“Ya Allah, jika Engkau mencegahku dari kebaikan ini, janganlah Engkau mencegah anakku, Said dari kebaikan ini.”
Zaid bin Amir bin Nufail berdiri jauh dari keramaian manusia. Dia menyaksikan hari raya Orang Quraisy yang berbeda dengan hari rayanya. Dia melihat ada orang yang memakai surban yang sangat mahal di kepala mereka. Mereka saling membangga-banggakan pakaian-pakaian mereka dari Yaman yang sangat mahal. Dia juga menyaksikan para wanita dan anak-anak mengenakan baju dan sutra yang sangat indah dan berharga.
Zaid juga menyaksikan hewan-hewan ternak yang dihias dengan berbagai hiasan digiring oleh para tawanan, hewan-hewan ternak itu akan disembelih dan dijadikan persembahan untuk tuhan mereka.
Zaid berdiri menyandarkan punggungnya ke dinding Ka’bah. Dia berkata,
“Wahai orang-orang Quraisy, kambing itu diciptakan oleh Allah. Dialah Yang menciptakan hujan kemudian kambing kalian menjadi kenyang dengan turunnya hujan. Dari air hujan tumbuhlah rerumputan yang dimakan oleh hewan kalian hingga kenyang. Namun setelah itu kalian menyembelihnya untuk selain Allah. Sungguh aku melihat bahwa kalian adalah kaum yang bodoh.”
Hal itu memancing kemarahan Khattab, ayah Umar bin Khattab. Dia berdiri dan memukulnya kemudian berkata, “Celakalah kamu! Kami tahan kesabaran kami mengucapkan perkataan bodoh itu, dan ketika kau mengatakan hal ini kesabaran kami hilang.” Khattab memprovokasi orang-orang bodoh di antara kaumnya. Akhirnya mereka menyiksa Zaid dan terus menyiksanya hingga membawanya ke gunung hira’. Khattab menyerahkan Zaid kepada pemuda dari Quraisy. Khattab memerintahkan mereka agar menghalang-halangi Zaid untuk masuk ke Makkah. Namun Zaid berhasil masuk ke Makkah secara sembunyi-sembunyi. (lagi…)
