32  Perang Mu&#8217;tah</a></p>
<p><a title="Siroh Nabi" href="http://www.4shared.com/audio/m2eVV7kZ/SN_33_PEMBUKAAN_FATHU_MEKKA.html" target="_blank">33.SN_33 Pembukaan Fathu Mekka</a></p>
<p><a title="Siroh Nabi" href="http://www.4shared.com/audio/HfKePtGX/SN_34_FATHU_MEKKA.html" target="_blank">34.SN_34 Fathu Mekka</a></p>
<p><a title="Siroh Nabi" href="http://www.4shared.com/audio/kDISAt6T/SN_35_PASCA_FATHU_MEKKA.html" target="_blank">35.SN_35  Pasca Fathu Mekka</a></p>
<p><a title="Siroh Nabi" href="http://www.4shared.com/audio/ku8Jagyx/SN_36_PERANG_HUNAIN.html" target="_blank">36.SN_36 Perang Hunain</a></p>
<p><a title="Siroh nabi" href="http://www.4shared.com/audio/ifcMLROW/SN_37_PASCA_HUNAIN.html" target="_blank">37.SN_37 Pasca Hunain</a></p>
<p><a title="Siroh Nabi" href="http://www.4shared.com/audio/jisJ9_N2/SN_38_PERANG_TABUK_1.html" target="_blank">38.SN_38  Perang Tabuk 1</a></p>
<p><a title="Siroh Nabi" href="http://www.4shared.com/audio/kK_qJxdW/SN_39_PERANG_TABUK_2.html" target="_blank">39.SN_39 Perang Tabuk 2</a></p>
<p><a title="Siroh Nabi" href="http://www.4shared.com/audio/Evw7v9Tm/SN_40_PEMISAHAN_MUNAFIK.html" target="_blank">40.SN_40 Pemisahan Munafiq</a></p>
<p><a title="Siroh Nabi" href="http://www.4shared.com/audio/vtfJp5hl/SN_41_PERNYATAAN_ISLAM.html" target="_blank">41.SN_41 Pernyataan Islam</a></p>
<p><a title="Siroh Nabi" href="http://www.4shared.com/audio/utCLhFiP/SN_42_WADA_RASULULLAH.html" target="_blank">42.SN_42 Wada Rasullullah</a></p>
<p><a title="Siroh Nabi" href="http://www.4shared.com/audio/ll0gt1am/SN_43_RASULULLAH_SAW_SAKIT.html" target="_blank">43.SN_43 Rasullullah Sakit</a></p>
<p><a title="Siroh Nabi" href="http://www.4shared.com/audio/pGVMrWO7/SN_44_WAFATNYA_RASULULLAH.html" target="_blank">44.SN_44 Wafatnya Rasullullah</a></p>
<p>Alhamdulillah untuk siroh Nabi ini sudah selesai. .semoga bermanfaat bagi kita semuanya</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/masjidalkhoir.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/masjidalkhoir.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/masjidalkhoir.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/masjidalkhoir.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/masjidalkhoir.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/masjidalkhoir.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/masjidalkhoir.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/masjidalkhoir.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/masjidalkhoir.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/masjidalkhoir.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/masjidalkhoir.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/masjidalkhoir.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/masjidalkhoir.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/masjidalkhoir.wordpress.com/62/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masjidalkhoir.wordpress.com&amp;blog=2497400&amp;post=62&amp;subd=masjidalkhoir&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://masjidalkhoir.wordpress.com/2011/01/24/siroh-nabi-mp3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ee8cc406cd6f4a6330c45ca64d20ace7?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">masjidalkhoir</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ABDULLAH BIN ABBAS</title>
		<link>http://masjidalkhoir.wordpress.com/2011/01/24/abdullah-bin-abbas/</link>
		<comments>http://masjidalkhoir.wordpress.com/2011/01/24/abdullah-bin-abbas/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Jan 2011 01:54:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>masjidalkhoir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sahabat Nabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masjidalkhoir.wordpress.com/?p=58</guid>
		<description><![CDATA[“Abdullah bin Abbas adalah pemuda yang dewasa, mempunyai lisan yang selalu bertanya dan akal yang sangat cerdas” (Umar bin Khattab) Sungguh sahabat kita yang mulia ini mempunyai kemuliaan dalam segala hal. Tidak ada sedikitpun yang tidak terjamah dengan kemuliaannya. Kemuliaannya yang pertama ialah sebagai seorang sahabat Rasulullah. Meskipun dia dilahirkan jauh hari dari Rasulullah, namun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masjidalkhoir.wordpress.com&amp;blog=2497400&amp;post=58&amp;subd=masjidalkhoir&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>“<span style="color:#008000;">Abdullah bin Abbas adalah pemuda yang dewasa, mempunyai lisan yang selalu bertanya dan akal yang sangat cerdas” </span></em><span style="color:#008000;"><strong>(Umar bin Khattab)</strong></span></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Sungguh sahabat kita yang mulia ini mempunyai kemuliaan dalam segala hal. Tidak ada sedikitpun yang tidak terjamah dengan kemuliaannya. Kemuliaannya yang pertama ialah sebagai seorang sahabat Rasulullah. Meskipun dia dilahirkan jauh hari dari Rasulullah, namun Abdullah bin Abbas masih sempat mendapat kemuliaan untuk menjadi sahabat beliau.</p>
<p>Kemuliaan yang kedua ialah hubungan kerabatnya dengan Rasululllah. Abdullah bin Abbas adalah sepupu Rasulullah Saw. Kemuliaannya yang ketiga  adalah keilmuannya yang luas. Abdullah bin Abbas adalah seorang alim dan shalih dari kalangan umat nabi Muhammad. Dia juga merupakan lautan ilmu yang sangat dalam.</p>
<p>Kemuliaan yang lainnya adalah ketakwaanya. Abdullah bin Abbas merupakan orang yang sering puasa di siang hari, sering shalat tahajjud pada malam hari, dan sering beristighfar di waktu pagi menjelang subuh. Abdullah bin Abbas adalah orang yang sangat sering menangis karena takut kepada Allah. Karena seringnya beliau menangis air matanya membekaskan dua garis di pipinya.</p>
<p>Dialah Abdullah bin Abbas, pendidik yang alim dan mengenal Allah dari kalangan umat nabi Muhammad. Dia adalah orang yang paling mengetahui kitab Allah dan paling pandai dalam mentakwilkannya, paling pandai dalam menyelami kandungan-kandungannya, hingga menemukan maksud-maksud serta rahasia-rahasia al-Qur’an.</p>
<p>Abdullah bin Abbas dilahirkan tiga tahun sebelum hijrah. Ketika Rasulullah wafat usianya tidak lebih dari 13 tahun saja.</p>
<p>Meskipun demikian namun Abdullah bin Abbas menghafal 1660 hadis Rasulullah untuk kaum muslimin yang sering diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dalam dua kitab shahihnya.</p>
<p>Ketika Abdullah bin Abbas dilahirkan, dia dibawa  menuju Rasulullah. Rasulullah memasukkan air liur beliau ke  tenggorokannya dengan tangan beliau. Sehingga yang pertama kali masuk ke dalam perutnya adalah air liur Rasulullah yang berkah dan suci. Bersamaan dengan masuknya air liur tersebut masuk pula takwa dan hikmah ke dalam dirinya.<span id="more-58"></span> <em> </em></p>
<p><em>“Barangsiapa yang diberikan hikmah maka sungguh dia telah diberikan kebaikan yang banyak”</em></p>
<p>Ketika pemuda dari bani Hasyim itu menginjak dewasa dan mencapai usia baligh, ia selalu mendampingi Rasulullah. Kedekatannya seperti mata yang selalu mengikuti pemiliknya. Abdullah bin Abbas selalu menyiapkan air wudlu untuk Rasulullah ketika beliau hendak wudlu.</p>
<p>Saat Rasulullah shalat, Abdullah bin Abbas shalat di belakang beliau. Ketika Rasulullah bepergian, Abdullah bin Abbas selalu membonceng dibelakang beliau.</p>
<p>Kedekatannya dengan Rasulullah seperti bayangan beliau yang selalu mengikuti kemanapun beliau berjalan dan dimanapun beliau berputar.</p>
<p>Disamping Abdullah bin Abbas selalu mengikuti Rasulullah, Abdullah bin Abbas juga mempunyai hati yang sangat jernih, otak yang cerdas, dan sangat pandai menghafal meskipun tanpa alat penghafal yang canggih seperti sekarang.</p>
<p>Abdullah bin Abbas bercerita tentang dirinya,</p>
<p>Pada suatu ketika Rasulullah ingin berwudlu, dengan sigap aku menyiapkan air wudlu beliau. Rasulullah sangat senang dengan yang aku lakukan.</p>
<p>Ketika beliau hendak shalat, beliau menunjukku untuk shalat di samping beliau. Namun aku berdiri di belakang beliau. Selesai shalat beliau mencondongkan badan beliau ke arahku dan bertanya, “Apa yang menghalangimu untuk shalat di sampingku wahai Abdullah?” Aku menjawab, “Engkau lebih mulia dan lebih terhormat di pandanganku daripada aku berdiri di sampingmu.” Lalu Rasulullah mengangkat kedua tangannya ke langit seraya berdoa, “Ya Allah, berikanlah hikmah kepadanya”</p>
<p>Dan ternyata Allah mengabulkan doa nabi Muhammad Saw.. Allah memberikan hikmah kepada Abdullah bin Abbas melebihi para ahli hikmah lainnya.</p>
<p>Tidak diragukan lagi, pasti anda sangat ingin untuk mendengarkan cerita demi cerita Abdullah bin Abbas. Inilah kisah-kisah yang anda inginkan.</p>
<p>Ketika sahabat Ali bin Abi Thalib berseteru dengan Muawiyah, para sahabat Ali meninggalkan dirinya. Abdullah bin Abbas berkata kepada Ali, “Wahai Amirul Mukminin, izinkanlah aku mendatangi kaummu dan menjelaskan kepada mereka.” Ali bin Abi Thalib menjawab, “Aku sangat mengkhawatirkanmu jika engkau terkena bahaya mereka.” Abdullah bin Abbas berkata, “Sekali-kali tidak mungkin hal itu akan terjadi, jika Allah menghendaki.”</p>
<p>Lalu Abdullah bin Abbas menemui mereka. Ketika melihat mereka ternyata tidak ada satu kaumpun yang lebih giat dalam beribadah melebihi mereka.</p>
<p>Mereka berkata, “Selamat datang wahai Ibnu Abbas! Ada apa engkau datang kemari?” Abdullah bin Abbas berkata, “Aku datang untuk memberikan penjelasan kepada kalian.”</p>
<p>Sebagian mereka menjawab, “Tidak usah kamu menjelaskannya pada kami.” Namun sebagian yang lainnya menjawab, “Jelaskanlah, kami akan mendengarkannya.”</p>
<p>Abdullah bin Abbas berkata, “Apa yang menyebabkan kalian mengingkari sepupu Rasulullah yang sekaligus menantu beliau dan juga orang yang pertama kali beriman pada beliau (Ali)?”</p>
<p>Mereka menjawab, “Kami mengingkari tiga hal darinya.”</p>
<p>Abdullah bin Abbas bertanya, “Apa saja itu?”</p>
<p>Mereka menjawab, “Yang pertama, karena dia menjadikan orang-orang yang berada di dalam agama Allah sebagai hakim<a href="/kumpulan%20sahabat%20%20bag2.rtf#_ftn1">[1]</a>. Yang kedua, dia memerangi Aisyah dan Muawiyah, namun tidak mengambil ghanimah (rampasan perang)  dan tawanan perang. Yang ketiga, dia menghapus gelar Amirul Mukminin dari dirinya. Padahal kaum mukminin membaiatnya dan mengangkatnya menjadi pemimpin.”</p>
<p>Abdullah bin Abbas berkata, “Bagaimana jika aku bacakan ayat Al-Qur’an kepada kalian dan aku bacakan hadis Rasulullah yang tidak kalian ingkari. Apakah kalian akan merubah pendirian yang kalian pegang tersebut?”</p>
<p>Mereka menjawab, “Iya!”</p>
<p>Abdullah bin Abbas membacakan firman Allah,</p>
<p><em> “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang ihram. Barangsiapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, Maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu sebagai had-yad yang dibawa sampai ke Ka&#8217;bah atau (dendanya) membayar kaffarat dengan memberi makan orang-orang miskin atau berpuasa seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu, supaya dia merasakan akibat buruk dari perbuatannya. Allah Telah memaafkan apa yang Telah lalu. dan barangsiapa yang kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya. Allah Maha Kuasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) menyiksa.</em><strong>(al-Maidah:95)</strong></p>
<p>Abdullah bin Mas’ud bertanya, “Aku bersumpah kepada kalian dengan nama Allah. Bagaimana tanggapan kalian dengan laki-laki yang menjaga harga diri, darah dan perdamaian di antara mereka dengan seekor kelinci yang harganya tidak lebih dari seperempat dirham. Apakah  menjaga diri, harta, dan perdamaian lebih berhak daripada menjaga kelinci?”</p>
<p>Mereka menjawab, “Yang lebih berhak adalah menjaga darah, diri dan perdamaian di antara mereka. “</p>
<p>Abdullah bin Abbas bertanya, “Sudahkah kalian faham dengan hal ini?”</p>
<p>Mereka menjawab, “Iya.”</p>
<p>Abdullah bin Abbas bertanya, “Jika kalian mengatakan, sesungguhnya Ali berperang namun tidak mengambil tawanan wanita, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah. Apakah kalian menghendaki jika Ali menawan Aisyah, ibu kalian dan menghalalkan kehormatannya (boleh dikumpuli) sebagaimana Rasulullah menawan perempuan lain? Jika kalian menghendaki Ali untuk menawan Aisyah, maka sungguh kalian telah kafir. Namun jika kalian mengatakan bahwa Aisyah bukan ibu kalian, maka sungguh kalian juga kafir, karena Allah Swt.  berfirman,”</p>
<p><em>“Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka. </em><strong>(al-Ahzâb:6)</strong><em> </em></p>
<p>Abdullah bin Abbas bertanya, “Sudahkah kalian faham dengan hal ini?”</p>
<p>Mereka menjawab, “Iya.”</p>
<p>Abdullah bin Abbas menjawab, “Sekarang terserah kalian memilih yang mana saja.”</p>
<p>Abdullah bin Abbas berkata, “Adapun perkataan kalian, sesungguhnya Ali menghapus gelar Amirul Mukminin dari dirinya. Alasannya adalah, pada peristiwa perjanjian Hudaibiyyah Rasulullah meminta kaum musyrikin untuk  menulis isi perjanjian itu dengan nama beliau Muhammad Rasulullah, namun mereka enggan dan berkata, “Kalimat ‘Rasulullah’ (Utusan Allah) inilah yang membuat kami memerangimu” tulislah Muhammad bin Abdullah.” Dan Rasulullahpun menuruti kemauan mereka. Beliau berkata, “Sungguh aku adalah Rasulullah, meskipun kalian mendustakanku. “</p>
<p>Abdullah bin Abbas kembali bertanya, “Apakah kalian sudah faham hal ini?”</p>
<p>Mereka menjawab, “Iya.”</p>
<p>Hasil dari pembicaraan Ali yang penuh dengan hikmah yang dalam dan alasan yang kuat ini adalah kembalinya 20.000 orang ke barisan Ali bin Abi Thalib. Sedangkan 4000 orang lainnya masih memusuhi dan melawan Ali serta berpaling dari kebenaran.</p>
<p>Pemuda yang bernama Abdullah bin Abbas ini menempuh berbagai jalan untuk menuntut ilmu. Untuk meraih ilmu yang dia tuju dia mengerahkan segenap tenaganya.</p>
<p>Abdullah bin Abbas minum dari ‘sumber air’ Rasulullah selama hidup beliau. Ketika Rasulullah pulang ke haribaan Allah, Abdullah bin Abbas mencari ilmu dari para ulama’ yang masih tersisa. Dia mengambil ilmu dari mereka dan juga berguru secara tatap muka dengan mereka.</p>
<p>Abdullah bin Abbas bercerita tentang dirinya,</p>
<p>Apabila ada salah seorang sahabat yang menyampaikan hadis Rasulullah kepadaku, aku langsung mendatangi pintu rumah beliau di kala beliau sedang tidur siang. Aku membentangkan selendangku di teras rumahnya. Hingga angin-angin menerbangkan debu ke badanku. Seandainya saja aku meminta izin kepada beliau niscaya beliau mengizinkanku. Sungguh aku melakukan hal tersebut agar tidak mengganggu istirahat beliau.</p>
<p>Ketika Rasulullah keluar dari rumahnya dan melihat kondisi Abdullah bin Abbas seperti itu, beliau bertanya, “Wahai sepupu Rasulullah, apa yang mendorongmu untuk datang kepadaku? Tidakkah cukup engkau mengirim surat kepadaku kemudian aku mendatangimu?”</p>
<p>Abdullah bin Abbas berkata, “Aku lebih berhak untuk mendatangimu. Karena ilmu itu didatangi bukan mendatangi.” Baru setelah itu aku bertanya kepada beliau hadis yang beliau sabdakan.</p>
<p>Meskipun Abdullah bin Abbas menghinakan dirinya dalam menuntut ilmu namun dia sangat menghormati para ulama’.</p>
<p>Lihatlah ketika Zaid bin Tsabit, penulis wahyu dan pemimpin penduduk Madinah dalam masalah Fiqih, Qira’ah, dan ilmu Fara’idl (ilmu waris) menunggang kendaraannya, Abdullah bin Abbas, pemuda dari Bani Hasyim itu berdiri di hadapannya seperti berdirinya seorang budak kepada tuannya. Abdullah bin Abbas memegangi unta Zaid bin Tsabit dan memegang tali kendalinya.</p>
<p>Zaid berkata padanya, “Wahai sepupu Rasulullah, lepaskanlah tali itu!”</p>
<p>Ibnu Abbas berkata, “Beginilah kami diperintahkan untuk berperilaku kepada  ulama’ kami.”</p>
<p>Zaid berkata, “Tunjukkan tanganmu padaku!”</p>
<p>Abdullah bin Abbas mengeluarkan dua tangan beliau. Pada waktu itu Zaid bin Tsabit membungkukkan tubuhnya dan mencium tangannya. Zaid berkata, “Beginilah kami diperintahkan untuk berperilaku kepada keluarga nabi kami.”</p>
<p>Abdullah bin Abbas terbiasa mencari ilmu dengan cara seperti itu. Bahkan hal itu menjadi sesuatu yang sangat menakjubkan bagi para pujangga.</p>
<p>Masru’ bin al-Ajda’, salah seorang tokoh tabi’in berkata, “Ketika aku melihat Abdullah bin Abbas, aku selalu mengatakan “inilah manusia yang paling tampan.”</p>
<p>Apabila aku mendengar dia berkata, aku mengucapkan, “Inilah orang yang paling fasih lisannya.”</p>
<p>Apabila dia berbicara tentang keilmuan aku berkata, “Inilah orang yang paling alim (luas wawasannya) di kalangan manusia.</p>
<p>Ketika keilmuan Abdullah bin Abbas hampir mencapai kesempurnaan yang dia inginkan, Abdullah bin Abbas menjadi guru bagi semua manusia.</p>
<p>Rumahnya adalah kampus bagi kaum muslimin. Ya, kampus dalam arti seperti di masa modern ini. Hanya saja terdapat perbedaan antara kampus Abdullah bin Abbas dengan kampus saat ini.</p>
<p>Kampus saat ini dipenuhi dengan puluhan dosen, sedangkan kampus Abdullah bin Abbas hanya bertumpu kepada satu dosen saja, yaitu Abdullah bin Abbas.</p>
<p>Salah seorang sahabatnya berkata, “Sungguh aku sudah tahu betul majlis Abdullah bin Abbas. Seandainya saja semua kaum Quraisy membanggakan majlis Abdullah bin Abbas, sungguh hal itu sudah tepat untuk menjadi kebanggaan.”</p>
<p>Aku melihat banyak sekali orang yang berkumpul di jalan yang menuju ke rumahnya, hingga jalan tersebut disesaki oleh mereka. Aku masuk ke dalam rumahnya dan memberitahunya bahwa manusia sudah berjejal-jejalan di pintu rumahnya.“</p>
<p>Abdullah bin Abbas berkata kepadaku, “Sediakanlah air wudlu untukku!”</p>
<p>Setelah itu Abdullah bin Abbas berwudlu dan duduk. Dia berkata kepadaku, “Katakanlah kepada mereka, siapa yang menginginkan ilmu tentang al-Qur’an dan cara membacanya, silahkan masuk!”</p>
<p>Lalu aku keluar dan mengatakan hal itu kepada orang-orang yang sudah berdesakan diluar. Akhirnya mereka yang menginginkan ilmu tersebut masuk ke dalam rumahnya hingga memenuhi kamar beliau. Semua pertanyaan yang diajukan kepadanya, dia jawab dengan baik. Bahkan Abdullah bin Abbas menjawab melebihi apa yang mereka inginkan. Lalu Abdullah bin Abbas berkata kepada mereka, “Berikanlah jalan untuk saudara kalian yang lain!” Lalu mereka keluar.</p>
<p>Abdullah bin Abbas berkata kepadaku, “Katakan kepada mereka, siapa yang ingin bertanya tentang tafsir dan takwil al-Qur’an silahkan masuk!” Lalu aku keluar dan mengatakan hal tersebut kepada mereka.</p>
<p>Akhirnya mereka masuk dan memenuhi kamarnya. Semua pertanyaan mereka dia jawab dengan baik, bahkan dia jawab dengan jawaban yang lebih menyeluruh dari pertanyaan mereka. Setelah itu Abdullah bin Abbas berkata kepada mereka, “Berikanlah jalan untuk saudara kalian yang lain!” Lalu mereka keluar.</p>
<p>Abdullah bin Abbas berkata kepadaku, “Keluarlah dan katakan kepada mereka, siapa yang ingin bertanya tentang halal dan haram serta hukum fikih, silahkan masuk!” Lalu aku keluar dan mengatakan hal tersebut kepada mereka.</p>
<p>Akhirnya mereka masuk dan memenuhi kamarnya. Semua pertanyaan mereka dia jawab dengan baik, bahkan dia menjawab dengan jawaban yang lebih menyeluruh dari pertanyaan mereka. Setelah itu Abdullah bin Abbas berkata kepada mereka, “Berikanlah jalan untuk saudara kalian yang lain!” Lalu mereka keluar.</p>
<p>Abdullah bin Abbas berkata kepadaku, “Keluarlah dan katakan kepada mereka, barangsiapa yang ingin bertanya tentang ilmu faraidl dan yang semisalnya, silahkan masuk!” Lalu aku keluar dan mengatakan hal tersebut kepada mereka.</p>
<p>Akhirnya mereka masuk dan memenuhi kamarnya. Semua pertanyaan mereka dia jawab dengan baik, bahkan dia jawab dengan jawaban yang lebih menyeluruh dari pertanyaan mereka. Setelah itu Abdullah bin Abbas berkata kepada mereka, “Berikanlah jalan untuk saudara kalian yang lain!” Lalu mereka keluar.</p>
<p>Abdullah bin Abbas berkata kepadaku, “Keluarlah dan katakan kepada mereka, siapa yang ingin bertanya tentang syair, bahasa arab dan makna-makna kalimat asing silahkan masuk!” Lalu aku keluar dan mengatakan hal tersebut kepada mereka.</p>
<p>Akhirnya mereka masuk dan memenuhi kamarnya. Semua pertanyaan mereka dia jawab dengan baik, bahkan dia jawab dengan jawaban yang lebih menyeluruh dari pertanyaan mereka.</p>
<p>Orang yang menceritakan hal ini mengatakan, “Seandainya semua orang Quraisy membanggakan hal tersebut, sungguh hal itu sudah merupakan sebuah kebanggaan.”</p>
<p>Abdullah bin Abbas mempunyai keinginan untuk membagikan ilmu sesuai hari-hari yang ada, hingga tidak terjadi desak-desakan di pintunya seperti hari itu. Abdullah bin Abbas membagi satu hari dalam satu minggu khusus untuk mempelajari ilmu tafsir. Satu hari berikutnya khusus untuk mempelajari ilmu fikih. Satu hari berikutnya khusus untuk mempelajari sejarah peperangan Rasulullah, satu hari berikutnya khusus untuk mempelajari syair, satu hari berikutnya khusus untuk mempelajari hari-hari orang Arab. Semua orang alim yang duduk di majlisnya tunduk padanya. Semua yang bertanya kepadanya pasti akan mendapatkan ilmu.</p>
<p>Abdullah bin Abbas juga merupakan orang yang selalu diajak bermusyawarah oleh para khalifah karena kelebihan ilmunya dan kefakihannya. Meskipun saat itu usianya masih muda.</p>
<p>Apabila Umar bin Khattab memiliki masalah yang sangat sukar diselesaikan, dia memanggil semua sahabatnya. Di antara orang yang dia undang adalah Abdullah bin Abbas. Apabila Abdullah bin Abbas datang, Umar meninggikan tempat duduk Abdullah bin Abbas, sedangkan dia sendiri merendahkan tempat duduknya.</p>
<p>Umar berkata kepadanya, “Saya mempunyai masalah yang sangat berat sekali, hanya orang-orang yang semisalmu yang dapat menyelesaikan masalah tersebut.”</p>
<p>Pernah suatu ketika Umar dikritik karena mengundang Abdullah bin Abbas dan mengikutsertakannya dalam kumpulan para sahabat. Abdullah bin Mas’ud masih terlalu muda, alasan mereka. Lalu Umar bin Khattab menjawab, “Sungguh Abdullah bin Abbas adalah pemuda yang berfikiran dewasa, mempunyai lisan yang selalu bertanya, mempunyai akal yang cerdas.”</p>
<p>Meskipun Abdullah bin Abbas selalu pergi untuk mengajarkan ilmu kepada orang-orang tertentu namun dia tidak melupakan haknya kepada orang-orang awam. Dia juga mempunyai majlis untuk memberikan nasihat dan peringatan.</p>
<p>Di antara nasihatnya ialah, nasihat  kepada para pelaku dosa,</p>
<p>“Wahai para pelaku dosa, janganlah kalian merasa aman dari siksaan yang disebabkan oleh dosa kalian. Ketahuilah, dosa yang kalian lakukan akan selalu diiringi dosa yang lebih besar dari dosa yang kalian lakukan. Ketiadaan rasa malu kepada orang yang berada di sebelah kanan dan kirimu ketika engkau melakukan perbuatan dosa tidaklah mengurangi dosa kalian. Tertawa kalian saat melakukan dosa, sungguh lebih besar dosanya daripada dosa yang kalian lakukan. Kalian melakukan perbuatan dosa, padahal kalian tidak tahu apa yang akan Allah perbuat untuk kalian. Kebahagiaan kalian ketika berhasil  melakukan dosa, lebih besar dosanya daripada dosa yang kalian lakukan. Kesedihan kalian karena tidak bisa melakukan dosa, merupakan dosa yang lebih besar daripada dosa itu sendiri. Ketakutan kalian jika perbuatan dosa yang kalian lakukan diketahui manusia adalah dosa yang lebih besar dari dosa yang kalian lakukan. Apalagi jika hati kalian pada waktu itu tidak sedikitpun ada rasa takut dengan pengawasan Allah. Wahai para pelaku dosa, tahukan kalian apa dosa nabi Ayyub As. ketika Allah menimpakan cobaan pada diri dan hartanya? Dosanya pada waktu itu hanyalah karena dia tidak memberikan pertolongan kepada orang yang datang meminta tolong padanya.”</p>
<p>****</p>
<p>Abdullah bin Abbas bukanlah merupakan tipe orang yang mengatakan apa yang tidak dia lakukan, bukan pula seperti orang yang melarang sesuatu padahal dia sendiri melakukannya. Abdullah bin Abbas adalah orang yang ahli puasa di siang hari dan ahli shalat tahajjud pada malam hari.</p>
<p>Abdullah bin Malikah menceritakan tentang Abdullah bin Abbas. Dia berkata, “Dulu aku pernah menemani Abdullah bin Abbas bepergian dari Makkah menuju Madinah. Apabila kami singgah di sebuah rumah, kami melakukan shalat di separuh malam ketika semua manusia tertidur karena kecapekan yang luar biasa. Pada suatu malam aku melihatnya membaca ayat,</p>
<p>وَ جآءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ذلِكَ مَا كُنْتَ مِنْهُ تَحِيْدُ</p>
<p><em>“Dan datanglah sakaratul maut dengan nyata, pada waktu itu kalian tidak bisa melarikan diri…”</em><strong>(Qaf:19)</strong></p>
<p>Abdullah bin Abbas mengulang-ulang ayat itu dan menangis dengan suara yang keras hingga matahari terbit.”</p>
<p>****</p>
<p>Setelah kita mengenal Abdullah bin Abbas, cukuplah bagi kita untuk mengatakan bahwa Abdullah bin Abbas adalah orang yang paling menawan di antara semua manusia dan paling cerah wajahnya. Abdullah bin Abbas selalu menangis di tengah malam karena takut kepada Allah hingga air matanya yang deras meninggalkan dua bekas pada kedua pipinya yang indah. Bekas itu menyerupai bekas tali sandal.</p>
<p>Abdullah bin Abbas mencapai puncak kemuliaan ilmu yang paling tinggi. Hal itu terbukti ketika pada suatu hari khalifah Muawiyah bin Abi Sufyan keluar untuk menunaikan ibadah haji. Abdullah bin Abbas pada waktu itu juga keluar untuk menunaikan ibadah haji. Waktu itu Abdullah bin Abbas tidak memiliki kekuasaan atau kerajaan. Muawiyah membawa rombongan yang sangat banyak yang terdiri dari para pegawai pemerintahannya. Namun ternyata Abdullah bin Abbas juga mempunyai rombongan yang sangat banyak melebihi rombongan khalifah Muawiyah. Rombongan tersebut adalah para pencari ilmu.</p>
<p>Abdullah bin Abbas hidup di dunia selama 71 tahun. Selama hidupnya dia memenuhi dunia dengan ilmu, hikmah dan takwa.</p>
<p>Ketika Abdullah bin Abbas meninggal dunia, Muhammad bin Hanafiyyah<a href="/kumpulan%20sahabat%20%20bag2.rtf#_ftn2">[2]</a> juga turut menyolatkannya. Sedangkan yang lainnya ialah para sahabat yang masih hidup dan juga para tabi’in.</p>
<p>Ketika mereka menaburkan tanah di atas kuburannya, tiba-tiba mereka mendengar seseorang yang membaca,</p>
<p><em>Artinya</em>,</p>
<p><em> “Wahai jiwa-jiwa yang tenang. Kembalilah kepada tuhanMu dengan hati yang ridha dan diridhai * Masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKu dan masuklah surgaKu. </em><strong>(al-Fajr: 27-30) </strong><a href="/kumpulan%20sahabat%20%20bag2.rtf#_ftn3"><strong><strong>[3]</strong></strong></a><strong> </strong></p>
<div>
<hr size="1" />
<div>
<p><a href="/kumpulan%20sahabat%20%20bag2.rtf#_ftnref1">[1]</a> Yang mereka maksud adalah, Ali menerima orang-orang dari Abu Musa al-Asy’ari dan Amr bin Ash dalam mengadili antara Ali dan Muawiyah.</p>
</div>
<div>
<p><a href="/kumpulan%20sahabat%20%20bag2.rtf#_ftnref2">[2]</a> Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Ali bin Abi Thalib. Dia dinisbatkan kepada ibunya, untuk membedakan antara Hasan dan Husain. Ibu Hasan dan Husain adalah Fatimah, sedangkan ibu Muhammad adalah seorang perempuan dari bani Hanifah.</p>
</div>
<div>
<p><a href="/kumpulan%20sahabat%20%20bag2.rtf#_ftnref3">[3]</a> Untuk lebih jelas mengetahui sejarah Abdullah bin Abbas, silahkan baca kitab,</p>
<p>-          al-Jâmi’ al-Ushûl juz 10 bab keutamaan sahabat</p>
<p>-          al-Ishabah at-Tarjamah 4781</p>
<p>-          al-Isti’âb juz 2 halaman 350</p>
<p>-          Usdul Ghabah juz 3 halaman 192</p>
<p>-          Sifatus Shafwah juz 1 halaman 746</p>
<p>-          Hayâtus Shahabah lihat daftar isi juz 4</p>
<p>-          Al-A’lâm wa marâji’uhu</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/masjidalkhoir.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/masjidalkhoir.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/masjidalkhoir.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/masjidalkhoir.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/masjidalkhoir.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/masjidalkhoir.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/masjidalkhoir.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/masjidalkhoir.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/masjidalkhoir.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/masjidalkhoir.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/masjidalkhoir.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/masjidalkhoir.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/masjidalkhoir.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/masjidalkhoir.wordpress.com/58/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masjidalkhoir.wordpress.com&amp;blog=2497400&amp;post=58&amp;subd=masjidalkhoir&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://masjidalkhoir.wordpress.com/2011/01/24/abdullah-bin-abbas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ee8cc406cd6f4a6330c45ca64d20ace7?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">masjidalkhoir</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ABBAD BIN BASYAR</title>
		<link>http://masjidalkhoir.wordpress.com/2011/01/22/abbad-bin-basyar/</link>
		<comments>http://masjidalkhoir.wordpress.com/2011/01/22/abbad-bin-basyar/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 22 Jan 2011 03:59:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>masjidalkhoir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sahabat Nabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masjidalkhoir.wordpress.com/?p=56</guid>
		<description><![CDATA[“Ada tiga orang dari kalangan Anshar yang tidak akan tertandingi kelebihannya. Mereka adalah, Sa’ad bin Muadz, Usaid bin Khudlair, dan Abbad bin Basyar.” (Aisyah, Ummul Mukminin) &#160; Abbad bin Basyar merupakan nama yang berkilau dan bersinar sangat terang dalam sejarah Nabi Muhammad Shallallahu &#8216;alaihi wa salam. Jika anda mencarinya dari kalangan para hamba, maka anda [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masjidalkhoir.wordpress.com&amp;blog=2497400&amp;post=56&amp;subd=masjidalkhoir&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>“Ada tiga orang dari kalangan Anshar yang tidak akan tertandingi kelebihannya. Mereka adalah, Sa’ad bin Muadz, Usaid bin Khudlair, dan Abbad bin  Basyar.” (Aisyah, Ummul Mukminin) </em></span></p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Abbad bin Basyar merupakan nama yang berkilau dan bersinar sangat terang dalam sejarah Nabi Muhammad Shallallahu &#8216;alaihi wa salam. Jika anda mencarinya dari kalangan para hamba, maka anda akan mendapatinya sebagi hamba yang sangat bertaqwa, berjiwa bersih, dan selalu bangun malam dengan membaca beberapa juz al-Qur’an.  <span id="more-56"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Dan jika anda mencarinya di kalangan para pahlawan, maka anda akan mendapatinya sebagai seorang pemberani dan perkasa, selalu berada dalam pertempuran untuk menegakkan kalimat Allah. Jika anda mencarinya di antara para pemimpin, niscaya anda akan mendapatinya sebagai orang yang kuat dan terpercaya dalam menjaga harta kaum muslimin.  Hingga Aisyah mengatakan tentang dua orang dari kalangan kaumnya yang lain, “Ada tiga orang dari kalangan Anshar yang tidak akan tertandingi kelebihannya. Mereka adalah, Sa’ad bin Muadz, Usaid bin Khudlair, dan Abbad bin  Basyar.” **** Pada waktu cahaya Islam yang pertama kali bersinar di atas kota Madinah, pada waktu Abbad bin Basyar masih berusia muda belia. Kulitnya putih, terpancar raut muka yang ceria di wajahnya yang suci dan terjaga. Dalam perilakunya terpancar kedewasaan dan kecerdasan. Padahal pada waktu itu usianya belum genap 25 tahun. ****  Abbad bin Basyar berkumpul di majlis seorang da’i dari Makkah, Mush’ab bin Umair. Akhirnya dengan sangat cepat kekuatan iman tertancap dalam lubuk hatinya yang terdalam. Akhlaknya yang mulia dan budipekertinya yang santun menyatu dengan keimanan.</p>
<p style="text-align:justify;">Abbad bin Basyar selalu mendengarkan Mush’ab bin Umair membaca al-Qur’an dengan suaranya yang sangat merdu dan menggetarkan. Bacaannya sangat menawan hatinya hingga Abbad bin Basyar sangat cinta sekali dengan bacaan al-Qur’an. Dia melonggarkan dalam hatinya yang terdalam sebagai tempat masuknya al-Qur’an. Al-Qur’an menjadi kesibukannya yang baru. Dia selalu membacanya berkali-kali, siang maupun  malam, bepergian maupun ketika mukim. Hingga para sahabat mengenalnya sebagai Imam dan sahabat al-Qur’an.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada suatu malam, Rasulullah hendak melakukan shalat tahajud di kamar Aisyah yang berdampingan dengan masjid. Rasulullah mendengar suara Abbad bin Basyar membaca al-Qur’an dengan suara yang sangat indah dan merdu, sebagaimana ketika Jibril menurunkannya di hati beliau. Rasulullah bertanya, “Wahai Aisyah, betulkah ini adalah suara Abbad bin Basyar?” Aisyah menjawab, “Betul wahai Rasulullah.” Rasulullah berdoa, “Ya Allah Ampunilah Abbad bin Basyar.”  Abbad bin Basyar ikut serta dalam semua peperangan bersama Rasulullah. Di setiap peperangan mempunyai sikap yang sangat pantas diperbuat oleh pembawa al-Qur’an.  Di antara contonya ialah, ketika Rasulullah Saw. selesai dari perang Dzatir Riqo’ beliau singgah dengan beberapa sahabatnya di sebuah lembah untuk bermalam di lembah tersebut.  Salah seorang sahabat ada yang berhasil menawan seorang perempuan musyrikin ketika suaminya tidak ada dalam peperangan tersebut. Ketika suaminya datang dan tidak mendapati istrinya, dia bersumpah demi Latta dan ‘Uzza sungguh dia akan menemui Muhammad dan para sahabatnya. Dia tidak akan kembali sebelum menumpahkan darah mereka. **** Sebelum para sahabat menderumkan unta mereka, Rasulullah berkata kepada mereka, “Siapa yang akan berjaga-jaga di malam ini?” Berdirilah Abbad bin Basyar dan Ammar bin Yasir seraya berkata, “Kami yang akan berjaga-jaga wahai Rasulullah.” Dulu Rasulullah pernah mempersaudarakan antara keduanya ketika kaum muhajirin tiba di Madinah. Ketika keduanya berada di ujung lembah itu Abbad bin Basyar bertanya kepada saudaranya, Ammar bin Yasir, “Malam ini engkau memilih tidur di bagian yang mana? Bagian awal malam ataukah akhirnya?” Ammar menjawab, “Aku akan tidur di awal malam.” Akhirnya Ammar bin Yassir berbaring tidak jauh darinya. **** Pada malam itu suasana sangat gelap dan sepi. Bintang, pohon, dan batu bertasbih memuji Allah dan mensucikannya. Abbad sangat ingin sekali pada malam itu untuk beribadah. Hatinya sangat rindu dengan al-Qur’an.  Bacaan yang sangat dia sukai ialah bacaan al-Qur’an yang dibaca di dalam shalat. Dia mengumpulkan antara kenikmatan shalat dan kenikmatan membaca al-Qur’an.  Akhirnya dia menghadap ke kiblat dan menunaikan shalat. Dia membaca surat al-Kahfi dengan suaranya yang sangat merdu dan indah. Ketika Abbad bin Basyar tenggelam dalam tasbih kepada cahaya ilahi dan tenggelam dalam cahaya keilahian Allah, tiba-tiba datanglah seseorang dengan tergesa-gesa. Ketika orang tersebut melihat Abbad berdiri tegak di bibir lembah itu, orang itu tahu bahwa Muhammad dan para sahabatnya pasti berada di lembah tersebut dan Abbad sedang menjaga mereka. Akhirnya orang tersebut mengambil busurnya dan mengeluarkan anak panah dari tempatnya lalu meletakkan di busurnya. Orang tersebut menembakkan panahnya ke tubuh Abbad bin Basyar hingga mengenainya. Abbad mencabut panah tersebut dari tubuhnya dan masih tenggelam dalam bacaan al-Qur’an dalam shalatnya. Laki-laki itu menembakkan kembali anak panahnya hingga mengenai tubuh Abbad. Namun lagi-lagi Abbad hanya mencabutnya seperti sebelumnya. Orang tersebut memanahnya untuk yang ketiga kalinya. Abbad mencabut panah tersebut seperti sebelumnya. Abbad mundur ke belakang hingga dekat dengan temannya lalu membangunkannya. Abbad berkata, “Bangunlah, aku terkena luka yang melemahkanku.” Ketika orang tersebut melihat Abbad bin Basyar dan Ammar bin Yassir, dia langsung melarikan diri.  **** Kini Ammar memalingkan perhatiannya kepada Abbad. Darah mengucur deras dari tiga luka dalam tubuhnya. Ammar berkata kepadanya, “Subhanallah! Wahai Abbad, mengapa engkau tidak membangunkanku sejak panah yang pertama mengenaimu?” Abbad menjawab, “Pada waktu itu aku sedang membaca surat yang sangat aku cintai. Aku tidak ingin memutusnya hingga aku selesai membacanya. Demi Allah, seandainya saja aku tidak takut menyia-nyiakan amanah Rasulullah untuk berjaga di lembah ini, sungguh aku lebih memilih mati daripada memotong surat tersebut.  **** Ketika terjadi perang Riddah pada masa pemerintahan Abu Bakar ash-Shiddiq, Abu Bakar menyiapkan pasukan yang sangat banyak untuk menumpas fitnah yang dibawa oleh Musailamah al-Kadzab dan menundukkan orang-orang murtad yang menjadi pengikutnya dan mengembalikan mereka kepada Islam. Abbad bin Basyar termasuk salah seorang yang bergabung dalam pasukan kaum muslimin.  Abbad melihat dalam peperangan itu sesuatu yang membuat dadanya terpenuhi dengan kemarahan dan keputus asaan. Di setiap peperangan yang dia ikuti tidak ada kemenangan nyata yang diakui baik dengan pertolongan kaum muhajirin kepada anshar maupund dari kalangan anshar untuk kaum muhajirin.  Dia mendengar cemoohan-cemoohan yang memenuhi telinganya dengan bara dan duri. Abbad yakin bahwa tidak ada kemenangan untuk kaum muslimin dalam peperangan sengit ini keculi jika masing-masing kelompok mempunyai kelebihan. Atau masing-masing mereka memegang urusannya masing-masing agar benar-benar mujahidin sejati dapat diketahui. **** Di malam setelah peperang yang sangat sengit itu, Abbad bermimpi di malam itu juga. Dia bermimpi langit terbuka untuknya. Ketika dia  masuk  ke dalam langit, tiba-tiba pintunya menutup dan dia masuk ke dalam langit tersebut.  Keesokan harinya dia menceritakan mimpinya tersebut kepada Abu Sa’id al-Khudri. Abu Sa’id berkata, “Demi Allah, itu adalah pertanda mati syahid, wahai Abbad!” **** Ketika matahari mulai tinggi dan perang dilanjutkan,Abbad bin Basyar berdiri di sebuah dataran yang tinggi sembari berteriak, “Wahai kaum Anshar, jadilah kalian yang paling unggul dari semua manusia.  Hancurkan sarung pedang kalian. Janganlah sampai kalian meninggalkan islam datang di belakangmu.” Abbad mengulang-ulangi perkataan tersebut hingga berkumpul 400 orang kepadanya di bawah kepemimpinan Tsabit bin Qais, Barra’ bin Malik dan Abu Dujanah, pemilik pedang Rasulullah.  Bersama dengan mereka Abbad bin  Basyar mengobrak-abrik barisan musuh dengan pedang yang berada di tangannya. Dia maju dengan menghadapi kematian. Pasukan Musailamah al-Kadzab lari tunggang langgang karena kalah. Mereka berlindung di Kebun kematian.  