Masjid Al-Khoir

Januari 15, 2008

Tawakal Bukan Pasrah

Filed under: Al-Ilmu — masjidalkhoir @ 4:07 am

Musibah telah datang menimpa tanah air kita secara silih berganti. Dimulai dari tsunami, gempa bumi, kelaparan, flu burung, lumpur panas, pesawat hilang, kapal tenggelam, angina puting beliung dan angin topan, ini merupakan ujian dari Allah SWT terhadap keimanan seorang muslim. Apakah mereka mampu untuk tegar dan sabar dalam menghadapi semua musibah ini ataupun sebaliknya.

Sebenarnya islam telah memberikan selusi kepada kita untuk masalah ini, coba renungkanlah sabda Rosulullah Saw.

Sangat menakjubkan perkara seorang muslim. Semua perkaranya adalah baik. Tidaklah hal itu dimiliki kecuali bagi orang mukmin. Yaitu jika ia menerima nikmat dia bersyukur ini baik untuknya dan jika tertimpa musibah ia bersabar dan ini juga baik baginya. ( HR. Muslim )

Kewajiban lain setelah bersabar bagi seorang mukmin ketika menghadapi musibah adalah tawakal kepada Allah. Dengan bertawakal seorang mukmin akan mendapatkan jalan keluar dan kemudahan dalam menghadapi semua musibah dari Allah.

 

Pengertian Tawakal :

Tawakal adalah menyerahkan semua urusan kepada pihak lain atau menggantungkan kepadanya. Hal ini disebabkan karena ia percaya penuh kepada yang diserahi karena ia tidak mampu menangani sendiri. ( lihat an Nihayah fi Gharibil hadist, Ibnu Atsir, 5/221 ).

Imam Ibnu Rajab berkata : “ Hakekat tawakal adalah hati benar – benar bergantung kepada Allah SWT guna memperoleh maslahat dan menolak madharat dari urusan dunia dan akherat dan menyerahkan semua urusankepada-Nya.” ( Jami’ul Ulum wal Hikam, hal. 588, hadist no. 49 ).

Syaikh Ibnu Utsaimin berkata : “ Tawakal adalah menyandarkan permasalahan kepada Allah dalam mengupayakan yang dicari dan menolak apa – apa yang tidak disenangi disertai percaya penuh kepada Allah dan menempuh sebab yang diizinkan syariat.”

 

 

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa tawakal mempunyai dua syarat:

1.      Penyandaran tawakal kepada Allah dengan sebenar – benarnya.

2.      Harus menempuh sebab yang diizinkan syariat

 

Urgensi Tawakal

Tawakal adalah seeparuh agama. Separuh lainnnya adalah inabah. Sebab agama tiu terdiri dari isti’anah dan ibadah. Tawakal adalah isti’anah sedangkan inabah adalah ibadah. Bahkan merupakan peribadatan semata – mata dan tuhid murni, jika pelakunya benar – benar melaksanakannya. ( lihat Madarijus salikin, ibnu Qayyim, 2/118 )

Dalil Tawakal

Allah berfirman dalam Q.S.An-Nisa’ : 81 yang artinya:

Dan tawakallah kepada Allah. Cukuplah Allah menjadi pelindung. (Q.S.An-Nisa’ : 81 ).

Kemudian apabila kamu telah membuat tekad, maka bertawallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang – orang yang bertawakal kepada-Nya. ( Q.S. Ali- Imran :159 ).

Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal. Jika kamu benar – benar orang yang beriman. (Q.S. Al- Maidah : 23 ).

Rasullullah SAW bersabda :

Akan masuk surga dari umatku tujuh puluh ribu orang tanpa hisab dan siksa, mereka adalah orang orang yang tidak minta ruqyah, tidak menyandarkan kesialan kepada burung dan sejenisnya, tidak berobat dengan besi panas dan mereka bertawakal kepada Rabb mereka. ( H.R. Muslim ).

 

Tawakal Bukan Pasrah

Banyak orang yang menyangka bahwa tawakal itu adalah pasrah secara keseluruhan, maka ini adalah anggapan yang tidak benar. Akan tetapi seorang mukmin jika beribadah kepada Allah mereka bertawakal, tetapi tidak seperti yang dipahami oleh orang-orang yang bodoh yakni tawakal adalah sekedar ucapan di bibir tanpa dipahami akal, membuang sebab-sebab, tidak mau kerja, merasa puas dengan kehinaan dibawah bendera tawakal kepada Allah ta’ala, dan ridlho dengan takdiryang terjadi padanya. Bahkan seorang mukmin memahami bahwa tawakal itu merupakan bagian dari imannya dan aqidah ialah ta’at kepada Allah dengan menghadirkan semua sebab yang diperlukan dalam semua perbuatan yang hendak ia kerjakan. Ia tidak berambisi kepada buah tanpa memberikan sebab sebabnya. Perhatikan dalil-dalil berikut

Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.(Qs.Thalaq:3)

Dalam ayat ini Allah berjanji akan memberikan kecukupan kepada orang-orang yang bertawakal termasuk rizki. Apakah artinya seseorang tidak berupaya dan tidak kerja lantas tiba-tiba memperoleh rizki dari langit ? Apakah ada orang yang berkeinginan memiliki anak tetapi tidak pernah mengumpuli istrinya diberi anak ? Tentu tidak demikian.