Di situlah, di benteng kebun kematian tersebut Abbad bin Basyar terjatuh dan syahid dengan darah yang mengucur deras dari tubuhnya. Luka yang mengucurkan darah tersebut berasal dari sabetan pedang, tusukan tombak dan lemparan panah. Mereka tidak dapat mengetahui jasad Abbad bin Basyar kecuali setelah melihat tanda dalam tubuhnya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/masjidalkhoir.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/masjidalkhoir.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/masjidalkhoir.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/masjidalkhoir.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/masjidalkhoir.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/masjidalkhoir.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/masjidalkhoir.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/masjidalkhoir.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/masjidalkhoir.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/masjidalkhoir.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/masjidalkhoir.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/masjidalkhoir.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/masjidalkhoir.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/masjidalkhoir.wordpress.com/56/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masjidalkhoir.wordpress.com&amp;blog=2497400&amp;post=56&amp;subd=masjidalkhoir&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://masjidalkhoir.wordpress.com/2011/01/22/abbad-bin-basyar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ee8cc406cd6f4a6330c45ca64d20ace7?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">masjidalkhoir</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Abu Darda&#8217;</title>
		<link>http://masjidalkhoir.wordpress.com/2010/04/12/abu-darda/</link>
		<comments>http://masjidalkhoir.wordpress.com/2010/04/12/abu-darda/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Apr 2010 02:45:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>masjidalkhoir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sahabat Nabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masjidalkhoir.wordpress.com/?p=52</guid>
		<description><![CDATA[“Abu Darda’ menolak dunia dengan dua telapak tangan dan dadanya.” (Abdurrahman bin Auf) Uwaimir bin Malik al-Khazraji atau yang sering dipanggil Abu Darda’ bangun tidur lebih awal. Dia pergi menuju patungnya yang dia letakkan di tempat yang paling mulia di rumahnya. Uwaimir mengucapkan selamat dan mengolesinya dengan minyak wangi yang paling mahal yang dia miliki [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masjidalkhoir.wordpress.com&amp;blog=2497400&amp;post=52&amp;subd=masjidalkhoir&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong></p>
<p><em>“Abu Darda’ menolak dunia dengan dua telapak tangan dan dadanya.” </em></p>
<p><strong>(Abdurrahman bin Auf)</strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p>Uwaimir bin Malik al-Khazraji atau yang sering dipanggil Abu Darda’ bangun tidur lebih awal. Dia pergi menuju patungnya yang dia letakkan di tempat yang paling mulia di rumahnya.</p>
<p>Uwaimir mengucapkan selamat dan mengolesinya dengan minyak wangi yang paling mahal yang dia miliki di toko minyak wanginya. Dia juga memakaikan pada patungnya baju baru dari sutra yang paling mewah. Baju sutra yang baru itu hasil hadiah dari salah seorang pedagang dari Yaman yang datang padanya.</p>
<p>Ketika matahari sudah agak tinggi, Abu Darda’ meninggalkan rumahnya pergi menuju tokonya.</p>
<p>Dalam perjalanan menuju Makkah, ternyata jalan-jalan sudah dipenuhi dengan para pengikut Muhammad yang kembali dari medan Badr. Di depan mereka terdapat tawanan dari bangsa Quraisy. Abu Darda’ ingin menghindari rombongan kaum muslimin, namun langkahnya terhenti oleh seorang pemuda dari suku Khazraj. Abu Darda’ bertanya pada orang tersebut tentang Abdullah bin Rawahah.</p>
<p>Pemuda Khazraj berkata kepada Abu Darda’, “Dalam peperangan tadi, Abdullah bin Rawahah, mendapatkan perlawanan yang sangat sengit, namun dia kembali dalam keadaan menang, dan mendapatkan rampasan perang.”Abu Darda’ senang dengan jawaban tersebut.</p>
<p>Pemuda Khazraj itu tidak heran dengan pertanyaan Abu Darda’ tentang Abdullah bin Rawahah, karena semua orang sudah mengetahui tali persaudaraan antara keduanya. Abu Darda’ dan Abdullah bin Rawahah adalah dua saudara di masa jahiliyyah. Namun ketika datang agama Islam, Abdullah bin Rawahah menyambutnya dengan baik dan masuk Islam, sedangkan Abu Darda’ enggan masuk Islam.</p>
<p>Namun ternyata perbedaan itu tidak memutuskan tali persaudaraan mereka yang kuat. Abdullah bin Rawahah sering berkunjung ke rumah Abu Darda’ dan menawarkan islam padanya dan juga membujuknya untuk masuk Islam dan menyayangkan umur yang dia lewati jika dia dalam keadaan musyrik.<span id="more-52"></span></p>
<p>****</p>
<p>Abu Darda’ sampai di tokonya. Dia duduk di kursinya yang tinggi. Mulailah dia melakukan jual beli, dan memerintah serta melarang budaknya.</p>
<p>Abu Darda’ tidak sedikitpun mengetahui sesuatu yang terjadi di rumahnya. Pada waktu itu Abdullah bin Rawahah pergi ke rumah Abu Darda’ dan berniat melaksakan sebuah rencana.</p>
<p>Ketika Abdullah bin Rawahah sampai di rumahnya, dia melihat rumahnya terbuka dan Ummu Darda’ berada di halaman rumah.</p>
<p>Abdullah bin Rawahah berkata, “<em>Assalamu’alaikum, </em>wahai hamba Allah.”</p>
<p>Ummu Darda’ menjawab, “<em>Wa’alaikumsalam,</em> wahai saudara Abu Darda’.”</p>
<p>Abdullah bin Rawahah bertanya, “Di mana Abu Darda’?”</p>
<p>Ummu Darda’berkata, “Dia pergi ke tokonya, nanti dia akan kembali.”</p>
<p>Abdullah bin Rawahah bertanya, “Apakah engkau mengizinkanku masuk?”</p>
<p>Ummu Darda’ menjawab, “Silahkan, selamat datang di rumahku.” Lalu Ummu Darda’ mempersilahkannya masuk. Ummu Darda’ pergi ke kamarnya. Dia sibuk menyelesaikan urusan rumahnya dan mengurusi anaknya.</p>
<p>Abdullah bin Rawahah masuk ke dalam kamar tempat diletakkannya patung di dalam rumahnya. Ia mengeluarkan kapak yang dia bawa. Lalu dia mendekat ke patung tersebut seraya memotong-motongnya. Abdullah berkata, “Ketahuilah bahwa sesuatu yang disembah selain Allah adalah batil (keliru)….sesuatu yang disembah selain Allah adalaah batil.” Setelah selesai memotong-motongnya Abdullah bin Rawahah meninggalkan rumah Abu Darda’.</p>
<p>****</p>
<p>Ummu Darda’ masuk ke dalam kamar yang terdapat patungnya. Dia sangat kaget ketika melihat patungnya terpotong-potong, anggota tubunya terpotong secara terpisah di atas tanah. Ummu Darda’ menampari pipinya seraya berkata, “Sungguh engkau telah mencelakakanku wahai Abdullah bin Rawahah…. Sungguh engkau telah mencelakakanku wahai Abdullah bin Rawahah”</p>
<p>Tidak berselang lama pulanglah Abu Darda’ dari tokonya. Dia  melihat istrinya menangis dengan suara keras dalam keadaan duduk di pintu kamar yang terdapat patungnya.  Tanda-tanda kekhawatiran terpancar dari wajahnya.</p>
<p>Abu Darda’ bertanya, “Ada apa dengamu?”</p>
<p>Ummu Darda’ menjawab, “Ketika engkau tidak ada, saudaramu Abdullah bin Rawahah datang dan menghancurkan patung itu sebagaimana yang engkau lihat.” Abu Darda’ memandangi patungnya yang sudah hancur berkeping-keping. Api kemarahan menyala dalam dirinya. Dia bertekad untuk membalas dendam pada Abdullah bin Rawahah. Namun ia berfikir sejenak dan berkata, “Jika patung ini benar-benar tuhan, niscaya dia mampu menolak musibah yang menimpanya.”</p>
<p>Seketika itu juga dia pergi ke rumah Abdullah bin Rawahah. Lalu keduanya pergi bersama-sama ke rumah Rasulullah `, dia mengikrarkan keislamannya pada beliau. Abu Darda’ adalah orang yang paling akhir dalam memeluk Islam.</p>
<p>Abu Darda’ beriman sejak pertama kepada Allah dan RasulNya dengan keimanan yang dapat merubah kebiasaannya. Dia sangat menyesal sekali dengan kebaikan yang telah lama terlewatkan.</p>
<p>Dia berhasil mencapai apa yang lebih dulu dicapai oleh sahabatnya yang lebih dahulu masuk Islam dalam hal memahami agama islam, menghafal Qur’an, beribadah dan bertakwa yang mereka simpan di sisi Allah.</p>
<p>Abu Darda’ bertekad untuk menyusul hal-hal yang telah terlewatkan dengan penuh kesungguhan. Dia bertekad untuk menyambung keletihan malam dengan keletihan siang agar dapat menyusul ‘para pengendara’ lain dan sejajar dengan mereka.</p>
<p>Dia berusaha terus gigih beribadah laksana para orang yang sudah tidak memikirkan dunia. Terus mencari ilmu seperti orang yang sangat kehausan. Abu Darda’ selalu menekuni al-Qur’an, menghafal ayatnya dan menyelami kandungan ayat-ayatnya.</p>
<p>Ketika Abu Darda merasa perdagangannya selama ini mengganggu kenikmatannya dalam beribadah dan menyebabkannya tertinggal dari majlis ilmu, dia meninggalkan perdagangannya tanpa rasa ragu.</p>
<p>Ada salah seorang yang bertanya tentang sikapnya itu. Namun Abu Darda’ menjawab, “Dulu aku berdagang sebelum aku bertemu dengan Rasulullah. Ketika aku memeluk islam, aku ingin menyatukan antara dagang dan ibadah. Namun hal itu tidak bisa aku lakukan. Akhirnya aku meninggalkan perdagangan dan mementingkan ibadah. Demi Dzat Yang menggenggam nyawaku, alangkah bahagianya aku jika aku mempunyai toko di sebelah pintu masjid  hingga aku tidak tertinggal shalat Jama’ah di masjid. Setelah itu aku berjual beli hingga aku mendapatkan laba hingga 300 dinar.”</p>
<p>Abu Darda’ menoleh kepada orang yang bertanya tersebut, “Demi Allah, aku tidak mengatakan bahwa Allah mengharamkan jual beli. Namun aku tidak ingin masuk dalam golongan orang-orang tertipu dari perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah.”</p>
<p>Abu Darda’ tidak hanya meninggalkan perdagangan saja namun dia juga meninggalkan kemewahan dan kemilau dunia. Dia hanya bertumpu pada beberapa suap makanan yang kasar dan memakai baju yang murahan untuk menutupi tubuhnya.</p>
<p>Pada suatu malam yang sangat dingin ada sekumpulan orang yang berkunjung ke rumahnya. Abu Darda’ hanya menghidangkan makanan yang kasar untuk mereka dan tidak menyediakan selimut. Ketika para tamu itu hendak tidur, mereka berunding tentang masalah selimut. Salah seorang dari mereka berkata, “Aku akan menemui Abu Darda’ dan mengatakan masalah ini.” Sedangkan yang  lainnya berkata, “Kita terima saja seperti ini.” Namun orang tersebut enggan. Dia pergi ke kamar Abu Darda’. Ketika dia sampai di pintu kamarnya ternyata Abu Darda’ sudah berbaring. Sedangkan istrinya duduk di dekatnya. Keduanya hanya memakai baju yang tipis, tidak bisa melindungi dari panas dan tidak bisa menahan udara dingin.</p>
<p>Orang tersebut berkata kepada Abu Darda’, “Aku melihatmu tidur sebagaimana kondisi kami. Di manakah perlengkapan rumah kalian?”</p>
<p>Abu Darda’ menjawab, “Kami mempunyai rumah yang terletak disana. Setiap kali kami memperoleh rizki, kami selalu mengirimkan perlengkapan rumah ke sana setiap kali kami mendapatkan keuntungan.  Seandainya kami masih mempunyai sisa perlengkapan rumah, niscaya akan kami berikan kepada kalian. Jalan menuju rumahku yang ‘di sana sangatlah terjal dan susah. Orang yang meringankan bebannya di sana lebih baik daripada orang yang memberatkannya. Kami ingin meringankan beban kami agar kami sampai di rumah kami ‘di sana.”</p>
<p>Abu Darda’ meyakinkan orang tersebut. “Apakah kamu faham dengan maksudku?”</p>
<p>Orang itu menjawab, “Iya, aku faham. Semoga Allah membalas kebaikan padamu.”</p>
<p>****</p>
<p>Pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, Abu Darda’ diminta untuk menjadi gubernur Syam, namun dia enggan. Khalifah Umar terus mendesaknya. Abu Darda’ berkata, “Jika engkau merelakanku untuk pergi kepada mereka sebagai pengajar al-Qur’an dan sunnah nabiNya serta menjadi imam mereka, maka aku akan pergi.” Umar mengabulkan permintaan Abu Darda’. Akhirnya Abu Darda’ pergi ke Damaskus. Sesampainya di Damaskus dia mendapati semua orang terbuai dalam kemewahan dunia, mereka terjerumus ke dalam kenikmatan. Abu Darda’ khawatir dengan keadaan itu. Akhirnya dia menyeru manusia untuk pergi ke masjid dan berkumpul dengannya. Abu Darda’ berdiri di tengah-tengah mereka seraya berkata,</p>
<p>“Wahai penduduk Damaskus, kalian adalah saudaraku seagama. Kalian adalah tetanggaku, kalian adalah penolongku dalam menghadapi musuh. Wahai penduduk Damaskus, apa yang menghalangi kalian untuk mengasihiku serta menerima nasehatku, padahal sedikitpun aku tidak mengharapkan balasan dari kalian. Nasehatku untuk kalian, sedangkan kebutuhanku telah dicukupi oleh orang selain kalian. Mengapa orang-orang bodoh di antara kalian tidak belajar sedangkan para ulama’ telah wafat?”</p>
<p>“Mengapa kalian meninggalkan apa yang diperintah Allah, padahal Allah telah mencukupi semua kebutuhan kalian?! Mengapa kalian mengumpulkan harta yang tidak kalian butuhkan untuk makan? Mengapa kalian membangun rumah yang tidak kalian butuhkan untuk ditinggali? Mengapa kalian mengkhayalkan sesuatu yang tidak mungkin kalian capai? Sebelum kalian ada banyak sekali kaum yang mengumpulkan harta dan mempunyai khayalan-khayalan namun tidak lama setelah itu akhirnya mereka binasa bersama dengan yang mereka kumpulkan. Khayalan mereka tidak tercapai dan rumah-rumah mereka menjadi kuburan.“</p>
<p>“Wahai penduduk Damaskus, lihatlah kaum ‘Ad yang memenuhi dunia dengan harta dan anak mereka. Siapa di antara kalian yang membeli peninggalan ‘Ad dariku dengan dua dirham?”</p>
<p>Akhirnya semua penduduk Damaskus menangis hingga suara tangisan mereka terdengar hingga keluar masjid.”</p>
<p>****</p>
<p>Sejak saat itulah Abu Darda’ selalu mengisi majlis-majlis di Damaskus serta berkeliling ke pasar-pasar mereka. Dia menjawab pertanyaan tiap orang yang bertanya, mengajari orang-orang yang bodoh dan memberi peringatan kepada orang-orang yang lalai.  Abu Darda’ selalu menggunakan kesempatan yang ada. Dan memberi manfaat di setiap acara.</p>
<p>Pada suatu hari Abu Darda’ melewati sekumpulan orang yang menghajar seorang laki-laki. Mereka memukulinya dan mengumpatnya. Abu Darda’ menghadap mereka dan bertanya, “Ada apa ini?” Mereka menjawab, “Ada seorang laki-laki yang melakukan dosa besar.”</p>
<p>Abu Darda’ bertanya, “Bagimana pendapat kalian jika kalian melihat ada orang yang masuk ke dalam sumur. Bukankah kalian akan mengeluarkannya dari sumur itu?”</p>
<p>Mereka menjawab, “Iya, kami akan mengeluarkannya.”</p>
<p>Abu Darda’ berkata, “Kalau begitu, jangan kalian hajar dia, namun berilah peringatan padanya dan tunjukilah jalan yang benar. Ucapkanlah syukur kepada Allah yang membuat kalian tidak terjerumus dalam dosa yang dia lakukan.”</p>
<p>Mereka bertanya pada Abu Darda’, “Apakah engkau tidak membencinya?”</p>
<p>Abu Darda’ menjawab, “Aku hanya membenci perbuatan dosanya. Jika dia meninggalkannya maka dia adalah saudaraku.”</p>
<p>Pemuda yang melakukan dosa itu akhirnya menangis dan mengikrarkan taubatnya.</p>
<p>****</p>
<p>Pada suatu hari ada seorang laki-laki yang menghadap Abu Darda’. Dia berkata, “Wahai sahabat Rasulullah, berilah wasiat kepadaku.”</p>
<p>Abu Darda’ berkata kepadanya, “Wahai anakku, ingatlah Allah ketika engkau dalam keadaan bahagia, niscaya Allah akan mengingatmu di kala engkau sengsara. Wahai anakku, jadilah engkau orang yang belajar, atau mengajar, atau mendengarkan. Janganlah engkau menjadi orang yang keempat (orang yang bodoh), karena engkau akan binasa. Wahai anakku, jadikanlah masjid sebagai rumahmu. Karena aku mendengar Rasulullah bersabda, “Masjid-masjid adalah rumah orang yang bertakwa.” Allah kmenjanjikan kelonggaran dan rahmat kepada orang-orang yang menajdikan masjid sebagai rumah, dan juga akan memudahkan mereka untuk melewati <em>shirotol mustaqim </em> menuju ridl  Allah k.</p>
<p>****</p>
<p>Pada suatu hari ada sekelompok pemuda yang duduk-duduk di jalan. Mereka berbincang-bincang sembari menyaksikan orang-orang yang berjalan. Abu Darda’ menemui mereka dan berkata, “Wahai anak-anakku, sesungguhnya tempat ibadah bagi seorang muslim adalah rumahnya. Karena di dalam rumah dapat menahan dirinya dan menahan pandangannya. Janganlah kalian duduk-duduk di pasar, karena hal itu akan melalaikan kalian dan membuat kalian melakukan hal yang sia-sia.</p>
<p>****</p>
<p>Ketika Abu Darda’ masih tinggal di Damaskus, gubernurnya yang bernama Muawiyah bin Abu Sufyan. mengutus utusan untuk melamar putri Abi Darda’ untuk anaknya yang bernama Yazid. Namun Abu Darda’ tidak mau menikahkan putrinya dengan Yazid. Abu Darda’ justru menikahkannya dengan orang biasa yang beragama dan berakhlak baik.</p>
<p>Hal itu ternyata menjadi pembicaraan manusia. Mereka mengatakan, “Yazid bin Muawiyah bin Abu Sufyan meminang putri Abu Darda’ namun Abu Darda’ menolak pinangannya malah menikahkan putrinya dengan laki-laki biasa dari kalangan kaum muslimin. “</p>
<p>Ada salah seorang yang bertanya kepada Abu Darda’ tentang alasannya. Abu Darda’ menjawab, “Aku melakukan perbuatanku itu karena aku lebih mementingkan kemaslahatan Darda’.”</p>
<p>Penanya itu bertanya, “Bagaimana bisa begitu?”</p>
<p>Abu Darda’ menjawab, “Bagaimana pendapatmu jika Darda’ kelak mempunyai budak-budak yang melayaninya. Darda’ akan terlenakan dengan megahnya istana yang dia tinggali. Pada waktu itu dimanakah dia meletakkan agamanya?”</p>
<p>****</p>
<p>Ketika Abu Darda’ masih tinggal di Damaskus, datanglah khalifah Umar untuk mencari tahu keadaannya. Umar mengunjungi rumah sahabatnya, Abu Darda’ di malam hari. Umar mendorong pintunya, ternyata pintu rumahnya tidak ada gemboknya. Akhirnya Umar masuk ke dalam rumahnya yang sangat gelap dan tidak ada cahayanya sedikitpun. Ketika Abu Darda’ mendengar suara orang yang datang kepadanya, dia langsung bangun. Dia menyambutnya dan mempersilahkannya duduk.</p>
<p>Keduanya saling berbincang dan bertukar pengalaman. Sedangkan gelapnya malam kala itu menghalangi pandangan kedua mata mereka. Umar meraba bantal Abu Darda’ ternyata bantalnya hanyalah kain tipis yang biasa dipakai di atas kendaraan. Ketika Umar meraba kasurnya, ternyata hanya tumpukan kerikil. Ketika Umar meraba selimutnya, ternyata selimutnya hanyalah kain tipis yang  tidak sedikitpun dapat menahan cuaca dingin di Damaskus.</p>
<p>Umar bertanya kepada Abu Darda’, “Semoga Allah menyayangimu, bukankah aku telah mengirimkan harta untukmu?”</p>
<p>Abu Darda’ menjawab, “Wahai Umar, tidakkah engkau ingat hadis Rasulullah kepada kita?”</p>
<p>Umar bertanya, “Apa itu?”</p>
<p>Abu Darda’ menjawab, “Hendaklah harta seseorang di dunia hanyalah seperti perbekalan seorang musafir.”</p>
<p>Umar menjawab, “Iya, aku ingat.”</p>
<p>Abu Darda’ menjawab, “Lalu apa yang harus kita lakukan setelah kita mendengar hadis itu?”</p>
<p>Akhirnya Umar dan Abu Darda’ menangis bersam-sama. Keduanya menangis hingga tiba waktu subuh.</p>
<p>****</p>
<p>Selama tinggal di Damaskus Abu Darda’ selalu memberikan nasehat  pada penduduk Damaskus. Mengajari mereka al-Qur’an dan hikmah hingga ajal datang menjemputnya. Ketika Abu Darda’  menderita sakit yang menghantarkannya pada kematian para sahabatnya menemuinya.</p>
<p>Mereka bertanya, “Apa yang engkau keluhkan?”</p>
<p>Abu Darda’ menjawab, “Aku mengeluhkan dosa-dosaku.”</p>
<p>Mereka bertanya, “Apa yang engkau inginkan?”</p>
<p>Abu Darda’ menjawab, “Yang aku inginkan adalah ampunan Tuhanku.”</p>
<p>Lalu Abu Darda’ berkata kepada orang yang disampingnya, “Talkinlah aku kalimat <em>Lâ ilâha illallah Muhammadur Rasulullah.”</em> Abu Darda’ terus mengulang-ulang kalimat itu hingga ajal datang menjemputnya.</p>
<p>Ketika Abu Darda’ meninggal Auf bin Abdul Malik al-Asyja’i melihat tanah lapang yang hijau, sangat luas dan bertumbuh-tumbuhan hijau. Di dalam tanah tersebut terdapat tenda besar dari kulit, di sekelilingnya terdapat kambing-kambing yang sedang menderum. Pemandangannya sama sekali belum pernah terlihat mata.”</p>
<p>Auf bin Abdul Malik bertanya, “Milik siapakah ini?” lalu ada orang yang berkata, “Itu milik Abdurrahman bin Auf.”</p>
<p>Lalu Abdurrahman bin Auf keluar dari tendan dan berkata, “Wahai Ibnu Malik, ini adalah pemberian Allah kepada kami karena al-Qur’an. Jika engkau menghadapkan ini ke jalan pasti engkau akan melihat sesuatu yang belum terlihat oleh mata, engkau akan mendengar apa yang belum pernah engkau dengar, engkau akan menemukan sesuatu  yang belum pernah terlintas dalam hatimu.”</p>
<p>Ibnu Malik bertanya, “Untuk siapakah itu semua wahai Abdurrahman bin Auf?” Abdurrahman bin Auf menjawab, “Allah menyiapkannya untuk Abu Darda’ karena dia menolak dunia dengan dua telapak tangan dan dadanya.”<a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<hr size="1" />
<p><a href="#_ftnref1">[1]</a> Untuk lebih jelas mengetahui sejarah Abu Darda’ silahkan baca kitab,</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>-          al-Ishabah at-Tarjamah</p>
<p>-          al-Istî’ab juz 3 halaman 15 dan juz 4 halaman 159</p>
<p>-          Usdul Ghabah juz 4 halaman 159</p>
<p>-          Hilyatul Auliya’ juz 1 halaman 308</p>
<p>-          Husnus Shahabah halaman 218</p>
<p>-          Sifatus Shafwah juz 1 halaman 257</p>
<p>-          Târikhul Islam karya adz-Dzahabi juz 2 halaman 107</p>
<p>-          Hayâtus Shahabah lihat daftar isi</p>
<p>-          Al-Kawâkib ad-Duriyyah juz 1 halaman 45</p>
<p>-          Al-A’lam karya az-Zarakli juz 5 halaman 281</p>
<p>﻿</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/masjidalkhoir.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/masjidalkhoir.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/masjidalkhoir.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/masjidalkhoir.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/masjidalkhoir.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/masjidalkhoir.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/masjidalkhoir.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/masjidalkhoir.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/masjidalkhoir.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/masjidalkhoir.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/masjidalkhoir.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/masjidalkhoir.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/masjidalkhoir.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/masjidalkhoir.wordpress.com/52/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masjidalkhoir.wordpress.com&amp;blog=2497400&amp;post=52&amp;subd=masjidalkhoir&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://masjidalkhoir.wordpress.com/2010/04/12/abu-darda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ee8cc406cd6f4a6330c45ca64d20ace7?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">masjidalkhoir</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Imam Bukhori</title>
		<link>http://masjidalkhoir.wordpress.com/2010/02/17/imam-bukhori/</link>
		<comments>http://masjidalkhoir.wordpress.com/2010/02/17/imam-bukhori/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Feb 2010 04:21:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>masjidalkhoir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Biografi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masjidalkhoir.wordpress.com/?p=48</guid>
		<description><![CDATA[Muhammad Ibnu Abi Hatim berkata, “Saya terilham/menghafal hadits ketika masih dalam asuhan belajar.” Lalu saya bertanya, “Umur berapakah anda pada waktu itu?” Beliau menjawab, “Sepuluh tahun atau kurang.” (Riwayat al-Farbari dari Muhammad Ibnu Abi Hatim, seorang juru tulis al-Imam al-Bukhari). Suatu ketika al-Imam al-Bukhari tiba di Baghdad. Kehadiran beliau didengar oleh para ahlul hadits negeri [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masjidalkhoir.wordpress.com&amp;blog=2497400&amp;post=48&amp;subd=masjidalkhoir&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Muhammad Ibnu Abi Hatim berkata, “Saya terilham/menghafal hadits ketika masih dalam asuhan belajar.” Lalu saya bertanya, “Umur berapakah anda pada waktu itu?” Beliau menjawab, “Sepuluh tahun atau kurang.” (Riwayat al-Farbari dari Muhammad Ibnu Abi Hatim, seorang juru tulis al-Imam al-Bukhari).</p>
<p>Suatu ketika al-Imam al-Bukhari tiba di Baghdad. Kehadiran beliau didengar oleh para ahlul hadits negeri itu. Maka, berkumpullah mereka untuk menguji kehebatan hafalan beliau tentang hadits.<span id="more-48"></span></p>
<p>Syahdan para ulama tersebut sengaja mengumpulkan seratus buah hadits. Susunan, urutan dan letak matan serta sanad seratus hadits tersebut sengaja dibolak-balik. Matan dari sebuah sanad diletakkan untuk sanad lain, sementara suatu sanad dari sebuah matan diletakkan untuk matan lain dan begitulah seterusnya. Seratus buah hadits itu dibagikan kepada sepuluh orang tim penguji, hingga masing-masing mendapat bagian sepuluh buah hadits.</p>
<p>Maka tibalah ketetapan hari yang telah disepakati. Berbondong-bondonglah para ulama dan tim penguji itu, serta para ulama dari Khurasan dan negeri-negeri lain serta penduduk Baghdad menuju tempat yang telah ditentukan.</p>
<p>Ketika suasana majlis telah menjadi tenang, salah seorang dari kesepuluh tim penguji mulai memberikan ujiannya. Beliau membacakan sebuah hadits yang telah dibolak-balik matan dan sanadnya kepada al-Imam al-Bukhari. Ketika ditanyakan kepada beliau, al Imam al-Bukhari menjawab, “Saya tidak kenal hadits itu.” Demikian seterusnya satu persatu dari kesepuluh hadits penguji pertama itu dibacakan, dan al-Imam al-Bukhari selalu menjawab, “Saya tidak kenal hadits itu.”</p>
<p>Beberapa ulama yang hadir saling berpandangan seraya bergumam, “Orang ini berarti faham.” Akan tetapi ada di kalangan mereka yang tidak mengerti, hingga menyimpulkan bahwa al-Imam al-Bukhari terbatas pengetahuannya dan lemah hafalannya.</p>
<p>Orang kedua maju. Beliau juga melontarkan sebuah hadits yang telah dibolak-balik sanad dan matannya, yang kemudian dijawab pula, “Saya tidak kenal hadits itu”. Begitulah, orang kedua ini pun membacakan sepuluh hadits yang menjadi bagiannya, dan seluruhnya dijawab beliau, “Saya tidak kenal hadist itu.”</p>
<p>Begitulah selanjutnya orang ketiga, keempat, kelima hingga sampai orang kesepuluh, semuanya membawakan masing-masing sepuluh hadits yang telah dibolak-balik matan dan sanadnya. Dan al-Imam al-Bukhari memberikan jawaban tidak lebih daripada kata-kata, “Saya tidak kenal hadits itu.”</p>
<p>Setelah semuanya selesai menguji, beliau kemudian menghadap orang pertama seraya berkata, “Hadits yang pertama anda katakan begini, padahal yang benar adalah begini, lalu hadits anda yang kedua anda katakan begini padahal yang benar seperti ini. Begitulah seterusnya hingga hadits kesepuluh disebutkan oleh beliau kesalahan letak sanad serta matannya, dan kemudian dibetulkannya kesalahan itu hingga semua sanad dan matannya menjadi benar kedudukannya.</p>
<p>Demikian pula seterusnya yang dilakukan oleh al-Bukhari kepada para penguji berikutnya hingga sampai kepada penguji kesepuluh. Maka, orang-orang pun lantas mengakui serta menyatakan kehebatan hafalan serta kelebihan beliau. Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani mengatakan, “Yang hebat bukanlah kemampuan al-Bukhari dalam mengembalikan kedudukan hadits-hadits yang salah, sebab beliau memang hafal, tetapi yang hebat justru hafalnya beliau terhadap kesalahan yang dilakukan oleh para penguji tersebut secara berurutan satu persatu hanya dengan sekali mendengar.”</p>
<p>Siapakah al-Imam al-Bukhari</p>
<p>Beliau adalah Abu Abdillah, bernama Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah al-Ja’fi. Kakek moyang Bardizbah (begitulah cara pengucapannya menurut Ibnu Hajar al-‘Asqalani) adalah orang asli Persia. Bardizbah, menurut penduduk Bukhara berarti petani. Sedangkan kakek buyutnya, al-Mughirah bin Bardizbah, masuk Islaam di tangan al-Yaman al-Ja’fi ketika beliau datang di Bukhara. Selanjutnya nama al-Mughirah dinisbatkan (disandarkan) kepada al-Ja’fi sebagai tanda wala’ kepadanya, yakni dalam rangka mempraktekkan pendapat yang mengatakan, bahwa seseorang yang masuk Islam, maka wala’nya kepada orang yang mengislamkannya.</p>
<p>Adapun mengenai kakeknya, Ibrahim bin al-Mughirah, Ibnu Hajar al-‘Asqalani mengatakan, “Kami tidak mengetahui (menemukan) sedikit pun tentang kabar beritanya.” Sedangkan tentang ayahnya, Ismail bin Ibrahim, Ibnu Hibban telah menuliskan tarjamah (biografi)-nya dalam kitabnya ats-Tsiqat (orang-orang yang tsiqah/terpercaya) dan beliau mengatakan, “Ismail bin Ibrahim, ayahnya al-Bukhari, mengambil riwayat (hadits) dari Hammad bin Zaid dan Malik. Dan riwayat Ismail diambil oleh ulama-ulama Irak.” Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani juga telah menyebutkan riwayat hidup ismail ini di dalam Tahdzibut Tahdzib. Ismail bin Ibrahim wafat ketika Muhammad (al-Bukhari) masih kecil.</p>
<p>Kelahiran Dan Wafatnya</p>
<p>Dilahirkan di Bukhara, sesudah shalat Jum’at pada tanggal 13 Syawal 194 H. Beliau dibesarkan dalam suasana rumah tangga yang ilmiah, tenang, suci dan bersih dari barang-barang haram. Ayahnya, Ismail bin Ibrahim, ketika wafat seperti yang diceritakan oleh Muhammad bin Abi Hatim, juru tulis al-Bukhari, bahwa aku pernah mendengar Muhammad bin Kharasy mengatakan, “Aku mendengar bahwa Ahid Hafs berkata, “Aku masuk menjenguk Ismail, bapaknya Abu Abdillah (al-Bukhari) ketika beliau menjelang wafat, beliau berkata, “Aku tidak mengenal dari hartaku barang satu dirham pun yang haram dan tidak pula satu dirham pun yang sybhat.”</p>
<p>Al-Bukhari wafat di Khartank sebuah desa di negeri Samarkhand, malam Sabtu sesudah shalat Isya’, bertepatan dengan malam Iedul fitri, tahun 256 H dan dikuburkan pada hari Iedul Fitri sesudah shalat Zhuhur. Beliau wafat dalam usia 62 tahun kurang 13 hari dengan meninggalkan ilmu yang bermanfaat bagi seluruh kaum muslimin, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wan Nihayah.</p>
<p>Pertumbuhan Dan Perkembangannya</p>
<p>Ketika ayahnya wafat, beliau masih kecil, sehingga beliau besar dan dibesarkan dalam asuhan ibunya. Beliau mencari ilmu ketika masih kecil dan pernah menceritakan tentang dirinya seperti disebutkan oleh al-Farbari dari Muhammad bin Abi Hatim. Muhammad bin Abi Hatim berkata, “Aku pernah mendengar al-Bukhari mengatakan, “Aku diilhami untuk menghafal hadits ketika masih dalam asuhan mencari ilmu.” Lalu aku bertanya, “Berapa umur anda pada waktu itu?” Beliau menjawab, “Sepuluh tahun atau kurang… dan seterusnya hingga perkataan beliau, “Ketika aku menginjak umur enam belas tahun, aku telah hafal kitab-kitab karya Ibnul Mubarak dan Wakil. Dan aku pun tahu pernyataan mereka tentang Ash-hab (Ahlu) ra’yu”. Beliau berkata lagi, “Kemudian aku berangkat haji bersama ibuku dan saudaraku, setelah menginjak usia delapan belas tahun, aku telah menyusun kitab tentang sahabat dan tabi’in. Kemudian menyusun kitab tarikh di Madinah di samping kuburan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika malam terang bulan.” Beliau melanjutkan perkataannya, “Dan setiap kali ada nama dalam at-Tarikh tersebut, pasti aku mempunyai kisah tersendiri tentangnya, tetapi aku tidak menyukai jika kitabku terlalu panjang.”</p>
<p>Semenjak kecil beliau sibuk menggali ilmu dan mendengarkan hadits dari berbagai negeri, seperti di negerinya sendiri. Dan beliau telah beberapa kali mengunjungi Baghdad, hingga penduduk di sana mengakui kelebihannya dan penguasaannya terhadap ilmu riwayah dan dirayah.</p>
<p>Begitulah, singkatnya beliau telah mengunjungi berbagai kota di Irak dalam rangka mencari ilmu hadits dari tokoh-tokoh negeri tersebut, misalnya Bashrah, Balkh, Kufah dan lain-lain. Beliau telah mendengarkan dan menggali hadits dari sejumlah banyak tokoh pembawa hadits. Diriwayatkan oleh Muhammad bin Abi Hatim, bahwasanya beliau berkata, “Aku tidak pernah menulis melainkan dari orang-orang yang mengatakan bahwa al-Iman adalah ucapan dan tindakan.”</p>
<p>Jumlah Hadits Yang Dihafal</p>
<p>Muhammad bin Hamdawaih mengatakan, “Aku mendengar al-Bukhari berkata, bahwa aku hafal seratus ribu hadits shahih dan dua ratus ribu hadits tidak shahih.”</p>
<p>Kitab-Kitab Yang Disusun</p>
<p>Yang paling pokok adalah kitab al-Jamiush shahih (Shahihul Bukhari) yaitu kitab hadits tershahih diantara kitab hadits lainnya. Selain itu beliau menyusun juga ktiab al-Adabul Mufrad, Raf’ul Yadain fish Shalah, al-Qira’ah khalfal Iman, Birrul Walidain, at-Tarikh ash-Shagir, Khalqu Af’aalil ‘Ibaad, adl-Dlu’afa (hadits-hadits lemah), al-Jaami’ al-Kabir, al-Musnad al-Kabir, at-Tafsir al-Kabir, Kitabul Asyribah, Kitabul Hibab, Asaami ash-Shahabah (Nama-nama para shahabat) dan lain sebagainya.</p>
<p>Contoh Kekaguman Orang Terhadap Al-Bukhari</p>
<p>Al-Imam al-Bukhari rahimahullah, merupakan barometer bagi guru-gurunya dan manusia yang tahu dan hidup pada zamannya maupun sesudahnya. al-Imam al-Hafizh adz-Dzahabi dan al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani telah menyebutkan secara khusus tentang pujian dan jasa-jasa beliau dalam kitabnya masing-masing. Adz-Dzahabi dalam Tadzkiratul huffaazh dan Ibnu Hajar dalam Tahdzibut Tahdzib.</p>
<p>Berikut ini beberapa contoh pujian dan kekaguman mereka. Muhammad bin Abi Hatim mengatakan, bahwa aku mendengar Yahya bin Ja’far al-Baikundi berkata, “Seandainya aku mampu menambahkan umur Muhammad bin Ismail (al-Bukhari) dengan umurku, niscaya aku lakukan sebab kematianku hanyalah kematian seorang sedangkan kematiannya berarti lenyapnya ilmu.”</p>
<p>Raja’ bin Raja’ mengatakan, “Dia, yakni al-Bukhari, merupakan satu ayat di antara ayat-ayat Allah yang berjalan di atas permukaan bumi.”</p>
<p>Abu Abdullah al-Hakim dalam Tarikh Naisabur berkata, “Dia adalah Imam Ahlul hadits, tidak ada seorang pun di antara Ahlul Naql yang mengingkarinya.”</p>
<p>Shahihul Jami’ Atau Shahih Bukhari</p>
<p>Seluruh hadits yang termuat di dalamnya adalah hadits-hadits shahih yang telah tetap dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan semua Mu’allaqaat dalam Shahih al-Bukhari dinyatakan shahih oleh para ulama Ahlul hadits. Adapun contoh pernyataan ulama tentang Shahih al-Bukhari seperti dikatakan al-Hafizh Ibnu Katsir dalam al-Bidaayah wan Nihaayah, “Para ulama telah bersepakat menerimanya (yakni Shahihul Bukhari) dan menerima keshahihan apa-apa yang ada di dalamnya, demikian pula seluruh ahlul Islam.”</p>
<p>Jadi di samping Shahih Muslim, Shahih al-Bukhari adalah kitab tershahih nomor dua setelah al-Qur’an sebagaimana disebutkan dan disepakati oleh para ulama, di antaranya oleh as-Subakti.</p>
<p>Terusirnya Imam Al-Bukhari Dari Bukhara</p>
<p>Ghonjar mengatakan dalam kitab Tarikhnya, “Aku mendengar Ahmad bin Muhammad bin Umar berkata, “Aku mendengar Bakar bin Munir mengatakan, “Amir Khalid bin Ahmad Adz-Dzuhail, amir penguasa Bukhara, mengirim utusan kepada Muhammad bin Ismail, yang isinya, “Bawalah padaku kitab Jaami’ush Shahih dan at-Tarikh supaya aku bisa mendengar dari kamu.” Maka, berkatalah al-Bukhari kepada utusan tersebut, “Katakanlah kepadanya bahwa sesungguhnya aku tidak akan merendahkan ilmu dan aku tidak akan membawa ilmuku itu ke hadapan pintu para sultan. Apabila dia butuh (jika ilmu itu dikehendaki), maka hendaknya dia datang kepadaku di masjidku atau di rumahku. Kalau hal ini tidak menyenangkan wahai sultan, maka laranglah aku untuk mengadakan majlis ilmu, supaya pada hari kiamat aku punya alasan di hadapan Allah bahwa aku tidak menyembunyikan ilmu.” Ghonjar mengatakan, “Inilah yang menyebabkan terjadinya krisis di antara keduanya.”</p>
<p>Al-Hakim berkata, “Aku mendengar Muhammad bin al-‘Abbas adh-Dhobby mengatakan, “Aku mendengar Abu Bakar bin Abu Amr berkata, “Perginya Abu Abdillah al-Bukhari dari negeri Bukhara disebabkan Khalid bin Ahmad Khalifah bin Thahir meminta beliau untuk hadir di rumahnya supaya membacakan kitab at-Tarikh dan al-Jaami’ush Shahih kepada anak-anaknya, tapi beliau menolak. Beliau katakan, “Aku tidak mempunyai waktu jika hanya orang-orang khusus yang mendengarkannya (mendengarkan ilmuku, pen). Maka Khalid bin Ahmad meminta tolong kepada Harits bin Abi al-Warqa` dan lainnya dari penduduk Bukhara untuk bicara mempermasalahkan madzhabnya. Akhirnya Khalid bin Ahmad mengusir beliau dari Bukhara.</p>
<p>Demikianlah sekelumit tentang Imam Bukhari, beliau juga pernah difitnah sebagai orang yang mengatakan, bahwa bacaanku terhadap al-Qur’an adalah makhluk. Padahal beliau tidak mengatakan demikian dan bahkan secara tegas beliau membantah bahwa orang yang membawa berita tersebut adalah pendusta. Beliau bahkan mengatakan, “Bahwa al-Qur’an adalah kalamullah bukan makhluk, sedangkan perbuatan-perbuatan hamba adalah makhluk.” (lihat Hadyu as-Sari Muqadimah Fathul Bari bagian akhir halaman 490-491). Wallahu a’lam.</p>
<p><em><strong>(SUMBER: Majalah as-Sunnah, no.02/Th.I, Jumada Tsani-Rajab 1413 H/Desember 1992 M, diterjemahkan dan disusun oleh Ahmas Faiz dengan sedikit perubahan)</strong></em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/masjidalkhoir.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/masjidalkhoir.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/masjidalkhoir.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/masjidalkhoir.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/masjidalkhoir.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/masjidalkhoir.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/masjidalkhoir.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/masjidalkhoir.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/masjidalkhoir.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/masjidalkhoir.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/masjidalkhoir.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/masjidalkhoir.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/masjidalkhoir.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/masjidalkhoir.wordpress.com/48/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masjidalkhoir.wordpress.com&amp;blog=2497400&amp;post=48&amp;subd=masjidalkhoir&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://masjidalkhoir.wordpress.com/2010/02/17/imam-bukhori/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ee8cc406cd6f4a6330c45ca64d20ace7?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">masjidalkhoir</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