Orang yang ingin terpenuhi kebutuhannya harus bekerja, sama halnya orang yang ingin punya anak harus beristri dan mengumpuli istrinya. Jadi Allah memberi rizki kepada seseorang dengan upaya usaha yang telah diupayakannya.

Rosulullah SAW juga bersabda yang artinya :

Dari umar bin khathab, rasulullah bersabda, “Andaikan kalian tawakal kepada Allah dengan sebenarnya niscaya Allah akan memberi rizki kepada kalian seperti memberi rizki kepada burung. Mereka pergi pagi dengan perut kosong dan pulang sore dengan perut kenyang”. (Shahih, Tirmidzi 2344 dan berkata,hadist hasan shahih, Ibnu Majah 4164, Ahmad, dishahihkan al Akbani)

Tawakal burung adalah dengan pergi mencari makan pada pagi harinya dan kembali pada sore harinya, maka Allah menjamin dengan memberikan makanan kepada mereka. Burung-burung itu tidak tidur saja disarang sambil menunggu makanan untuk dirinya dan anak-anaknya. Begitu pula seharusnya manusia, apalagi dia diberi kelebihan yang sangat banyak disbanding seekor burung.

Kita telah mengetahui bahwa Nabi SAW adalah orang yang paling bertawakal, contohnya ketika beliau menunggu perintah Allah SWT untuk hijrah ke madinah sebelum sahabat-sahabat terkemuka hijrah kesana, dan betul perintah tersebut dating kepada beliau. Langkah-langkah yang disusun Rosullullah SAW untuk kesuksesan hijrahnya adalah :

1)      memanggil sahabat pilihan yang tidak lain adalah Abu Bakar Ash-Shidiq untuk menemani beliau dalam perjalanan ke negri hijrahnya.

2)      Menyiapkan bekal perjalanan, makana, minuman. Asma’binti Abu Bakar mengikat perbekalan tersebut dengan ikat pinggangnya, hingga kemudian ia dijuluki “wanita yang mempunyai dua ikat pinggang”

3)      Menyiapkan hewan kendaraan yang siap dinaiki dalam perjalanan yang sulit, dan panjang.

4)      Menyertakan seorang penunjuk jalan yang mengetahui jalan – jalan yang sulit agar orang tersebut menjadi pemandu dalam perjalanan yang sulit

5)      Ketika beliau keluar dari rumahnya yang dikepung musuh – musuhnya agar beliau tidak bias keluar daripadanya, maka beliau menyuruh anak pamannya yaitu Ali bin Abi Thalib tidur diranjang untuk mengelabui musuh – musuhnya yang menunggu di luar rumah yang akan membunuhnya. Setelah itu beliau keluar dari rumah dengan tenang tanpa diketahui oleh musuhnya.

6)      Ketika orang – orang musyrikin mengejar beliau, dan sibuk mencari beliau bersama yang ikut bersama beliau, maka beliau masuk ke Gua Tsur dan berlindung diri darinya dari penglihatan mata orang – orang yang mencari dan dendam kepada beliau.

7)      Ketika Abu Bakar berkata : “Seandainya salah seorang diantara mereka melihat di bawah kakinya, mereka pasti bias melihat kita, Wahai Rasulullah !” maka Rasulullah bersabda : “Bagaimana dugaanmu terhadap dua orang, wahai Abu Bakar, bahwa pihak ketiga adalah Allah?”

Demikianlah pembahasansingkat tentang tawakal yang benar menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah yang benar menurut salafus shalih. Semoga bias menjadikan pemahaman kita benar tentangnya dan menjadikan kita termasuk orang – orang yang tawakal kepada Allah dengan sebenar – benar tawakal.

Wallahu ’Alam

About these ads

2 Komentar

  1. Tingkan kanlah agar allah menyayangi mu

    Komentar oleh Jou_an — Februari 5, 2009 @ 10:54 am

  2. semoga Alloh memberkahi kita semua..Amin

    Komentar oleh Tri AGus Djoko Kuntjoro — Agustus 25, 2010 @ 11:14 pm


Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini.

The Rubric Theme. Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: